suplemenGKI.com

Minggu, 10 Juni 2018

09/06/2018

Keluarga Allah

Markus 3:31-35

 

Pengantar
Orang Yahudi menjunjung tinggi nilai sebuah keluarga, yakni hubungan yang terbentuk karena adanya ikatan/pertalian darah di dalamnya. Kita pun, yang dibesarkan dalam budaya timur, memiliki pandangan demikian. Hubungan darah dianggap lebih kental dibanding hubungan lain. Namun apakah anggota keluarga kita selalu mengenal kita dengan baik? Apakah mereka selalu memahami kita dengan benar? Belum tentu. Itulah yang dialami oleh Yesus. Bagaimana sikap Yesus tentang hal ini? Marilah kita merenungkannya.

Pemahaman 

  • Ayat  31-32: Mengapa Ibu dan saudara-saudara Yesus ingin menemui Dia?
  • Ayat 33-34 : Siapakah yang disebut Yesus sebagai ibu dan saudara-saudaranya?

Meski hubungan keluarga penting, tetapi tidak membuat ibu dan saudara-saudara Yesus secara otomatis mengenal-Nya. Kita perhatikan bahwa keluarga-Nya menganggap Dia tidak waras (ayat 31). Maka bagi Yesus, yang disebut keluarga tidak harus selalu memiliki hubungan darah tapi juga orang-orang yang melakukan kehendak Allah (ayat 35). Hubungan ini terdapat di antara orang-orang yang mengarahkan pikirannya pada Allah. Inilah orang yang mengikut Dia, mendengar ajaran-Nya, dan mementingkan kehendak-Nya. Inilah basis fundamental keluarga Allah. Orang yang memiliki prioritas seperti itulah, yang disebut Yesus sebagai saudara-Nya laki-laki, saudara-Nya perempuan, dan ibu-Nya (ayat 35).

Tekanan utama terletak pada kata “melakukan” kehendak Allah. Jadi bukan hanya orang yang menyebut diri sebagai murid, yang secara otomatis akan menjadi anggota keluarga Allah. Yang benar-benar disebut murid ialah mereka yang konsekuen mengikut Dia dan sungguh-sungguh menjadi pelaku kehendak Allah. Kita, yang menyebut diri sebagai pengikut Kristus, harus bercermin dan introspeksi diri: sudahkah kita memprioritaskan kehendak Allah dalam hidup kita.

Sesungguhnya menjadi Kristen bukan sekadar menunjukkan identitas dengan pergi ke gereja setiap Minggu dan hidup sebagai orang baik-baik. Menjadi Kristen berarti membiarkan Tuhan menduduki tempat pertama dalam hidup kita. Juga berarti memprioritaskan kehendak-Nya. Bahkan jika itu harus mengorbankan segala hasrat dan cita-cita kita. Memang tidak mudah. Namun Roh Kudus akan memberi kita kekuatan. Dan saat itulah kita akan menunjukkan kesejatian kita sebagai anggota keluarga Allah.

Refleksi
Dalam keheningan ingatlah perjalanan hidup Saudara. Apakah Saudara selalu berhasil melakukan kehendak Allah? Apakah Saudara berani berkorban demi melakukan kehendak Allah?

Tekadku
Ya Allah, mampukanlah aku hidup seturut kehendak-Mu dan jadikanlah aku anggota keluarga-Mu.

Tindakanku

  • Aku akan menempatkan Tuhan di prioritas pertama dalam hidupku
  • Aku akan menginspirasi orang lain dengan hidup taat, tunduk dalam kehendak Allah

 

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«