suplemenGKI.com
Taat

Taat

Yohanes 1:19-28

Maksimalitas Yohanes

Bacaan kita kali ini berfokus pada percakapan antara Yohanes dengan beberapa utusan dari Yerusalem (1:19).  Mungkin ada kegelisahan sosial dan keraguan ajaran terkait dengan  yang dilakukan Yohanes, sehingga mereka mengirim utusan untu mengajukan pertanyaan seputar legalitas Yohanes;  seorang Mesias, Elia atau orang biasa.

Pertanyaan Penuntun Pemahaman Alkitab:

  1. Pertanyaan apakah yang diajukan dan bagaimana jawab Yohanes?  (ay. 19-20)
  2. Apakah Yohanes mengakui dirinya sebagai Mesias atau Elia?  (ay. 20-21)
  3. Bagaimana Yohanes menjelaskan dirinya dalam hubungannya dengan Perjanjian Lama?  (ay. 23)
  4. Bagaimana Yohanes menjelaskan peran dan tugasnya dalam hubungannya dengan Yesus?  (ay. 26-27)

RENUNGAN

Maksimalitas diri mengandung dua pengertian.  Pertama, menyakini bahwa kehidupan yang dijalani adalah bagian dari rancangan Tuhan yang spesial bagi hidup kita.  Pemazmur berkata, “dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya” (Maz. 139:16).  Kedua, keyakinan akan adanya rancangan Tuhan itulah yang mendorong seseorang untuk menemukan dan mengembangkan talentanya demi pencapaian tujuan hidup.  Dia puas dengan dirinya dalam arti yang sebenarnya.  Tidak iri dan tidak berambisi pada hal-hal yang bukan merupakan kekhasan dirinya.  Dua makna inilah yang menjadikan seseorang bahagia dengan apa yang dia lakukan.

Yohanes adalah pribadi yang maksimal. Sebab ia mengerti dan bersedia menjalani tujuan Tuhan dalam hidupnya.  Sejak dalam kandungan Yohanes sudah dipersiapkan agar kelak menjadi seperti yang Tuhan rancangkan, yaitu bersaksi dan berseru-seru agar bangsanya bertobat.  Dan benar, Yohanes menjalani kehidupan yang terasing sebagai nabi agar pesan yang kemudian ia sampaikan dapat dimengerti bangsanya sebagai sesuatu yang penting dari Allah. Gaya hidup Yohanes juga benar-benar mencerminkan seseorang yang taat akan tugas pengutusannya.  Tidak ada ambisi lebih dari sekadar seseorang yang menyiapkan jalan bagi orang lain.  Ini bukan sikap minder, melainkan sikap yang dilandasi keyakinan bahwa sampai disinilah Tuhan mengutus.  Yohanes puas dengan peran dan tugasnya sebagai penyiap jalan.

Yohanes punya peluang menjadi Mesias dan Elia baru di tengah kerinduan Israel akan kegenapan nubuat tersebut.  Yohanes juga punya peluang untuk lebih dihormati sebab dialah yang membaptiskan Yesus.  Yohanes pun punya kesempatan dengan mengaku bahwa dirinyalah yang dinanti Israel. Namun semua kesempatan tersebut diabaikan Yohanes.  Sebab Yohanes sadar batasan tujuan hidupnya seperti yang ia serukan, “luruskanlah jalan Tuhan” (ayat 23), tidak lebih dari itu. Inilah maksimalitas dan kebahagiaan seorang Yohanes.  Menjadi dirinya sendiri seperti yang Tuhan mau.

Salah satu persoalan dalam kehidupan adalah ketika seseorang berusaha menjadi orang lain, baik dalam peran dan karakter. Akibatnya terjadi perebutan kekuasaan, tidak profesional, memaksakan diri, minder dan hal-hal buruk lainnya.   Mari meneladani sikap hidup Yohanes yang maksimal di hadapan Tuhan dan sesamanya.

 Jadilah diri yang maksimal maka Tuhanpun akan memakai kita dengan maksimal

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«