suplemenGKI.com

Senin, 22 Maret 2010

Yesaya 50:4-5

Yesaya 50:4-9a merupakan bagain dari kitab nabi Yesaya yang biasa disebut dengan istilah Deutero-Yesaya. Inilah kitab yang ditulis oleh murid Yesaya di pembuangan dengan memakai nama serta pengaruh Yesaya sebagai legitimisasi dan otoritas berita yang disampaikannya. Deutero-Yesaya memberitakan tentang kedatangan seorang hamba TUHAN (ebed-YHWH). Seperti apakah gambaran “hamba TUHAN” yang dimaksud? Kita akan mendalami gambaran “hamba TUHAN” yang dijelaskan dalam Yesaya 50:4-9a, dalam tiga bagian. Hari ini kita akan mempelajari bagian yang pertama.

Ayat 4 & 5 : Dalam ayat-ayat ini, sosok “hamba TUHAN” digambarkan seperti apa?
Bagaimanakah kehidupan seorang murid yang diungkapkan dalam ayat
ini?

Renungan
Istilah “hamba” (ebed) mengungkapkan tentang “kerja”. Kata ini juga menunjukkan adanya hubungan yang khusus antara si hamba dengan sang tuan (majikannya). Seorang hamba bisa diberi kepercayaan melakukan tanggungjawab yang besar namun bagaimana pun ia tetap milik tuannya. Seorang hamba selalu hidup bergantung pada sang tuan.
Dalam bagian ini, istilah “hamba TUHAN” menunjukkan adanya relasi khusus atau istimewa antara nabi dengan TUHAN. Nabi meyakini bahwa ia adalah milik TUHAN dan karenanya berserah penuh kepada Sang Pemilik. Menjadi hamba dalam relasi istimewa dengan Sang Tuhan bukanlah sekedar sebuah kebanggaan tapi mengandung konsekuensi tanggungjawab kehidupan Dalam hal ini digambarkan kehidupan seorang hamba TUHAN yang diberi tanggungjawab untuk menyampaikan Firman TUHAN yang menguatkan dan memberi semangat baru kepada orang-orang yang letih lesu. Untuk dapat melakukan tanggungjawabnya sebagai pemberita Firman TUHAN, seorang hamba TUHAN menjalani kehidupannya bagaikan seorang murid yang mau mendengar pengajaran Sang Guru agar dapat meneruskan pengajaran itu kepada orang lain. Oleh karena itu seorang hamba mesti memiliki telinga yang tajam (peka) untuk dapat mendengarkan suara pengajaran Sang Guru dengan baik. TUHAN ALLAH pun berkenan membuka telinga hamba-Nya sehingga suara-Nya dapat didengar hamba-Nya dengan baik. Dengan kesediaan menjalani kehidupan seorang murid yang selalu mau mendengar Sang Guru, seorang hamba akan dapat menjalankan tugasnya dengan taat. Dia akan mampu melayani TUHAN dengan lidah yang telah terlatih untuk melakukan tugas pemberitaan Firman.
Semua orang yang mempercayakan dan menggantungkan hidupnya kepada TUHAN adalah milik TUHAN. Kita orang-orang beriman adalah hamba-hamba TUHAN. Sudahkah kita menjalani kehidupan seorang hamba yang menyerahkan telinga kita untuk sungguh-sungguh mau mendengar perkataan pengajaran dari TUHAN? Sudahkah kita menjadi hamba yang memiliki lidah yang terlatih mengucapkan perkataan yang memberikan semangat baru kepada orang-orang yang letih lesu? Ada orang-orang yang mengaku sebagai hamba-hamba yang melayani TUHAN, rajin melakukan kegiatan pelayanan, namun kurang mau menyediakan waktu untuk mendengar suara pengajaran TUHAN. Akibatnya pelayanannya hanyalah sebuah kesibukan yang digerakkan oleh kehendak sendiri. Dia tidak melayani kehendak TUHAN tapi melayani kehendak sendiri. Seorang hamba berkarya bukan untuk melakukan kehendaknya sendiri karena itu dia harus mau mendengar suara TUHAN yang menyatakan kehendak-Nya.
Kualitas pelayanan seorang hamba akan sangat ditentukan seberapa banyak dia mau belajar dan mendengar suara Sang Tuan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

2 Comments for this entry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*