suplemenGKI.com

Senin, 23 Maret  2015

Yesaya 50:4-5

Pengantar

Seorang nenek mengalami gangguan pendengaran. Dalam sebuah kebaktian di gereja, dia hanya duduk diam karena dia tidak mendengar apa-apa. Dia melihat pendeta di atas mimbar berkotbah dengan sangat panjang. Lalu dengan keras dia berkata kepada teman yang duduk di sebelahnya: “Apakah kamu tidak bosan mendengar kotbah  ini? Saya sudah lelah, pendeta itu kog betah sekali ya berbicara!” Mendengar akan hal itu semua orang melihat si nenek sambil tertawa. Ternyata telinga yang tak mampu mendengar bisa membuat seseorang berkata-kata dengan tidak tepat.  Inilah pentingnya memastikan apakah telinga kita masih tajam mendengar.  Demikian pula dalam hidup beriman diperlukan telinga yang tajam mendengar. Seperti apakah telinga yang dimaksud? Mari merenungkannya!

Pemahaman

Dalam bacaan Alkitab hari ini,

  • Gambaran apakah yang dipakai untuk menjelaskan identitas kehidupan hamba TUHAN?
  • Adakah hubungan telinga dan lidah dalam karya pelayanan seorang hamba TUHAN ?
  • Mengapakah TUHAN mempertajam pendengaran hamba-Nya setiap pagi?

Bacaan hari ini adalah bagian dari  Nyanyian Hamba TUHAN. Hamba TUHAN tidak digambarkan sebagai seorang nabi tetapi sebagai seorang murid yang berhikmat.  Kehidupan hamba TUHAN yang siap melayani adalah bagaikan kehidupan murid yang mau dipersiapkan oleh TUHAN, Sang Guru Agung.  TUHAN mempersiapkan, membentuk dan memperlengkapi hamba-Nya sedemikian rupa sehingga tiap pagi mempertajam pendengaran hamba-Nya. Bagaikan seorang murid yang sedang belajar, maka syarat utama untuk berhasil adalah mau mendengar Sang Guru. Ini bukan mendengar sambil lalu tapi sungguh-sungguh membuka telinga, hati dan pikiran untuk mendengarkan Firman TUHAN secara cermat dan kesiapan untuk menghidupi Firman TUHAN dalam keseharian. Seorang murid yang mau mendengarkan dengan baik, akan mampu menyerap perkataan dan ajaran Sang Guru dengan baik. Pendengarannya bagaikan pisau yang terus diasah dan dipertajam. Seorang murid yang memiliki pendengaran yang tajam akan menangkap suara Sang Guru dengan tepat, akibatnya dia pun  dimampukan berkata-kata secara tepat. TUHAN  mengaruniakan lidah yang mampu mengatakan apa yang telah didengar oleh telinga. Lidah seorang murid adalah lidah yang tidak sembarangan berbicara tapi lidah yang telah diajar TUHAN berbicara yang benar, tepat serta menjadi berkat  (ay 4). Itulah lidah yang digerakkan oleh pendengaran akan Firman TUHAN. Seorang murid yang perkataannya bersumberkan pendengaran akan Firman TUHAN akan melahirkan kehidupan pelayanan yang menjadi berkat bagi orang lain. Ia akan dimampukan mengucapkan perkataan yang memberikan semangat kepada mereka yang letih lesu.

Refleksi:

Ambillah waktu hening sejenak!  Ucapkan syukur kepada TUHAN atas anugerah telinga dan lidah. Peganglah telinga Saudara! Renungkanlah: “Apakah selama ini aku telah sungguh-sungguh membuka telinga untuk mendengarkan Firman TUHAN? Rasakanlah keberadaan lidah Saudara! Renungkanlah:  Apakah yang telah menggerakkan lidahku untuk berkata-kata? Apakah perkataanku selalu menjadi berkat bagi orang lain?

Tekadku

TUHAN, bentuklah aku menjadi hamba-Mu yang selalu mau mendengarkan Firman TUHAN dan berikanlah kepadaku lidah yang mampu berkata-kata dengan hikmat.

Tindakanku.

Setiap hari aku akan menyediakan waktu yang cukup untuk berkonsentrasi mendengarkan Firman TUHAN dengan tenang, lalu menulis dan mengingat pesan Firman TUHAN yang kudengar.

 

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«