suplemenGKI.com

MAZMUR 23

Sekelompok orang dengan kemampuan super mengambil tindakan untuk bersatu dan membela bumi. Bumi mendapat ancaman dari makhluk asing yang memiliki kemampuan super yang dahsyat. Demikian hebatnya ancaman itu sehingga satu orang superhero saja belum cukup mengatasi tantangan tersebut. Tentu saja ini adalah cerita rekaan yang diangkat dari komik Marvel yang sudah terkenal menciptakan berbagai tokoh superhero. Siapapun, jika memungkinkan, akan merasa bangga dan terhormat bila bisa bergabung dengan para tokoh superhero pembela bumi tersebut.
Apakah kita baru beroleh kebanggaan jika kita berada di dalam suatu kelompok eksklusif? Sekumpulan orang yang pada suatu momen peristiwa melakukan hal-hal yang berdampak besar bagi masyarakat luas. Dan bagaimana kondisi kita saat ini? Apakah kita merasa seperti tidak memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan kepada orang lain? Apapun yang kita kerjakan seolah-olah tidak menarik untuk diceritakan kepada kerabat maupun lingkungan lain yang lebih luas.
Kita bisa menarik pelajaran penting dari seorang tokoh, yakni Daud. Pada masa mudanya, Daud sehari-hari bergaul dengan sekumpulan domba. Dan besar kemungkinan itu bukan pilihan Daud sendiri, melainkan tugas yang harus diembannya sebagai seorang anak, dari suatu keluarga besar. Sementara itu kakak-kakaknya punya pekerjaan yang lebih bergengsi, yaitu menjadi prajurit raja Saul.
Dengan pelahan tapi pasti—sesuai dengan urapan yang diberikan nabi Samuel, Daud makin dekat dengan takhta Israel. Allah yang menyuruh nabi Samuel mengurapi Daud, maka Dia pula yang menuntun dan mendidik Daud sehingga pada waktu-Nya dia benar-benar dilantik menjadi raja Israel. Jadilah dia seorang raja yang sampai hari ini kebesarannya dalam sejarah bangsa Israel sulit ditandingi oleh siapapun!
Tetapi Daud dalam Mazmur 23 menyamakan dirinya sebagai domba! Domba bukanlah sosok binatang yang gagah, bahkan cenderung lemah, suka mencari jalan sendiri, sehingga sering tersesat dan sebagai akibatnya jatuh dalam jurang atau habis binasa diterkam binatang buas. Oleh karena itu domba wajib punya gembala. Gembala yang baik serta bertanggungjawab penuh terhadap kebutuhan domba-dombanya. Membawa domba-domba yang kelaparan dan kehausan itu ke padang yang berumput hijau dan ke sumber mata air yang jernih. Melindungi para domba dari pemangsa buas yang siap menerkam! Sekali lagi sangat unik membaca catatan yang demikian indah dari seorang raja dan mantan gembala, yang menempatkan diri sebagai domba!
Anda dan saya juga adalah domba-domba-Nya. Apakah kita selaku domba-domba-Nya dapat menyatakan, “Tuhan adalah Gembalaku dan tak kan kekurangan aku!” Atau sebaliknya kita masih menjadi domba yang masih suka mencari jalan sendiri. Dan sebagai akibatnya kita mendapati diri kita tersesat, masuk jurang nestapa dosa yang dalam atau nyaris menjadi santapan iblis yang buas! Mari kita belajar menjadi domba-domba yang baik dan penurut, selalu dengar-dengaran suara Gembala Agung kita, karena DIA telah memberikan hidup-Nya bagi domba-dombanya, yaitu siapapun yang percaya kepada-Nya! Kematian serta kebangkitan-Nya memungkinkan kita berada dalam hidup yang penuh kasih karunia, hidup dalam gembalaan-Nya!
Akhirnya Andalah yang harus membuat keputusan penting ini : Menjadi domba-Nya atau menjadi domba yang tanpa gembala. Domba tanpa gembala adalah santapan yang empuk bagi pemangsa! Putuskan sekarang juga untuk kembali kepada Gembala Agung kita, yang sudah memberikan nyawa-Nya bagi kita! PETA

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*