suplemenGKI.com

Sabtu, 22 Agustus 2015

Yohanes 6:56-66  

Pengantar

Setiap hari kita membaca dan merenungkan firman TUHAN. Firman TUHAN dapat menguatkan dan menghibur, namun terkadang juga menegur kita dengan keras. Jika firman TUHAN menegur, bagaimana respon kita? Apakah kita akan bersikap sportif dengan menerima teguran dengan mengintrospeksi diri dan melakukan pembenahan sesuai dengan firman tersebut atau sebaliknya kita menutup Alkitab dan tidak mau lagi membukanya selamanya? Bagaimana sikap kita jika kita ditegur oleh firman TUHAN?

Pemahaman

  • Ayat 56-58    : Apa maksud perkataan YESUS di ayat 56-58?
  • Ayat 60          : Mengapa murid-murid YESUS menyebut perkataan itu keras?
  • Ayat 61-65    : Mengapa YESUS tetap berbicara demikian jika Dia sudah tahu respon murid-murid-Nya dan mengetahui apa yang kelak akan terjadi?

Bacaan ini merupakan bagian akhir dari fragmen yang berisi pengajaran YESUS mengenai diri-Nya sebagai Roti Hidup. Jika kita memperhatikan Yohanes 6 ini secara keseluruhan, ada hal menarik yang terjadi dengan orang-orang yang mengikut YESUS, yaitu merosotnya jumlah orang yang mengikuti YESUS. Semula terdapat 5000 orang laki-laki, dan jumlahnya akan berlipat ganda jika kita juga menghitung perempuan dan anak-anak (ayat 10). Setelah YESUS memberikan pengajaran mengenai identitas diri-Nya sebagai Roti Hidup, banyak orang yang menilai pengajaran-Nya terlalu keras (ayat 60). YESUS juga mengkritik mereka yang mengikuti-Nya hanya karena mengalami mukjizat pelipatgandaan roti dan mereka dikenyangkan oleh karya ajaib YESUS (ayat 26). Alhasil, “banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia” (ayat 66).

Kata ‘tinggal di dalam’ yang sangat unik dalam injil Yohanes ini seolah-olah ingin menandaskan teologi penulis Injil ini bahwa YESUS adalah Sang Rumah, yang ke dalam-Nya kita mengambil bagian ke dalam persekutuan Allah Tritunggal. Pada ayat 56 konsep ini muncul. Orang percaya akan tinggal di dalam KRISTUS dan KRISTUS di dalamnya, ketika orang tersebut “memakan daging” dan “meminum darah” YESUS. YESUS secara sengaja memakai metafora daging dan darah-Nya untuk mempertautkan para pendengar dengan peristiwa Paskah, ketika orang Israel mempersembahkan anak domba. Kini, Sang Anak Domba itu adalah dirinya sendiri. Dengan memakai kata “meminum darah-Ku” YESUS ingin mengingatkan para pendengar-Nya yang adalah orang Yahudi pada larangan meminum darah (Kej. 9:4; Im. 3:17). Itu sebabnya orang-orang tak kuat mendengar ucapan YESUS dan meninggalkan-Nya.  Namun, bagi YESUS metafora itu disampaikan untuk menunjukkan apa artinya tinggal di dalam-Nya, yaitu hidup yang berpartisipasi ke dalam persekutuan (koinonia).

Refleksi

Pejamkan mata Saudara, coba ingat bagaimana sikap Saudara ketika mendengarkan firman TUHAN yang menegur anda dengan keras! Atau menyalahkan pengkhotbah dan sempat undur dari persekutuan? Atau Saudara bersyukur ditegur oleh firman yang memperbaiki diri Saudara agar hidup lebih benar?

Tekadku

Ya TUHAN, ampuni jika aku pernah ‘lari’ dari hadapan-Mu ketika perkataan-Mu begitu keras kepadaku. Aku akan sportif dan menerima setiap firman-Mu karena firman-Mu adalah pelita bagi kakiku.

 

Tindakanku

 

Mulai hari ini aku akan sportif merespon firman TUHAN. Tidak hanya menerima firman TUHAN yang menguatkan dan menghibur tetapi juga yang menegurku dengan keras.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»