suplemenGKI.com
Angel

Angel

Lukas 1:26-38

“Berkat yang Didapat melalui Malaikat”

Kalau kemarin kita merenungkan bagaimana malaikat menemui seorang yang sudah lanjut umurnya, hari ini kita akan merenungkan bagaimana malaikat menemui seorang yang masih belia. Ada banyak berkat yang bisa kita dapat melalui perenungan atas berita yang dibawa malaikat itu. Mari kita perhatikan dengan seksama

 - Identitas diri seperti apakah yang Saudara miliki di mata Saudara sendiri? Bagaimana dengan di hadapan sesama? Bagaimana pula di hadapan Allah?

- Identitas seperti apakah yang dikatakan malaikat tentang diri Maria?

 Renungan

Kalau kita mempelajari semua hal yang berkaitan dengan Maria, tunangan Yusuf ini, maka kita akan tahu bahwa Maria adalah gadis darah biru, sebab ia keturunan Daud. Meski demikian, kehidupan sehari-harinya sangat jauh dari gemerlap istana. Sekalipun Maria keturunan sah seorang raja, namun ia tinggal di pedalaman dan menjadi gadis desa sederhana cenderung papa. Dalam latar belakang kehidupan seperti inilah malaikat Gabriel datang menyapa, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Dari sapaan Gabriel ini, kita dapat melihat siapa Maria di hadapan Allah.

Pertama, Maria adalah orang yang mendapatkan karunia, “… engkau yang dikaruniai…”. Kadang kita berpikir bahwa orang yang mendapat karunia Allah pastilah hidupnya berkelimpahan. Pemahaman ini tidak sesuai dengan realita di dalam Alkitab. Maria hidup dalam keadaan sederhana, bahkan mungkin juga kekurangan, tapi ia disebut malaikat Gabriel sebagai orang yang mendapatkan karunia Allah. Sebab Maria dipilih Allah untuk menjadi alat-NYA. Karunia itu tidak diukur dari seberapa banyak berkat yang kita terima, melainkan seberapa banyak kita terlibat dalam rencana-NYA.

Kedua, Maria adalah orang yang disertai Allah, “… Tuhan menyertai engkau.” Kadang kita berpikir bahwa orang yang disertai Tuhan pastilah jalan hidupnya lancar. Pemahaman ini uga tidak sesuai dengan realita di dalam Alkitab. Keadaan Maria sebagai gadis desa yang sederhana, walau ia adalah keturunan raja, menunjukkan bahwa jalan hidupnya tidak lancar. Tapi itu tidak berarti bahwa Tuhan meninggalkan dia. Ada banyak tokoh Alkitab yang mengalami keterpurukan hidup, padahal ia tidak sedang ditinggalkan Tuhan. Penyertaan Tuhan justru semakin jelas pada waktu kita mengalami keterpurukan, sama seperti tuntunan cahaya semakin jelas kelihatan ketika kita berada dalam kegelapan. Gideon juga adalah orang yang disapa malaikat dengan frasa yang sama, “Tuhan menyertai engkau”, justru ketika ia sedang bekerja sehari-hari di tempat yang tersembunyi agar tidak ketahuan musuh. Penyertaan Tuhan itu tidak terkait dengan kelancaran jalan hidup kita, melainkan kelancaran rencana Tuhan di dalam dan melalui hidup kita.

Ketiga, Maria adalah orang yang menaklukan diri di hadapan Tuhan, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Bukti kesadaran kita terhadap kedua konsep di atas, akan terwujud dalam gaya hidup yang penuh penyerahan kepada kehendak dan rencana Tuhan. Kita tidak mungkin memiliki hati sebagai hamba seperti Maria bila kita terus mengejar berkat yang dapat kita terima, bukan seberapa banyak kita terlibat dalam rencana-NYA. Hati sebagai hamba itu juga akan mewujud dalam diri orang yang menyadari bahwa penyertaan Tuhan itu tidak terkait dengan kelancaran hidup kita, tetapi kelancaran rencana Tuhan dalam dan melalui hidup kita.

Bla bla bla

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*