suplemenGKI.com

Yohanes 6:51-58

YESUS SANG ROTI HIDUP

PENGANTAR
Yesus Sang Roti Hidup merupakan tema pokok dari keseluruhan Yohanes pasal enam.  Tema ini disusun dengan cara yang cerdas dan menarik sejak awal pasal.  Dimulai dengan mukjizat penggandaan roti yang mengenyangkan orang banyak (6:1, dst.), dan dilanjutkan dengan percakapan mengenai manna, roti dari sorga yang mengenyangkan umat Allah selama di padang gurun (6:25, dst.).  Semua itu dipakai oleh Yesus untuk menegaskan bahwa “… sesungguhnya bukan Musa, … melainkan Bapa-Ku yang memberikan roti yang benar dari sorga” (ay.32), dan “… yang memberi hidup kepada dunia” (ay.33). Dalam konteks inilah Yesus mengatakan kepada mereka, ”Akulah roti hidup” (ay.35, 48, 51, dan 58). Dengan ungkapan, ”Akulah roti hidup”, Yesus menunjuk diri-Nya sendiri sebagai Hikmat Allah dan sebagai Firman Allah yang datang ke dalam kehidupan manusia. Gagasan ini ditegaskan oleh Petrus ketika ia berkata kepada Yesus, ”Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal” (ay.68).

PEMAHAMAN

  • Ay. 51, 58.   Apa yang diajarkan Yesus mengenai diri-Nya sebagai roti hidup? Apa yang membedakan-Nya dengan roti-roti yang telah mereka kenal sebelumnya?
  • Ay. 52-55.    Apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan hidup yang kekal? Apa artinya makan daging/ tubuh Kristus dan minum darah Kristus? Bagaimana mewujudkan hal ini dalam kehidupan sehari-hari?
  • Ay. 56-57.    Apa yang dijanjikan Yesus kepada mereka?

Perikop bacaan kita hari ini dibuka dan ditutup dengan gagasan yang sama. Baik ayat 51 maupun ayat 58 menegaskan kembali sebuah gagasan penting yang membedakan kualitas Yesus Sang Roti Hidup dengan kualitas ”roti-roti” yang lain (baik manna maupun roti yang telah mengenyangkan banyak orang itu), ”Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya” (lihat juga ayat 35 dan ayat 47-50).  Yesus memberikan hidup yang kekal, sebuah kualitas hidup yang sanggup mengalahkan penderitaan dan kematian.

Di ayat 52-55 Yesus menjelaskan apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan hidup yang kekal. Tentu saja, kita harus beriman atau percaya kepada-Nya (lihat 6:40). Namun, di bagian ini, iman itu harus diwujudkan dengan ”makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya” (ay. 53).  Tentu saja, ini bukan kanibalisme hurufiah.  Daging dan darah yang disebutkan di sini merujuk kepada inkarnasi Kristus ketika Ia diutus ke dalam dunia (Yoh, 1:14, “Firman itu telah menjadi manusia”).  Jadi iman itu harus diwujudkan dengan mengambil bagian dalam karya Kristus.

Di ayat 56-57 Yesus berjanji kepada setiap orang yang mengambil bagian dalam karya-Nya, “… ia tinggal di dalam Aku, dan Aku di dalam dia” (ay. 56) dan “… akan hidup oleh Aku” (ay. 57). Artinya, Kristus yang mengutus mereka akan selalu menyertai dan menopang kehidupan mereka.

REFLEKSI
Cara terbaik untuk mewujudkan iman kita kepada Kristus, Sang Roti Hidup, adalah dengan mengambil bagian dalam karya-Nya.

TEKADKU
Tuhan, mampukanlah aku untuk mengerjakan tanggung jawab pelayananku dengan penuh sukacita, khususnya ketika menghadapi tantangan dan kesulitan.

TINDAKANKU
Hari ini aku akan berdoa bagi salah seorang rekan pelayanan yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tanggung jawab pelayanannya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«