suplemenGKI.com

Sabtu, 14 April 2012

Mazmur 133

Manakah lebih baik: hidup untuk kebahagiaan diri sendiri ataukah hidup memikirkan kebahagiaan orang lain? Bacaan hari ini mengajak kita untuk mengambil keputusan yang tepat tentang hidup bahagia. Mari kita merenungkannya.

Pendalaman teks Alkitab

1. Ayat 1 : Apakah yang disebut baik dan indah dalam ayat ini?
2. Ayat 2-3: Diumpamakan seperti apakah kebaikan dan keindahan sebuah kerukunan?
3. Apakah Saudara mengalami kesulitan membangun kerukunan?
4. Apakah yang biasanya menjadi hambatan membangun kerukunan?

Renungan 

Mazmur kebijaksaan ini menjelaskan tentang keadaan yang diberkati TUHAN yaitu situasi baik dan indah dalam sebuah kerukunan. Dalam sebuah keluarga, kerukunan antar saudara sangatlah didambakan dan perlu diwujudkan, namun tak jarang antar saudara justru hidup dalam kebencian dan permusuhan atau juga dalam keharmonisan yang semu. Kerukunan sejati lahir dari hati yang dipenuhi terang kasih TUHAN.

Daud menekankan pentingnya hidup dalam kerukunan mengingat pada waktu itu banyaknya “musuh” terselubung dalam kerajaan. Mereka tampak tunduk tapi itu hanya penghormatan semu sebagai siasat untuk mencari peluang mengalahkan Daud. Ini bukanlah kerukunan sejati. Daud membangun budaya kerukunan sejati dengan mengatakan bahwa dalam kerukunan ada kebaikan dan keindahan. Dalam kerukunan berkat TUHAN mengalir.

Daud menggambarkan aliran berkat TUHAN dalam kerukunan bagikan minyak dan embun. Minyak biasanya digunakan untuk adat penyambutan tamu. Sebagai bentuk penghormatan, tamu akan diminyaki pada kepala atau kaki. Minyak juga dipakai untuk penobatan diri Imam. Itulah yang terjadi misalnya pada Harun. Inilah berkat non fisik (berkat rohani) yang dialami umat yang hidup rukun.

Embun Hermon adalah kiasan untuk embun yang berlimpah di musim panas, yang memungkinkan ladang dan pohon berbuah dengan baik. Berkat ini terkait dengan hal-hal yang bersifat ekonomis (berkat jasmani). Jadi jika umat hidup rukun, maka berkat TUHAN yang lengkap akan diterima.

Membangun kerukunan adalah upaya merajut hati. Orang mendekatkan diri satu dengan yang lain, membuka hati untuk menerima keberadaan orang lain dan mempertautkan hati yang satu dengan yang lain. Apakah hal ini mudah dilakukan di masa kini?

Di tengah individualisme yang makin marak, orang hidup untuk dirinya sendiri. Semakin sedikit ruang hati yang dibuka untuk kehadiran orang lain karena orang beranggapan bahwa membuka hati untuk orang lain akan mendatangkan kerepotan bahkan tidak jarang mendatangkan masalah bagi diri sendiri. Itulah sebabnya konflik horizontal di negeri ini semakin sering terjadi.

Bagaimanakah kehidupan persekutuan orang beriman yang hatinya telah dipenuhi terang ALLAH?
Kisah berikut ini memberikan inspirasi tantang merajut hati dalam kerukunan.
Dua orang sahabat sama-sama berjuang dalam Perang Dunia I. Salah seorang mendapat luka dan dengan kesakitan terbaring tanpa pertolongan di daerah yang tak bertuan. Yang lain, dengan mempertaruhkan hidupnya, merangkak ke luar untuk menolong sahabatnya itu. Akhirnya ia sampai di tempat kawannya yang sedang berbaring itu. Dengan penuh perjuangan kawan yang terluka itu mengangkat kepalanya dan mengulurkan tangannya sambil mengucapkan kalimat : “aku tahu bahwa kau akan datang, sobat”. Sesudah itu ia menghembuskan nafas terakhirnya. Di medan perang dalam situasi yang sulit, kerukunan mereka membawa damai di tengah kemelut permusuhan.

Selamat merajut hati, membangun kerukunan di mana saja

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*