suplemenGKI.com

Lukas 20:27-38.

 

Mempercayai Tuhan Yesus dengan seutuhnya.

 

Pengantar:
            Di dunia ini banyak orang yang fanatik. Fanatik terhadap tokoh favorit, makanan favorit, kelompok tertentu dan sebagainya. Tidak salah seseorang memiliki idola tertentu. Tetapi akan menjadi masalah jika mulai memperbandingkan apa yang menjadi favoritnya dengan yang lain. Jika sudah demikian maka itulah yang namanya “fanatik” Fanatik ini bisa menimbulkan pertentangan, perselisihan dan merendahkan pihak-pihak lain. Dalam bacaan Lukas 20:27-38 kita menjumpai orang-orang Saduki datang kepada Yesus dengan pertanyaan yang sebenarnya bersifat mempertentangkan antara ajaran Musa dengan ajaran Yesus tentang kebangkitan orang mati. Apa sebenarnya motivasi para saduki terkait dengan pertanyaannya? 

Pemahaman:

  1. Siapakah sebenarnya orang-orang Saduki itu?
  2. Apa yang melatar belakangi pertanyaan mereka tentang kebangkitan orang mati?
  3. Bagaimana jawab Yesus? 

Sebutan Saduki berasal dari kata Zadok. Nama Zadok itu berkaitan dengan keturunan Imam Zadok.  Menurut Yehezkiel 40:46, keturunan Imam Zadok berasal dari suku Lewi yang boleh mendekat kepada Tuhan untuk menyelenggarakan kebaktian (Yeh 43:19) Orang Saduki sangat mengutamakan kitab taurat Musa dan menolak kepercayaan kebangkitan orang mati.

Secara bersengaja orang Saduki ini memakai otoritas Musa untuk menguatkan keyakinan mereka. Dimulai dengan sistem perkawinan “Levirat” yang menyatakan: Apabila orang-orang yang bersaudara tinggal bersama-sama dan seorang dari mereka meninggal dan tidak meninggalkan keturunan laki-laki, maka janganlah istri orang yang mati itu kawin dengan orang lain di luar lingkungan keluarganya, saudara suaminya haruslah menghampiri dia dan mengambilnya menjadi istrinya, sehingga terjadilah kewajiban mengawini iparnya, itulah namanya perkawinan Levirat, tujuannya adalah mempertahankan keturunan saudaranya yang sudah meninggal (Ul 25:5-6)

Tuhan Yesus menjawab: Orang mati yang dianggap layak untuk hidup dalam kebangkitan dari antara orang mati, mereka tidak kawin dan dikawinkan lagi. Mereka sama seperti malaikat, dan hidup sebagai anak-anak Allah. Sebuah penegasan bahwa setelah kehidupan di dunia ini, orang-orang percaya yang telah mati akan mengalami hidup dalam kemuliaan Allah dan tidak lagi dipengaruhi oleh hawa nafsu dunia. Kemuliaan orang-orang percaya dibangkitkan seperti kemuliaan malaikat dan diperkenankan berjumpa dan hidup bersama dengan Allah. Karena Tuhan kita bukanlah Tuhan untuk orang mati, tetapi Tuhan untuk orang yang hidup berkenan kepada-Nya.

Refleksi:
Ketika kita sudah hidup dalam Allah, kita mempercayakan seluruh hidup kita pada anugerah Allah yang menyediakan kemuliaan bagi kita ketika kita mati kelak.

Tekad:
Tuhan, tolonglah agar aku menjadikan Engkau Tuhan yang hidup bagi hidupku

Tindakan:
Aku ingin mengikut Tuhan Yesus dengan mempercayai Dia seutuhnya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«