suplemenGKI.com

Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Lukas 9:62

Pada tanggal 8 April 1934, sebuah patung seekor anjing didirikan di setasiun Shibuya, kota Tokyo, Jepang. Sejak itu pula setiap tanggal 8 April orang memperingati hari kesetiaan Hachiko, seekor anjing milik almarhum Prof Ueno, seorang guru besar di Universitas Tokyo. Rupanya keduanya telah menjadi sahabat, bahkan sebelum Hachiko dibawa serta oleh tuan dan sahabatnya, Prof Ueno ke Tokyo pada tahun 1924. Setiap hari Hachiko mengantar Prof Ueno berangkat kerja dan mereka berpisah di stasiun Shibuya. Setiap sore Hachikopun kembali ke stasiun Shibuya untuk menjemput tuan dan sahabatnya itu. Sayang setahun kemudian Prof Ueno mengalami serangan stroke di kampus dan sejak saat itu Hachiko tak pernah melihatnya lagi di stasiun Shibuya. Namun setiap sore hingga 10 tahun kemudian, Hachiko masih tetap setia datang untuk menjemput Prof Ueno, sampai ajal akhirnya menjemputnya. Selama itu orang-orang yang pernah melihat Hachiko bersama Prof Ueno banyak yang iba dan terharu. Tak sedikit yang menyapa dan memberinya makan. Untuk mengenang kesetiaan Hachiko, patungnya diabadikan di setasiun Shibuya.

Rasul Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Roma menulis: “Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar—tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati. Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Roma 5:7-8). Tuhan Yesus bukan sekedar seorang sahabat seperti Prof Ueno bagi Hachiko. Ia adalah Tuhan sekaligus Juru Selamat yang sangat peduli dan mengasihi kita, bahkan rela mati untuk menebus kita dari kuasa dosa dan maut. Jika Ia adalah TUHAN dan JURU SELAMAT kita (bukan sekedar tuan, seperti Prof Ueno bagi Hachiko) pertanyaannya “maukah” kita mengikut Dia dan menjadi pelayanNya? Banyak orang hanya “percaya” dan mau menerima kasih karuniaNya, namun untuk menyerahkan diri sepenuhnya mereka perlu berpikir beberapa kali. Mereka mengira ada kehidupan yang lebih “indah” dan “berharga” ketimbang hidup bersamaNya.

Ada juga orang, yang seperti Nabi Elia tatkala diancam Izebel (I Raja-raja 19), melihat masalah dalam hidupnya jauh lebih besar dari TuhanNya seakan Tuhan tak akan mampu untuk memberinya jalan keluar yang penuh kemenangan. Untuk mematuhi perintahNya, ia berpikir beberapa kali dan menimbang “untung-ruginya”. Mari kita belajar seperti Pemazmur yang mengatakan: “Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah” (Mazmur 16). Barangkali kita perlu mencontoh Hachiko ketika memandang tuan dan sahabatnya, Prof Ueno.

Ini bukan masalah paham atau tidak, bukan masalah mampu atau tidak, tetapi “mau atau tidak” kah kita? Selamat mengikut Yesus dan menjadi pelayanNya.
( AT )

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*