suplemenGKI.com

Menjadi Anak Bapa Yang Kudus - GKI Residen Sudirman
Bacaan Yoh 3:1-17

Seorang anak biasanya mewarisi apa yang dimiliki oleh bapanya, sehingga seorang anak dianggap mirip dengan bapanya. Kemiripan seorang anak dengan bapanya bukan hanya dalam bentuk fisik saja tapi juga dalam sifat-sifatnya. Kemiripan ini terjadi karena anak dilahirkan dari benih kedua orang tuanya. Hal itu dapat terjadi karena mereka (baik bapa maupun anak) sedarah, ini adalah kondisi jasmani dari manusia. Bagaimana kalau hubungan bapa dan anak dalam keadaan rohani?

Dalam Yohanes 3:1-17, menjelaskan tentang hubungan rohani antara Bapa dan anaknya. Nikodemus seorang pengajar agama Yahudi, tidak mengerti akan kelahiran kembali dalam Roh. Nikodemus hanya berpikir bahwa kelahiran itu dimengerti secara jasmani saja, sehingga baginya kelahiran baru merupakan hal yang aneh dan sama sekali baru. Yesus menjelaskan bahwa apa yang dilahirkan dari daging adalah daging dan apa yang dilahirkan Roh adalah roh. Daging selalu berkaitan dengan hal-hal duniawi dan Roh berkaitan dengan hal-hal sorgawi. Keduanya ini tidak mungkin dapat bersatu dalam diri manusia. Oleh sebab itu Yesus berharap bahwa Nikodemus perlu dilahirkan kembali agar dapat melihat perkara-perkara sorgawi. Yesus mengadakan pendekatan kepada Nikodemus dengan menceritakan tokoh Israel yang terkenal yaitu Musa.

Musa dalam kepemimpinannya pernah meninggikan patung ular dipadang gurun, untuk menolong mereka yang telah dipagut ular waktu memberontak kepada Tuhan. Semua orang yang telah dipagut ular seharusnya mati,namun ketika mereka melihat patung ular tersebut mereka selamat. Sama dengan hal itu, Yesus katakan bahwa Anak Manusia harus ditinggikan supaya setiap orang yang percaya kepadaNya mendapatkan keselamatan (dilahir barukan) atau beroleh hidup kekal.

Setiap orang yang telah lahir baru disebut sebagai anak-anak Allah (yoh1:12), kalau kita sebagai anak –anak Allah maka seharusnyalah sifat-sifat Allah itu muncul dalam kehidupan kita, antara lain kalau Allah itu kudus, maka kekudusan itu juga menjadi ciri hidup sebagai orang yang telah percaya kepada-Nya. Bapa telah memberikan Roh-Nya yang kudus kepada kita agar kita dimampukan untuk hidup kudus dalam dunia ini. Mari kita senantisa menyadari bahwa Allah menghendaki kekudusan kita bukan hanya karena Allah kudus, namun karena kita juga anak-anak-Nya. Amin.                                ( Dj )

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*