suplemenGKI.com

Lukas 10:25-37.

 

Kasihilah Sesamamu Manusia Seperti Dirimu Sendiri

Pengantar:
Jika seseorang menyimpan suatu perasaan tidak senang dengan orang lain, apapun alasannya pasti dia akan mencari kesempatan untuk menyerang orang yang tidak disenanginya itu. Penyerangan bisa dilakukan dalam bentuk: tindakkan, perkataan, sikap atau suatu pertanyaan yang sifatnya bertujuan menjatuhkan orang yang tidak disukainya. Contoh kasus:  Ada seorang yang sangat tidak suka dengan rekan kerja di kantornya, karena rekannya itu lebih disukai oleh bosnya. Orang tersebut hampir setiap kali ada acara-acara pertemuan bersama sesama rekan-rekan sekantornya, dia mengamati semua gerak-gerik rekannya itu. Mulai dari cara bicaranya, ungkapan pemikirannya sampai dengan posisi duduknya. Suatu ketika rekannya salah mengucapkan satu kata dalam perdiskusian itu, maka kesempatan dia untuk menyalahkan, mentertawakan, memojokkan rekan yang dibencinya. Itulah sifat ahli taurat.

Pemahaman:

  1. Apakah yang sedang dilakukan seorang ahli taurat dengan Yesus dalam Luk 8:25-37 ini?
  2. Apakah sebenarnya yang menjadi masalah dari seorang ahli taurat itu?
  3. Bagaimana tanggapan Yesus terhadap pertanyaan ahli taurat itu?

Berdasarkan keterangan di ayat 1, maka kita bisa mengetahui dengan jelas bahwa sedang terjadi suatu dialog antara seorang ahli taurat dengan Yesus. Dialog itu dimulai oleh ahli taurat, dengan sebuah pertanyaan, hal yang bagus sebetulnya. Tetapi sayang pertanyaan ahli taurat rupanya bertujuan untuk mencobai Yesus.

Sebenarnya ahli taurat itu menyimpan sikap benci kepada Yesus. Sebagai seorang ahli taurat ia merasa dirinya paling hebat, paling benar, harus dihormati. Namun sejak Yesus tampil dengan pengajaran, kasih dan kepeduliaan-Nya kepada banyak orang, maka popularitas ahli-ahli taurat mulai memudar. Itu sebabnya para ahli taurat itu selalu mencari kesempatan untuk mencobai Yesus. Jadi persoalan ahli taurat sesungguhnya adalah hati yang iri, benci, merasa tersaingi oleh kehadiran Yesus.

Yesus menanggapi sikap ahli taurat, justru sebagai kesempatan untuk menunjukkan jalan kepadanya agar bisa memperoleh hidup kekal. Maka Yesus dengan penuh wibawa yang dilandasi kasih menjelaskan suatu perumpamaan tentang mengasihi sesama. Ahli taurat itu sangat menguasai isi taurat, tetapi hanya sebatas menguasai tanpa melakukannya, itu adalah sia-sia.  Perumpamaan orang samaria  yang murah hati adalah gambaran diri Yesus yang menyatakan kasih-Nya kepada manusia yang dibelenggu dosa. Ia rela berkorban mati di kayu salib demi menyelamatkan manusia manusia yang berdosa, itulah makna mengasihi sesama.

Refleksi:
Renungkanlah, apakah kita sudah mengasihi Allah dengan segenap hati? Bagaimanakah menyatakan kasih kepada Allah dengan mengasihi sesama manusia?

Tekad:
Berjuang dengan rela berkorban demi mewujudkan kasih Allah kepada sesama  manusia.

Tindakan:
Belajar mengasihi sesama dengan benar, seperti yang diajarkan Yesus melalui perumpamaan orang Samaria yang murah hati.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«