suplemenGKI.com

Matius 21:23-32

 

“Bertobat lebih baik dari pada menghakimi”

Pengantar:
            Dalam Matius 21:23-27, sesungguhnya pertanyaan imam-imam serta tua-tua bangsa Yahudi kepada Yesus adalah untuk menjebak Yesus agar mendapat alasan untuk menghakimi Tuhan Yesus, namun Tuhan Yesus tidak  dapat mereka jebak begitu saja. Ketika mereka bertanya tentang dengan kuasa mana Yesus melakukan banyak hal (Lih. V. 12-22), Yesus balik bertanya kepada mereka tentang baptisan Yohanes. Pertanyaan Yesus itu membuat mereka tidak berdaya, karena mereka sendiri tahu sebetulnya baptisan Yohanes itu dari Tuhan, tetapi mereka tidak mau percaya, bahkan menolaknya. Untuk mempertegas posisi mereka yang tidak mau percaya Yesus memakai suatu perumpamaan tentang dua orang anak.

Pemahaman:

1)      Apakah yang hendak Yesus tunjukkan melalui sosok anak sulung? (v. 28-29)

2)      Apakah yang hendak Yesus tunjukkan melalui sosok anak bungsu? (v. 30-32)

Dalam perumpamaan itu, Yesus menunjukkan tentang anak sulung yang ketika diperintahkan oleh orangtuanya untuk pergi ke kebun anggur, responsnya begitu positif dan manis, tetapi ternyata itu hanyalah kemunafikan. Itulah sesungguhnya gambaran imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi saat itu. Sepintas mereka nampak seperti sangat religius dalam menjalankan ibadah dan hidup keagamaan (lih Mat2:4). Tetapi sesungguhnya itu hanyalah tampilan luar namun di dalamnya penuh dengan kemunafikan. Mereka suka menghakimi, menyalahkan orang lain sesuai dengan ukuran mereka sendiri (band. Mat 22:34-40 – pertanyaan yang hanya bermaksud untuk mencobai Yesus). Sedangkan anak ke dua ketika diperintahkan orangtuanya untuk pergi ke kebun anggur ia dengan tegas menolak dan membantahnya. Tetapi kemudian ia sadar dan menyesal lalu melakukan perintah orangtuanya. Itu menggambarkan tentang orang-orang yang dipandang sebagai orang berdosa oleh para imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi, yaitu para pemungut cukai, perempuan sundal tetapi justru ketika mereka mendengar kabar keselamatan dari Yohanes Pembaptis mereka bertobat dan dibaptis tanda mereka percaya kepada berita keselamatan itu (v. 32). Pada bagian ini Yesus mengajarkan bahwa bertobat dari keberdosaan itu jauh lebih penting dari pada menganggap diri benar sehingga merasa pantas menghakimi sesama.

Refleksi:
Mari kita merenungkan. Jika kita diperhadapkan pada dua sosok anak (anak sulung dan anak ke dua) kira-2 kita berada pada posisi anak yang mana? Renungkan dalam hati dengan jujur.

Tekad:
Tuhan Yesus, mungkin selama ini saya sudah aktif  beribadah, melayani dan melakukan hal-hal yang bersifat religius. Tetapi saya lebih merindukan hidup bertobat dan menyukakan Engkau.

Tindakan:
Saya mau berjuang dengan pertolongan Tuhan untuk menjadi pribadi yang suka menyadari kelemahan diri sendiri dan rindu diubahkan Tuhan, dari pada suka menghakimi sesama.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«