suplemenGKI.com

Hidup Melekat pada Sang Sumber Kebahagiaan

Lukas 6:20-26

 

Pengantar
Seorang pemuda yang cerdas bekerja dengan giat demi menggapai semua mimpinya. Ia bermimpi menjadi seorang yang hebat, kaya raya, dan dipandang oleh banyak orang. Bagi dia, kebahagiaan yang sejati ialah ketika dia hidup kaya raya dan bisa memenuhi semua kebutuhan hidupnya. Ia yakin pada kemampuan yang dimilikinya. Rupanya benar, pemuda ini menjadi orang yang sukses. Ia hidup kaya raya dan menjadi orang yang hebat. Semua hal bisa ia dapatkan dengan uang yang dimilikinya. Tapi saat semua mimpinya telah tercapai, justru hidupnya semakin jauh dari Tuhan dan ia melekatkan hati dan kebahagiaannya pada hartanya. Apakah sikap yang demikian dapat dibenarkan? Mari kita melihat dari bacaan Alkitab kita hari ini.

Pemahaman 

  • Ayat 20-23: Mengapa yang berbahagia ialah mereka yang miskin, lapar, menangis, dan dikucilkan?
  • Ayat 24-26: Mengapa orang yang kaya, kenyang, tertawa, dan dipuji dikatakan celaka?

Orang-orang yang miskin, lapar, menangis, dan dikucilkan adalah orang-orang yang dianggap tidak berbahagia oleh dunia ini. Namun, pandangan ini berbeda dengan pandangan Yesus. Di depan murid-murid-Nya, Ia menyampaikan bahwa yang berbahagia ialah orang yang miskin, lapar, menangis dan dikucilkan karena Dia. Penyebutan ‘miskin, lapar, menangis dan dikucilkan’ menjadi representasi atas orang-orang yang mengalami penderitaan lain di dunia ini. Mengapa mereka disebut berbahagia? Sebab orang-orang yang seperti itulah yang hidupnya melekat dengan Tuhan. Dalam penderitaannya, mereka terus berpengharapan pada Allah dan menantikan kehadiran Allah untuk menolong. Dalam hidupnya mereka merasa bahagia sebab mereka memiliki Allah yang tidak akan meninggalkan mereka sekalipun keadaan sulit. Pada mereka Allah menjanjikan Kerajaan Allah dan upah yang besar di Sorga!

Berbeda dengan orang kaya, kenyang, tertawa dan dipuji seperti yang dikatakan dalam ayat 24-26, mereka adalah orang-orang yang terkutuk. Mengapa demikian? Dalam ayat 24 dikatakan “karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu…”. Mereka tidak merasa membutuhkan Tuhan sebab mereka telah dihibur oleh kekayaan dan kesenangan-kesenangan duniawi yang mampu diraihnya. Kekayaan juga kerap kali tidak dipahami sebagai anugerah. Akhirnya, dengan kekayaan tersebut seseorang bisa kehilangan pengharapannya pada Allah. Ia tidak lagi hidup melekat pada Tuhan, tetapi pada kekayaannya. Orang yang demikian adalah orang yang jauh dari Tuhan dan tentu hidupnya berujung pada kebinasaan.

Dari apa yang Yesus sampaikan, kita dapat melihat bahwa kebahagiaan yang sejati bukanlah saat kita memiliki harta, jabatan tinggi, atau kekuasaan. Kebahagiaan yang sejati ialah saat kita hidup bergantung pada Tuhan dan dekat pada Tuhan dalam kondisi apapun. Sebab Tuhanlah Sang Sumber Hidup dan Kebahagiaan itu. Jadi jangan pernah biarkan diri kita melekat pada materi dan hal duniawi yang kita miliki. Kita harus terus melekat pada Sang Sumber Kebahagiaan itu, supaya kita mendapatkan kebahagiaan yang sejati sekalipun badai hidup tidak berhenti.

Refleksi
Bayangkan anda sedang duduk di depan TV yang memutar kembali rekaman-rekaman kehidupan saudara hingga hari ini. Mana yang lebih membahagiakan saudara, momen saat saudara menyadari bahwa saudara memiliki Tuhan dalam hidup saudara atau momen saat saudara mendapatkan harta atau hal-hal material lainnya? 

Tekadku
Tuhan, mampukan aku untuk terus hidup melekat pada-Mu dan tidak menggantungkan kebahagiaanku pada materi dan kemampuan yang aku miliki sebab kebahagiaan yang sejati hanya ada pada-Mu. 

Tindakanku
Aku tidak mengukur kebahagiaan dari jumlah materi atau ukuran duniawi. Tapi selalu belajar bersyukur atas apa yang kumiliki dan selalu bergantung pada Tuhan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«