suplemenGKI.com

 

Kamis,  11 September 2014

Roma 14:1-4

Pengantar

Di sepanjang sejarah gereja ada perbedaan pandangan tentang ajaran-ajaran iman Kristen yang diperdebatkan. Hal ini terkait dengan perbedaan penafsiran terhadap ajaran Firman TUHAN. Dalam rangka menemukan kebenaran, berbeda pandangan itu wajar namun perdebatan akan perbedaan pandangan itu tak boleh menodai kasih persekutuan gereja. Bagaimanakah nasihat Rasul Paulus bagi jemaat Roma yang sedang dilanda konflik ajaran? Marilah kita merenungkannya!

 Pemahaman

  • Ayat  1-2 : Siapakah yang dimaksud dengan orang yang lemah  imannya? Mengapa mereka harus diterima?
  • Ayat 3-4  : Bagaimanakah kuasa TUHAN bekerja dalam diri mereka yang lemah imannya?

Dalam kehidupan jemaat Roma ada dua golongan yang sedang memperdebatkan makanan yang boleh dimakan dan hari yang lebih penting. Dua golongan ini disebut Paulus dengan orang  yang kuat iman dan orang yang lemah iman. Orang yang lemah imannya memegang aturan hukum Taurat secara ketat sedangkan orang yang kuat imannya berpikir lebih luas daripada aturan yang ketat. Mereka cenderung saling menghakimi. Golongan yang lemah hanya makan sayur-sayuran sedangkan golongan yang kuat makan segala jenis makanan. Golongan yang kuat cenderung merendahkan atau menyepelekan cara berpikir mereka yang memegang kuat aturan dan menyebut cara berpikir mereka kuno dan sempit. Sebaliknya golongan yang lemah menilai pola pemikiran mereka yang kuat sebagai pola pikir yang ceroboh dan liberal.

Tampaknya Rasul Paulus bersimpati terhadap golongan yang kuat  namun berharap mereka dapat menerima orang-orang yang lemah imannya sebagai saudara dan tidak menyerang mereka dengan kritikan terus menerus. Sekalipun golongan yang lemah menjadi orang Kristen legalis yang tidak menghayati kemerdekaan Kristiani dan memandang agama Kristen hanya sebagai kumpulan peraturan yang harus ditaati namun kuasa TUHAN bekerja dalam diri mereka. Oleh karena itu sesama saudara seiman tidak boleh saling menghakimi. Masing-masing golongan mempertanggungjawabkan penghayatan dan pandangannya pada TUHAN. Paulus mengingatkan bahwa semua orang Kristen adalah hamba-hamba ALLAH yang harus bertanggung jawab pada ALLAH. Jika orang tulus hidup menurut prinsip-prinsip ALLAH maka ALLAH akan menolong dia untuk teguh berdiri. Sikap saling merendahkan dan saling menghakimi harus dijauhkan dari kehidupan persekutuan gereja. Tugas kita adalah berusaha bersimpati dan belajar mengerti mereka yang berbeda dengan kita sehingga kita dapat menerima mereka sebagai saudara.

Refleksi

Dalam keheningan renungkanlah apakah Saudara sering merasa paling benar dan paling baik?

Apakah Saudara suka mencela, merendahkan atau menertawakan pendapat orang lain?

Tekadku

Ya TUHAN, mampukanlah aku menerima keberadaan mereka yang lemah imannya sekalipun mereka berbeda pandangan dengan aku.

Tindakanku

Mulai hari ini aku belajar mendengar dan berupaya mengerti pandangan orang lain.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*