suplemenGKI.com

Yohanes 6:32-51

Mencari Yang Utama

Tidak semua orang menerima dengan benar pengajaran Tuhan Yesus.  Adanya perdebatan bukan hanya mencerminkan keberagaman kelompok pendengar, tetapi juga motivasi yang mereka miliki.  Wajar bila kemudian ada yang tidak setuju lalu menghasut yang lain.  Tapi ada juga yang menerima dan percaya Tuhan Yesus.

Pertanyaan Penuntun:

  1. Apa yang Tuhan Yesus ajarkan mengenai diriNya?  (ayat 32, 33)
  2. Apa pengakuan Tuhan Yesus mengenai diriNya?  (ayat 35)
  3. Mengapa Tuhan Yesus mengatakan bahwa “kamu tidak percaya”?  (ayat 36, 26, 27)
  4. Apa yang dipersoalkan orang-orang Yahudi?  (ayat 41, 42)
  5. Apa makna “roti hidup”?  (ayat 51)

 

RENUNGAN

Kehidupan membutuhkan materi tapi itu bukanlah segalanya, sebab manusia juga membutuhkan pemenuhan di bidang lainnya. Misalnya, ketenangan batin, rekreasi dan kebahagiaan yang tidak secara mutlak bisa diukur dari materi.  Pengutamaan materi berakibatkan pada munculnya motivasi dan perilaku yang salah demi pemenuhannya.  Bahkan penjelasan apapun tidak akan diterima, sebab yang terutama bagi mereka adalah terpenuhinya materi.  Bukan yang lain.

Keadaan inilah yang dihadapi Tuhan Yesus dalam bacaan ini.  Tuhan Yesus dengan tegas menegur mereka, “bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti dan kamu kenyang” (ayat 26).  Bahkan ketika Tuhan Yesus menjelaskan siapa diriNya dan tujuan kedatanganNya (ayat 33, 35, 38-40), mereka justru sangsi dan menolak, “bukankah ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapanya kita kenal?  Bagaimana Ia dapat berkata:  Aku telah turun dari sorga?”  Pikiran orang Yahudi yang sangat materialistis ketika itu sudah tidak sanggup lagi menerima penjelasan kebenaran yang Tuhan yesus sampaikan.  Semua pernyataan Tuhan Yesus diterjemahkan secara materi, sehingga menimbulkan pertengkaran di antara mereka (ayat 52).  Hal ini membenarkan perkataan Tuhan Yesus di awal, “bekerjalah bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang dapat bertahan sampai kepada hidup yang kekal” (ayat 27).

Perjalanan kehidupan kita seolah seperti pergumulan bangsa Israel ketika Tuhan Yesus melayani.  Mereka diperbudak oleh kekuasaan Romawi dan hukum keagamaan Yahudi.  Kehidupan mereka menjadi tidak bebas dan serba sulit untuk dijalani.  Namun pergumulan hidup semacam ini tidak serta merta menjadi pembenar munculnya sikap hidup yang berorientasi pada materi.  Ungkapan, “ada uang abang sayang;  tidak ada uang, abang kutendang” tidak bisa diterapkan dalam relasi dengan Tuhan.  Berkat dan pemeliharaan Tuhan tidak selalu berupa kesehatan dan kelimpahan berkat materi.  Bukankah karena hal inilah, Tuhan Yesus mempersoalkan orang-orang yang datang mencarinya (ayat 26).  Dengan kata lain, mereka hanya butuh roti bukan Tuhan Yesus, atau dalam konteks sekarang mereka butuh Tuhan Yesus sekaligus kekayaan dan kesehatan.  Sikap ini jelas tidak benar.

Berkat dan pemeliharaan Tuhan tidak mutlak berupa materi.  Dalam pergumulan hidup, terbukti yang utama adalah kehadiran Tuhan Yesus melalui pengalaman dan kebenaran firmanNya.  Dua hal inilah yang menguatkan dan memampukan orang percaya untuk terus berjalan, sesulit apapun pergumulan yang dihadapi.  Sama seperti yang Ia janjikan, “barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi . . . ia tidak akan haus lagi.”  Maka sekarang, carilah dan milikilah yang utama!

 

Keutamaan Hidup ada pada Tuhan Yesus dan firmanNya

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«