suplemenGKI.com

Bagian 1

Pengantar

Bayangkan bahwa seporsi kepiting saus Padang tersedia di hadapan Anda. Membayangkan kelezatannya, Anda pun ingin langsung menyantapnya.  Benarkah demikian?  Mungkin ya, mungkin tidak.  Tidak semua orang suka berurusan dengan kepiting.  “Memang lezat, tapi repot!” begitu keluhan mereka.  Sebagian orang mungkin harus puas hanya menikmati sausnya, karena enggan berjuang untuk memperoleh daging kepitingnya.  Sebagian yang lain malah memilih untuk melewatkan makanan lezat itu sambil menelan air liurnya.

Makan kepiting memang membutuhkan “seni” dan ketrampilan tersendiri.  Mereka yang terampil akan bisa menikmati lezatnya daging kepiting itu di setiap incinya.  Mulai dari helai kecil di bagian kaki-kakinya, bongkahan besar dan kenyal di bagian capitnya, hingga daging yang empuk dan gurih yang terselip-selip di bagian dadanya. Mereka yang terampil bisa mengeluarkan daging itu dengan utuh sehingga dapat menikmati rasa sekaligus tekstur daging kepiting yang lezat itu. Sedangkan mereka yang kurang terampil hanya memperoleh sebagian kecil dari kenikmatan tersebut.  Karena itu mereka berkata bahwa kelezatannya tidak sebanding dengan kerumitannya.

Gambaran yang serupa juga terjadi bila kita beribadah di GKI.  Ibadah di GKI itu unik seperti kepiting.  Perlu “seni” dan ketrampilan untuk menikmatinya.  Untuk tujuan itulah artikel ini ditulis.  Dua kali penerbitan Ambil dan Bacalah ini diharapkan dapat menolong kita untuk dapat lebih menikmati ibadah di GKI, mengambil dagingnya dengan cara yang benar dan dipuaskan oleh kelezatannya dan dikenyangkan oleh gizinya.

Liturgi dan Kehidupan Sehari-hari

Apa hubungan antara ibadah dengan kehidupan sehari-hari?  Jawabnya dapat kita telusuri dari asal-muasal istilah liturgi.  Liturgi berasal dari bahasa Yunani leitourgia.  Leitourgia dibentuk dari dua kata, laos yang berarti publik atau masyarakat dan ergon yang berarti karya atau pekerjaan.  Jadi leitourgia dapat diterjemahkan sebagai karya masyarakat.  Dalam Perjanjian Baru, leitourgia diterjemahkan sebagai pelayanan (misal: 2 Kor 9:12 dan Fil 2:25).  Dalam Septuaginta (yaitu Perjanjian Lama yang diterjemahkan dalam bahasa Yunani) kata leitourgia juga digunakan untuk menterjemahkan istilah Ibrani abodah (yang berarti ibadah).  Dalam pengertian yang sempit liturgi berarti ibadah, dalam pengertian yang luas liturgi berarti keseluruhan hidup orang Kristen di tengah masyarakat.

Dengan demikian sangat jelas bahwa ibadah dan liturgi sangat berhubungan dengan kehidupan kita sehari-hari.  Ibadah yang tidak terkait dengan kehidupan sehari-hari akan menjadi rutinitas yang kering, yang bahkan bisa mengarah kepada kemunafikan.  Sebaliknya, ibadah kita akan lebih hidup dan lebih bermakna bila kita menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.  Bagaimana caranya? Kita bisa melakukannya dari dua arah.  Pertama, kita membawa pergumulan hidup kita sehari-hari ke dalam ibadah kita.  Ibadah adalah kesempatan terbaik untuk membawa seluruh pergumulan kita – dosa-dosa, ketakutan-ketakutan, kelemahan-kelemahan, dan rencana-rencana kita – di hadapan Tuhan.  Kedua, kita membawa apa yang kita terima di dalam ibadah – sabda Tuhan, motivasi, semangat, dan sukacita – ke dalam kehidupan sehari-hari.

Upaya menghubungkan ibadah dengan kehidupan sehari-hari sangatlah penting.  Salah satu bentuk upaya yang dapat kita lakukan adalah dengan menjadikan nyanyian liturgi kita (yaitu lagu-lagu dari KJ, NKB, dan PKJ) sebagai nyanyian sehari-hari: di rumah, di kantor, di dalam mobil, dan di kamar mandi.  Memang tidak mudah menghafalkan lagu-lagu tersebut. Tapi bukan berarti tidak bisa.  Cobalah mulai sekarang.  Saya yakin, Anda akan lebih menikmati ibadah Minggu di GKI.

Karakteristik Liturgi GKI

Agar dapat melaksanakan dan menikmati liturgi GKI, sangatlah penting bagi kita untuk mengenal setiap bagiannya.  Pembahasan mengenai bagian-bagian liturgi GKI akan kita tempatkan dalam penerbitan Ambil dan Bacalah edisi yang akan datang.  Pada edisi ini kita akan lebih dahulu berkenalan dengan karakteristiknya secara umum. Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui.

