suplemenGKI.com

Matius 18:21-35 

Mengampuni, Mengampuni, dan Mengampuni 

“…… Tuhan lebih dulu mengampuni kepadamu, Mengampuni, mengampuni lebih sungguh” sungguh lagu yang menyejukkan hati saat kita menyadari butuh pengampunan. Tapi mungkin sungguh menyesakkan dada bila kita harus mengampuni. Mari merenungkan kembali pengampunan itu serta meminta Allah berbicara sekali lagi.

-  Apakah Saudara memiliki pengalaman mengampuni dengan mudah? Mengapa demikian? Apakah Saudara juga memiliki pengalaman sulit mengampuni, bahkan tidak bisa mengampuni? Mengapa demikian?

- Seberapa besar dosa yang sudah kita lakukan? Kalau satu dosa disetarakan dengan uang sebesar satu dinar (upah pekerja harian dalam satu hari), berapa dinarkah hutang (baca: dosa) kita? 

Renungan

Sampai berapa kali kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita? rasanya cukup mudah untuk mempercakapkannya, tapi sungguh teramat sangat sulit sekali untuk melakukannya. Mungkin gaya bahasa dan penulisan “sungguh teramat sangat sulit sekali untuk melakukannya” dinilai terlalu berlebihan. Tapi, bukankah kenyataannya memang demikian? Ada orang yang dengan mudah memberikan pengampunan pada kesalahan yang pertama kali dibuat. Namun tidak akan semudah itu memberikan pengampunan pada kesalahan kedua, apalagi ketiga, keempat, dan seterusnya. Intinya, semakin besar kuantitas maupun kualitas kesalahannya, semakin sulit kita mengampuni. Dengan kata lain, semakin sering kesalahan itu dilakukan, semakin sulit kita memberi pengampunan. Semakin besar kesalahan yang dilakukan, semakin sulit pula kita mengampuni. Tapi Kristus meminta kita untuk mengampuni, dan standarnya adalah mengampuni sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Tujuh puluh kali tujuh kali? Mampukah kita? Kalau perhitungan tersebut dipahami secara matematis saja, berarti mengampuni sebanyak 490 kali. Kalau usia efektif kita, dipotong masa balita dan masa pikun, adalah 70 tahun, maka itu berarti kita melakukan pengampunan sekitar 1,5 bulan sekali kepada orang tersebut. Dalam setahun, orang itu melakukan kesalahan yang menyakitkan sebanyak tujuh kali. Masihkah kita bisa menatap orang tersebut dengan kasih sepanjang tahun itu? Bagaimana kalau penghitungannya dilanjutkan dan orang itu melakukan tujuh kesalahan lagi pada tahun kedua? Lalu pada tahun ketiga, keempat, dan seterusnya, masihkah kita dapat melihat mukanya? Saya kira tidak perlu menunggu 70 tahun untuk terkena serangan jantung atau tekanan darah tinggi. Apalagi kalau sampai patokan 70×7 itu kita pahami sebagai pengampunan secara total, sempurna! Merenungkan standar Kristus ini, rasanya membuat kita melihat bahwa standar yang diberikan Petrus, sampai tujuh kali, sudah cukup. Itu lebih realistis. Tapi itu bukanlah kehendak Allah. Coba perhatikan perumpamaan yang diberikan Tuhan Yesus.

Hutang dosa kita adalah sepuluh ribu talenta, bukan seratus dinar. Satu talenta = 6000 dinar. Jadi 10.000 talenta = 6000 dinar x 10.000 = 60 juta dinar. Satu dinar adalah upah pekerja harian dalam satu hari. Kita harus bekerja 60 juta hari untuk dapat menghasilkan 10 ribu talenta. Dosa kita tak terbayarkan sekalipun kita menghambakan diri sampai tujuh turunan. Dan itu yang Allah minta untuk terus kita ingat saat mengalami kesulitan dalam mengampuni. Selamat belajar mengampuni. 

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*