suplemenGKI.com

Matius 22:8-14

 

Ibadah dengan Kesiapan Hati

 

Pengantar
Kemarin kita sudah merenungkan bagaimana keseriusan sang raja dalam mempersiapkan sebuah perjamuan kawin direspon secara negatif, yaitu melalui penolakan dan pemberontakan. Hari ini kita akan melanjutkan perenungan kita melalui kelanjutan perumpamaan kemarin. Apakah yang akan terjadi berkaitan dengan perjamuan kawin itu? Mari kita renungkan bersama. Pemahaman

- ay. 8-10        : Pada akhirnya, siapa sajakah yang diundang untuk menikmati
perjamuan kawin itu?

- ay. 11-12      : Menurut Saudara, apakah cukup bijak kalau raja itu menegur orang
yang tidak berpakaian pesta? Mengapa demikian?

Setelah menegaskan bahwa orang-orang yang diundang terdahulu pada dasarnya tidak layak untuk perjamuan kawin itu, kini sang raja mengundang setiap orang. Siapapun yang dijumpai hamba-hamba sang raja , entah itu orang baik ataupun orang jahat, diundang mengikuti perjamuan kawin itu (ay. 10). Menarik sekali kalau di sini dituliskan secara tersurat bahwa orang-orang jahat juga termasuk dalam kelompok yang diundang. Pernyataan ini mengingatkan kita pada pengajaran Kristus tentang pukat (Mat. 13:47-52), di mana sang penjala tidak memilah antara ikan yang baik dari yang kurang baik. Rasul Paulus juga menjelaskan konsep ini dalam suratnya kepada Jemaat di Roma, ketika dia menyatakan bahwa kesesatan Israel menjadi kesempatan bangsa-bangsa (Ro. 9:30-10:3).

Namun demikian tidak berarti orang yang diundang itu dapat bersikap seenaknya sendiri. Mereka harus datang ke perjamuan itu dengan pakaian yang pantas. Pada waktu sang raja berbaur dengan para undangan, ia mendapati orang yang tidak mengenakan pakaian pesta. Mungkin kita berpikir bahwa sang raja seharusnya memaklumi orang tersebut. Tapi kalau kita cermati, tidak ada alasan bagi orang tersebut untuk tidak mengenakan pakaian pesta. Bukankah dia sama seperti orang lain yang diundang ke pesta itu secara “mendadak”? jadi kalau berbicara tidak siap, sebenarnya semua juga tidak siap. Mungkin kita berpendapat bahwa orang itu sedemikian miskinnya sehingga tidak memiliki pakaian pesta. Akan tetapi reaksi orang itu yang tetap diam menyiratkan bahwa memang seharusnya orang itu memakai pakaian pesta, tapi ia mengabaikannya. Persoalannya di sini bukanlah apakah orang itu memiliki pakaian pesta atau tidak, melainkan orang itu datang ke pesta dengan sikap yang tidak layak. Dengan kata lain, dengan kondisi tersebut kesalahan ada di pihak orang tersebut, bukan pihak sang raja.

Refleksi
Hari ini adalah hari Minggu, di mana kita semua datang kepada Allah. Bagaimanakah sikap kita? Sudahkah kita datang dengan “pakaian” yang layak, yaitu dengan sikap hati – bukan kualitas pakaian yang kita kenakan?

Tekad
Doa: Ya Allah, mampukan saya untuk bukan hanya memperhatikan kondisi fisik dalam mengikuti ibadah, tetapi juga kondisi hati. Amin

Tindakan
Datang tidak terlambat dalam ibadah merupakan salah satu wujud kesiapan kita untuk beribadah kepada Allah.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«