suplemenGKI.com

Hukum yang Utama: Ibadah Sejati

Markus 12:28-34

 

Pengantar

Apakah hal yang paling utama di dalam hidup Saudara? Bagaimanakah hal tersebut mempengaruhi hidup Saudara?

Pernahkah kita mempertanyakan, apa yang seringkali mendasari pikiran dan perbuatan kita? Melanjutkan perenungan kemarin, hari ini kita akan melihat bagaimana hukum kasih yang dipaparkan Kristus menjadi landasan bagi kehidupan keseharian kita.

Pemahaman

Ay. 28    : Tatkala ahli Taurat bertanya, “Hukum manakah yang paling utama?”, menurut Saudara, berapa banyak hukum yang ingin didengar oleh ahli Taurat itu?

Ay. 31    : Mengapa Kristus mengatakan bahwa hukum kasih yang dikemukakan-Nya itu adalah hukum yang paling utama?

Kata “paling” biasanya merujuk kepada satu hal saja. Nampaknya hal ini juga yang menjadi harapan dari ahli Taurat ketika bertanya, “Hukum manakah yang paling utama?” Dia berharap Kristus menyebut satu hukum saja. Namun Kristus menyebutkan dua hukum, yakni: hukum yang terutama dan hukum yang kedua. Meski demikian, ada pendapat yang mengatakan bahwa pada dasarnya Kristus hanya memberikan satu hukum saja, yakni hukum kasih. Akan tetapi hukum kasih itu memiliki dua sisi, sama seperti satu keping mata uang yang memiliki dua sisi. Hal ini ditegaskan di dalam surat 1 Yohanes 4:20, yang berbunyi:“Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.”

Mengakhiri jawaban-Nya, Kristus berkata, “Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” Hukum kasih yang dikemukakan Kristus ini memang lebih utama dibandingkan 613 hukum dalam mitzvot. Ia lebih utama daripada seluruh hukum peribadahan, termasuk berbagai hukum tentang korban. Ia juga lebih utama dibandingkan dengan hukum balas dendam (Lex Talionis), mata ganti mata, gigi ganti gigi. Di sinilah makna hukum kasih menggenapi – bukan meniadakan – hukum Taurat. Sebab hukum kasih memiliki tuntutan yang lebih utuh. Kita dapat mempersembahkan korban tanpa kasih, tapi kita tidak dapat mengasihi tanpa memberikan persembahan. Kita masih dapat berbuat dosa meski tidak membunuh, yakni dengan menyimpan dendam, tapi kita pasti terhindar dari perangkap dosa pembunuhan dan dendam bila kita hidup dalam kasih.

Refleksi

Dengan pemahaman seperti di atas, maka kita melihat bahwa sebenarnya kasih kita kepada Allah merupakan motor yang menggerakkan kasih kita kepada sesama. Kasih itulah – bukan takut dipenjara – yang membuat kita tidak membunuh.

Tekad

Doa: Tuhan Yesus, tolong saya untuk terus hidup dalam kasih. Amin.

Tindakan

Dalam seminggu ke depan, saya akan mengunjungi paling sedikit dua orang sebagai upaya belajar hidup dalam kasih

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«