Pertama, teratur.  Keteraturan adalah salah satu ciri yang menonjol dalam liturgi GKI.  Liturgi berperan sebagai penjaga keteraturan ibadah dari awal hingga akhir.  Keteraturan ini diperlukan agar kita dapat menggunakan seluruh waktu ibadah itu dengan efektif dan efisien.  Sayang sekali, keteraturan ini justru sering dilihat dari sisi-sisi negatifnya: formal, kaku, dan membosankan.  Anggapan ini, tentu saja, tidak benar.  Pertama, kesan kaku dan formal tidak akan terjadi bila dalam setiap bagian liturgi berusahalah melibatkan hati Anda.  Kedua, kebosanan tidak akan terjadi bila Anda mengenal bagian-bagian liturgi dengan baik.  Pada kenyataannya, mereka yang mengeluh bahwa liturgi GKI itu kaku dan membosankan adalah  orang-orang yang tidak mengenal liturgi ini dengan baik.  Sebaliknya, semakin lama beribadah di GKI dan semakin akrab dengan liturginya, kita akan semakin dapat menikmati ibadah itu.  Jadi, berusahalah semakin mengenal liturgi GKI agar Anda dapat semakin menikmatinya.

Kedua, liturgi GKI dirancang untuk menuntun kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan.  Secara keseluruhan liturgi itu menceritakan kisah perjumpaan manusia dengan Allah. Oleh setiap bagian liturgi itu kita dibawa mengalir menyusuri kembali (napak-tilas) karya keselamatan Allah bagi manusia.  Cara terbaik untuk menikmati liturgi ini adalah dengan mengikutinya seperti mengikuti sebuah aliran sungai.  Liturgi GKI dilakukan dari satu bagian ke bagian berikut, secara mengalir.  Karena itu kita tidak menjumpai kalimat-kalimat seperti, “Mari kita ulangi sekali lagi refrainnya!” atau “Saya melihat Saudara-saudara masih kurang bersemangat.  Mari kita menyanyikannya dengan lebih semangat!” Ajakan atau teguran seperti itu malah dapat menjadi interupsi-interupsi yang mengganggu perjalanan kita.  Sebaliknya, kita harus berupaya agar liturgi ini berjalan mengalir selancar mungkin.  Semakin mengalir, semakin nikmat pula liturgi GKI.

Ketiga, kisah perjumpaan manusia dengan Allah itu disusun dalam bentuk dialog. Dalam ibadah GKI, jemaat yang hadir tidak ditempatkan sebagai penonton atau peserta (yang hanya mengikuti instruksi seorang pemimpin ibadah).  Dalam setiap bagian liturgi ini terdapat jemaat harus memberikan respon terhadap panggilan, anugerah, berkat dan pengutusan yang diberikan Tuhan kepada mereka.  Dengan kata lain, liturgi GKI dapat dilaksanakan dengan baik hanya apabila jemaat terlibat secara aktif.  Jadi sangatlah penting bagi Anda untuk memberikan respon itu dengan sungguh-sungguh.  Jika Anda harus merespon dengan nyanyian, nyanyikanlah dengan sungguh-sungguh.  Jika Anda harus merespon dengan kalimat salam atau ungkapan syukur, ucapkanlah dengan segenap hati.

Keempat, perjumpaan kita dengan Allah itu tidak kita nikmati seorang diri, melainkan bersama-sama dengan jemaat yang lain.  Liturgi ini tidak dirancang untuk ibadah pribadi, melainkan untuk mewujudkan perjumpaan Allah dengan umat-Nya secara komunal.  Ini berarti bahwa semakin erat persekutuan kita dengan sesama semakin baik pula kualitas ibadah kita.  Dalam pengertian yang lebih sederhana, semakin Anda mengenal orang-orang di sekitar Anda semakin nikmat pula ibadah Anda.  Jika demikian, sangatlah baik bila di setiap kesempatan – sebelum atau sesudah ibadah – Anda berusaha mengenal jemaat lain yang duduk di sekitar Anda.

Nah, sekarang Anda sudah mengenal beberapa ciri khusus liturgi GKI.  Mulailah mempraktekkan beberapa saran latihan di atas, dan rasakanlah bedanya.  “Kepiting saos Padang” itu pasti akan terasa jauh lebih nikmat.

Selanjutnya nikmati bagian keduanya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

4 Comments for this entry

  • Salam dalam nama Yesus Kristus, aku ngin sungguh -sungguh mengikut Tuhan Yesus. Tolong doakan aku pak supay aku lebih dekat lagi pada Tuhan Yesus. Dismar Padang

  • Stefanus says:

    Pasti pak, saya akan ikut doakan bapak, TUhan bersama dengan bapak.

  • Aku teringat 12 Tahun lalu masih melayani bersama di GKI Ressud dengan teman2 Pemuda. K, Stefanus, Dita, Yongky, Arif, Ningsih , Alben, Lisa Lia ,Buce, Pipin and masih banyak lagi.salam dalam kasih Tuhan smua ya??? tuk Pdt.Djusianto, Pdt.Naning and Pdt.Timotius Wibowo.

  • Michael Lius says:

    bisa tanya liturgi GKI Ressud?
    mohon bantuannya :)

    #michael di surabaya

1 Trackback or Pingback for this entry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*