suplemenGKI.com

Minggu, 2 November 2014  

Matius 23:8-12

 

Pengantar

Kata melayani saat ini menjadi kata yang dipakai di banyak tempat.  Ada banyak orang mengatakan sedang melayani tapi sebenarnya sedang mengejar jabatan dan kekuasaan. Bahkan orang berebut posisi menjadi pelayan masyarakat namun seringkali mereka hanya melayani kepentingan dan keuntungan diri sendiri. Bagaimanakah kehidupan seorang pelayan yang dikehendaki TUHAN? Marilah kita renungkan!

 

Pemahaman

  • Ayat 8-10  : Mengapa para murid dilarang mengejar jabatan Rabi, Pemimpin dan Bapa? Apakah tujuan TUHAN YESUS mengungkapkan larangan itu?
  • Ayat 11-12: Bagaimanakah kehidupan ideal seorang pelayan yang dikehendaki oleh KRISTUS?

Dalam bagian ini TUHAN YESUS menekankan pengajaran yang benar dan berkenan di hadapan ALLAH. Itulah kehidupan seorang yang dilandasi oleh spiritualitas kerendahan hati. Oleh karena itu para murid dilarang menjadi Rabi, Pemimpin dan Bapa. Pada waktu itu Rabi, Pemimpin dan Bapa adalah tokoh masyarakat yang dihormati banyak orang. Larangan ini tidak bisa dipahami secara hurufiah tetapi perlu dipahami dalam konteks ayat 11: “ Barangsiapa terbesar diantara kamu hendaklah ia menjadi pelayanmu.”  Dalam ayat 11 ini, TUHAN YESUS mengajarkan pada para murid  tentang sikap rendah hati yang siap melayani sesama.

TUHAN YESUS mengajarkan agar para murid menjadi pemimpin sejati yang belajar rendah hati, serta tunduk ke bawah otoritas ALLAH sebagai kekuatan kepemimpinannya. Inilah kepemimpinan yang melayani. Sesungguhnya kehormatan adalah milik TUHAN dan pengaruh kepemimpinan adalah karunia ALLAH yang harus dijalani dalam sikap hamba bukan tuan. Wewenang dan kekuasaaan Rabi,Pemimpin dan Bapa tidak boleh disalahgunakan untuk mencari penghormatan pribadi atau menekan kehidupan orang lain namun justru memberi semangat melayani dalam spriritualitas kerendahan hati.

Dalam kerendahan hati terpancar keluhuran budi. Siapa pun yang mendapatkan kepercayaan untuk menjadi pemimpin, dia mesti siap melayani dengan kerendahan hati, bukan meninggikan diri dan mengejar ambisi mengeruk keuntungan pribadi. Jabatan sebagai pemimpin perlu dihidupi dengan keluhurun budi yang diwarnai kerendahan hati. Itulah kehidupan pemimpin sejati. Seorang pemimpin adalah seorang pelayan.

Refleksi

Dalam keheningan, renungkanlah: apakah  Anda lebih suka melayani ataukah dilayani? Lebih suka dipuji dan dihormati  ataukah memuji dan menghormati? Lebih suka berkorban untuk orang lain ataukah mengorbankan orang lain?

 

Tekadku

Ya TUHAN, mampukanlah aku untuk berkarya  di dunia ini dengan tidak mengejar ambisi yang memperbesar keuntungan diri sendiri

 

Tindakanku

Mulai hari ini aku akan belajar merendah dengan menghargai dan melayani siapa pun.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*