suplemenGKI.com

Kamis, 5 Februari 2015

Mazmur 147: 6-11

Pengantar

Apa reaksi orang tua Anda  jika sikap dan cara hidup Anda menyenangkan hati mereka? Bukankah mereka senang, kegembiraan terpancar dari wajah mereka? Tentulah TUHAN juga tersenyum senang bila melihat kehidupan dan polah tingkah anak-anak-Nya yang selalu berupaya menyenangkan hati-Nya. Itukah kehidupan Anda? Marilah kita merenungkannya!

Pemahaman

  • Ayat 6 – 7 : Apakah yang menjadi alasan Pemazmur mengungkapkan pujian syukur?
  • Ayat 8- 9   : Apa yang hendak dikatakan Pemazmur tentang  TUHAN dalam ayat-ayat ini?
  • Ayat 10-11: Apakah yang dapat menyenangkan hati TUHAN?

Dalam bacaan hari ini, Pemazmur ingin mengungkapkan syukur atas kebesaran kasih dan pemeliharaan TUHAN di alam semesta. Dia, yang menutupi langit dengan awan-awan. Gagasan itu diperluas ke luar batas-batas Israel sehingga mencakup semua makhluk ciptaan. Pemberian TUHAN berupa hujan dan makanan sangat penting, khususnya di negeri di mana langitnya tidak berawan dari bulan April sampai Oktober. Kebaikan dan pemeliharaan TUHAN ini juga  dialami oleh manusia yang lemah dan rapuh tidak berdaya di tengah penderitaannya. (ayat 6). Oleh karena itulah Pemazmur sungguh mensyukurinya.

Dalam mazmur ini, Pemazmur hendak mengatakan bahwa  mensyukuri kebesaran TUHAN  tidak cukup hanya dengan kata-kata tetapi dengan mempersembahkan kehidupan yang menyenangkan hati-Nya. Seperti apakah kehidupan yang menyenangkan hati TUHAN? Yang dimaksud bukan kehidupan yang mengandalkan kekuatan dan kegagahan. Dalam ayat 10, dikatakan bahwa TUHAN tidk suka pada kekuatan fisik manusia (kaki laki-laki yaitu prajurit yang kuat) atau kegagahan binatang kuda (kuda perang yang gagah). Hidup yang menyenangkan hati TUHAN adalah takut akan TUHAN dan dengan rendah hati selalu berharap akan kasih setia TUHAN. Inilah hidup yang mengandalkan TUHAN setiap saat, bukan  mengandalkan kekuatan dan kemampuan sendiri.  Orang yang mengandalkan TUHAN akan selalu mempercayakan hidupnya pada TUHAN dan taat melakukan Firman TUHAN. Di jaman ini hidup menyenangkan hati TUHAN tidaklah mudah sebab ada banyak tantangan dan tawaran yang membuat manusia lebih memilih menyenangkan diri sendiri.

Refleksi

Dalam keheningan, pandanglah wajah Anda di depan cermin. Apakah wajah Anda mencerminkan kemarahan, kejengkelan, keluhan-keluhan yang mendukakan hati TUHAN ataukah syukur dan sukacita hidup yang  menyenangkan hati-Nya?

Tekadku:

Ya TUHAN, mampukanlah  aku menyenangkan hati-Mu dan membuat Engkau selalu tersenyum memandang kehidupanku. Aku mau belajar menyenangkan dan memuliakanMu di sepanjang hidupku.

Tindakanku:

Mulai hari ini aku akan membuat TUHAN tersenyum senang. Aku akan berkata-kata ramah, penuh sukacita dan syukur sekalipun berada di tengah kondisi dan persoalan yang  bisa membuatku marah dan tertekan.  Aku akan selalu tersenyum penuh syukur karena merasa beruntung memiliki TUHAN yang penuh kebaikan sekalipun hidupku sedang “buntung” oleh kegagalan dan pelbagai kesulitan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Next Post
»