suplemenGKI.com

Markus 10:17-31.

 

Hidup Yang Bermakna

 

            Bagian ini sering disalah mengerti oleh banyak orang, terutama karena posisi tokoh dalam kisah ini yang adalah seorang yang kaya. Karena sering disalah mengerti maka tidak jarang penilaian terhadap orang kaya kemudian menjadi tidak proporsional. Padahal sesungguhnya yang menjadi inti dari persoalan di dalam diri orang kaya itu bukan soal kekayaan atau jumlah kekayaannya, tetapi persoalan inti sesungguhnya adalah sikap hati dari orang kaya tersebut dalam mengelola kekayaannya, apakah sudah bermakna atau belum bagi pelayanan maupun bagi sesama.

 Pertanyaan-pertanyaan penuntun:

  1. Apa sebenarnya yang dicari atau ingin diketahui oleh orang kaya yang datang kepada Yesus?
  2. Apa yang sebenarnya mendengadalikan hati orang kaya itu?
  3. Bagaimana seharusnya kita hidup dengan harta benda kita di dunia ini?

 

Renungan:

            Pada ayat. 17 dikisahkan, ada seorang yang berlari-lari datang kepada Yesus. Dari aksi yang ditunjukan yaitu berlari-lari untuk berjumpa dengan Yesus, maka sebenarnya orang tersebut sangat membutuhkan Yesus. Jika ia sangat membutuhkan Yesus maka ia sangat ingin tahu makna hidup yang sesungguhnya, yang tidak ia dapatkan di dalam harta kekayaannya yang banyak (Lih. V.22) Beberapa pertanyaan telah Yesus lontarkan kepadanya dan jawabannya luar biasa, yaitu bahwa ia telah melakukan sebagian besar hukum yang diwajibkan oleh taurat (Lih. V. 19-20) Berarti orang kaya ini boleh dikatakan sebagai orang yang taat beragama. Tetapi rupanya itu juga belum memberi makna dalam hidupnya. Dengan demikian kita bisa menyimpulkan bahwa memiliki banyak harta, menjalani hidup keagamaan dengan taat ternyata belum mampu memberi makna sesungguhnya dalam hidup.

            Di ayat 21 Yesus berkata “Juallah apa yang kau miliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku” Apa maksudnya? Yaitu: Pertama:  menyangkut hati yang tidak dikuasai harta benda secara berlebihan. Ketika hati dikuasai harta benda berlebihan maka sulit bagi kita untuk berbagi dengan orang lain, karena kita menilai harta benda itu adalah hal terutama dalam hidup kita. Ke dua: keterikatan pada harta benda berlebihan akan menghalangi kita untuk mengikut Yesus dengan sungguh-sungguh. Artinya jangan sampai harta benda yang banyak menjadi penghambat bagi kita melayani Tuhan. Ke tiga: banyaknya harta tidak lantas membuat kita tidak bisa melayani Tuhan dan mentaati perintah Tuhan, tetapi  dengan banyaknya harta itu seharusnya semakin membuat/mendorong kita mengambil bagian lebih banyak dalam melayani Tuhan. Itulah hidup yang berkelimpahan yang bermakna.

Pernyataan Yesus itu jika dianalisa dengan benar, maka itulah yang bisa mengantar pada makna hidup yang sebenarnya. Tetapi sayang sekali orang kaya itu kemudian pergi meninggalkan Tuhan Yesus dengan sedih. Sebuah situasi kekagalan menemukan makna hidup yang sesungguhnya, yaitu hidup dengan segala kepunyaan untuk memuliakan Tuhan.

Hari ini, kita bersyukur karena ada begitu banyak orang yang diberkati Tuhan dengan kekayaan, tetapi hati mereka tidak dikuasai harta benda, sebaliknya mereka juga dapat memakai harta yang adalah  berkat Tuhan itu untuk melayani dan berbagi dengan sesama. Itulah sebenarnya arti hidup yang sesungguhnya. Perkara masuk surga adalah anugerah Allah yang tidak ada kaitannya dengan  harta benda yang dianugerahkan kepada kita, karena masuk surga hanya dimungkinkan ketika kita menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat kita melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib. Jalani hidup yang bermakna melalui apa yang kita miliki. Tuhan memberkati.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«