suplemenGKI.com

Lukas 15:25-32

 

                                  Menerima Anugerah Pengampunan, Bukan karena Pantas!  

 

Pengatar:
Masih ingat ketika anda mendapat nilai yang baik di sekolah? Nilai baik adalah nilai yang pantas. Jika anda mendapat nilai baik karena anda rajin belajar itu hal yang pantas bagi anda. Bagaimana jika sekolah anda menentukan standar nilai kelulusan adalah seratus tidak boleh kurang. Tetapi ternyata nilai baik anda tidak mencapai seratus, mungkinkan anda akan lulus?

Pemahaman:
Apa yang melatar belakangi sikap si sulung, sehingga ia merasa berhak protees dan marah terhadap perlakuan ayahnya bagi si bungsu? (25-30)

  1. Apa makna  jawaban sang ayah terhadap sikap si sulung? (31)
  2. Apa yang hendak ditekankan oleh Tuhan Yesus dalam perumpamaan ini, jika kita perhatikan ayat 32?

Sosok si sulung dalam perumpamaan tentang anak yang hilang, merasa dia menjadi orang yang pantas mendapatkan perlakuan istimewa dari sang ayah ketimbang adiknya, karena dia merasa memenuhi standart penilaian sempurna. Ia bekerja pada bapanya dengan berorientasi pada upah, sehingga ia menuntut diperlakukan secara khusus oleh bapanya, karena ia sudah bekerja keras di ladang ayahnya. Sikap si sulung dilatar belakangi “Merasa pantas” ia lupa, kalau seluruh milik bapanya itu adalah miliknya juga itu hanya karena anugerah. jika ia tahu bahwa semua adalah anugerah, maka ia tahu bahwa  bapanya tidak akan melarang keinginannya untuk mengadakan pesta dan sebagainya. Dia tidak hanya menuntut penghargaan demi penghargaan dari bapanya hanya karena merasa pantas. Ia tahu bahwa kalaupun ia bekerja, itu bukan untuk dirinya sendiri, tetapi kartena kasihnya kepada Bapa.

Mungkin kita lebih kerap seperti itu. Kita memang tidak sampai “terhilang” kita tetap ke gereja, aktif dalam pelayanan, pendeknya kita adalah orang baik-baik, tidak pernah terjerumus dalam “kemabukan duniawi” Tetapi, kita hidup dalam ketidaktulusan! Kita melakukan semua kebaikan itu dengan pamrih untuk memperoleh “upah” Sebab kita merasa lebih layak, lebih baik. Diam-diam kita telah menjadi hakim atas sesama kita. Melalui perumpaman anak yang hilang, Yesus  mengajarkan kita tentang kebenaran rohani, tentang betapa kasih Allah itu tidak terbatas bagi kita! Perhatian Allah yang tulus, bukan hanya kepada orang berdosa tetapi juga kepada anak-Nya yang taat. Karena itu, entah kita sebagai si bungsu atau si sulung, kita ini tetap si anak yang hilang, maka kita semua harus kembali kepada Bapa yang penuh anugerah.

Refleksi:
Ketika aku kerenungkan firman Tuhan ini, aku menjadi malu dengan diriku dan Tuhan bahkan dengan sesama. Karena terkadang aku merasa pantas menerima anugerah Tuhan dari pada yang lain sebab aku orang yang rajin kegereja, pelayanan, memberi persembahan. Tetapi ternyata aku sangat tidak pantas, jika dibandingkan dengan Kasih Bapa.

Tekad:
Tuhan buatlah aku memahami, bahwa aku hidup, bekerja dan menikamti semuanya itu hanya karena anugerah-Mu. Aku akan belajar mengasihi, menerima dan mengabdi hanya karena kasih kepada-Mu dan sesama.

Tindakan:
Mulai saat ini aku harus berjuang untuk melayani, rajin ke gereja dan memberi persembahan bukan supaya menjadi pantas di hadapan Tuhan, tetapi karena aku dilayakan. Mulai sekarang aku tidak mau menghakimi tindakan orang lain sekalipun aku tahu itu salah, tetapi aku mau menolongnya untuk menyadarinya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*