suplemenGKI.com

Minggu, 13 Juni 2021

12/06/2021

Dampak Kuasa Allah

Markus 4:30–34

Pengantar

Sama seperti perenungan kemarin, hari ini kita juga akan melihat pengajaran Kristus tentang Kerajaan Allah yang disampaikan dengan perumpamaan, yaitu tentang biji sesawi.

Pemahaman

-  Menurut Saudara, mengapa Kristus menggambarkan hal Kerajaan Allah dengan biji sesawi?

-  Apakah makna perumpamaan biji sesawi ini bagi kehidupan Saudara secara pribadi?

Kalau kemarin kita melihat bagaimana kuasa Allah yang bekerja dalam diam dan tenang, tanpa diketahui oleh orang lain, melalui perumpamaan biji sesawi hari ini kita akan belajar melihat bagaimana kuasa Allah memiliki dampak yang sangat dahsyat di dalam kehidupan ini.

Kedahsyatan tersebut bukan dalam aspek proses yang terjadi, melainkan dari dampak yang dihasilkannya. Betapa dahsyatnya dampak tersebut dapat dilihat dari kontras yang sangat menonjol antara “modal awal” dan “hasil akhir”nya. Di dalam ayat 31 dikatakan bahwa biji sesawi adalah biji yang paling kecil dari segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi pada waktu biji yang paling kecil itu bertumbuh, maka ia akan menjadi tumbuhan yang lebih besar dari pada segala sayuran yang lain, seperti yang disebutkan di dalam ayat 32.

Bila dibandingkan dengan perumpamaan benih yang ditaburkan kemarin, proses pertumbuhan biji sesawi tidak digambarkan secara spesifik. Hal itu nampaknya dikarenakan penulis Injil Markus ingin menekankan aspek lainnya, yaitu dampak pertumbuhannya. Biji sesawi bukan hanya bertumbuh menjadi tumbuhan yang lebih besar, melainkan juga menjadi berkat bagi berbagai makhluk hidup yang lainnya. Burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya. Sesuatu yang sangat kecil seringkali tidak kita hiraukan, karena kita anggap sebagai sesuatu yang tidak penting. Namun di tangan Allah yang berdaulat, biji sesawi yang kecil itu menjadi berarti, dapat tumbuh melampaui tumbuhan segala sayuran yang lainnya.

Refleksi :

Membayangkan diri kita hanya sebatas sebagai biji sesawi yang paling kecil, mungkin kita akan menjadi minder dan malu. Namun mari membawa segala keminderan itu ke dalam tangan Allah yang berdaulat, yang sanggup mengubah apa yang paling kecil menjadi yang paling besar.

Tekadku:

Doa:  Bapa surgawi, tolong kami untuk tidak berkecil hati tatkala melihat diri seperti biji sesawi. Amin.

Tindakanku:

Saya akan berdoa memohon hikmat kepada Allah agar mampu mensyukuri segala potensi diri, sekecil apapun itu.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»