suplemenGKI.com

“MENJADI SESAMA BAGI SESAMAKU”

PENGANTAR

Renungan hari ini mengajak kita bukan lagi bertanya dan mempertanyakan siapakah sesamaku manusia? Melainkan bertanya sudahkah aku menjadi sesama bagi sesamaku?

 

PEMAHAMAN

Berdasarkan perumpamaan ini, kapan kita dapat dikatakan telah menjadi sesama bagi orang lain?

 

Perumpamaan ini diawali dengan pertanyaan ahli Taurat, “Siapakah sesamaku manusia?” dan kemudian pertanyaan ini dibalik oleh Yesus dengan bertanya, “Siapakah…yang adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Yesus bertanya dengan menggunakan sudut pandang korban yang jatuh ke tangan penyamun, bukan sudut pandang ahli Taurat, orang Lewi dan imam.Tanpa keraguan ahli Taurat pun menjawab bahwa orang Samaria yang telah menunjukkan belas kasihan kepada korban, itulah yang adalah sesama bagi si korban.

Dengan demikian, perumpamaan ini bukan hanya menegur ahli Taurat itu tetapi juga setiap kita. Kita baru layak dikatakan telah mengasihi atau menjadi sesama bagi orang lain ketika kita sudah berusaha menjawab kebutuhan dan persoalan mereka, mau melibatkan diri dan menyatakan kasih yang nyata bagi mereka. Bukan sekadar hanya dengan mendiskusikannya, atau hanya dengan rasa prihatin atau iba terhadap apa yang terjadi pada orang-orang di sekitar kita tanpa ada tindakan lebih lanjut dan membiarkan orang lain tetap dalam persoalan dan kebutuhannya sementara kita lewat begitu saja dengan berbagai urusan hidup kita.

Dengan demikian, keseluruhan perikop kita beberapa hari ini mengajak kita sampai pada kesimpulan bahwa orang-orang yang memperoleh hidup kekal adalah mereka yang hidup dalam persekutuan dengan Allah sebagai hasil dari darah Kristus yang dicurahkan.  Orang yang hidup dalam persekutuan dengan Allah adalah orang yang mengasihi Allah tentunya, dan itu juga berarti ia akan memahami siapa gerangan dirinya di hadapan Allah dan bagaimana seharusnya memperlakukan sesamanya, siapapun dia. Sehingga ia bukan lagi mencari siapa orang yang layak disebut sebagai sesamanya, sebaliknya ia harus berpikir bagaimana dia bisa menjadi sesama bagi orang lain. Ketidaksudian seseorang untuk menunjukkan kasih kepada orang lain, dapat menjadi indikasi bahwa sesungguhnya ia belum mengalami kasih dan anugerah Tuhan.

REFLEKSI

Ambilah saat hening dan bertanya kepada diri sendiri, sudahkah kita hidup menjadi sesama bagi mereka? Apa yang membuat kita sulit untuk menjadi sesama bagi mereka dan lebih sering hanya menjadikan mereka sebagai bahan obrolan dan keprihatinan semata?

TEKADKU

Bapa di Surga, mampukanlah aku untuk menjadi sesama yang hidup bagi orang lain, dimulai dari lingkunganku sendiri yang terdekat. Bukan sesama yang hanya bayangan bagi mereka. Amin

TINDAKANKU

Lakukan sesuatu hari ini, tindakan nyata yang bisa dirasakan langsung oleh seseorang yang mungkin selama ini hanya Anda doakan atau bahkan hanya muncul dalam keprihatinan Anda.  Buatlah dia tahu bahwa Anda mengasihinya dan Anda adalah sesamanya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*