suplemenGKI.com

Senin, 24 Juni 2013

I Raja-raja 19:15-21

Pengantar
Yonathan adalah seorang pengusaha muda yang cukup sukses. Ia mewarisi usaha yang telah dibesarkan orang tuanya. Selama ini hidupnya serba mudah, juga dalam kenyamanan dan kecukupan materi. Ia merasa memiliki masa depan yang cerah. Pada suatu hari dalam sebuah KKR, ia merasa terpanggil untuk menjadi seorang misionaris yang akan dikirim ke pedalaman Papua. Ia pun meninggalkan pekerjaan dan kenyamanan hidupnya dan membaktikan hidupnya ke ladang pelayanan pekabaran Injil.

Menempuh jalan hidup yang baru bukanlah perkara mudah. Pada umumnya orang cenderung ingin berada dalam zona nyaman, apalagi kalau dia sudah memiliki pekerjaan dan kehidupan nyaman yang dinikmatinya. Dibutuhkan keberanian mengambil keputusan: mau berkorban meninggalkan kemapanan dan kenyamanan dalam kehidupan lama. Itulah yang akan kita renungkan hari ini.

Pemahaman
• Ayat 15-18 : Apakah tugas yang diberikan TUHAN kepada nabi Elia?
• Ayat 19        : Bagaimanakah cara Elia memanggil Elisa menjadi nabi yang akan menggantikannya?
• Ayat 20-21 : Bagaimanakah respon Elisa terhadap panggilan yang dinyatakan oleh nabi Elia?

Dalam bacaan ini dikisahkan tentang tugas yang diberikan TUHAN kepada nabi Elia. Dari padang gurun kesunyian Elia diutus kembali berkarya. Kali ini TUHAN mengutus Elia mengurapi 3 orang pemimpin (Hazael, Yehu dan Elisa) yang akan membawa umat-Nya hidup setia kepada TUHAN. Setelah Elia pergi dari sana, ia bertemu dengan Elisa bin Safat. Pada saat itu Elisa sedang bekerja membajak dengan dua belas pasang lembu. Elia melemparkan jubahnya pada Elisa sebagai tindakan simbolis untuk menunjukkan bahwa kuasa dan wewenang Elia, sang nabi yang akan purna bakti itu, kini ada di pundak nabi yang lebih muda yaitu Elisa. Elisa pun menanggapi panggilan menjadi nabi TUHAN. Untuk itu, dia meninggalkan pekerjaannya. Ia musnahkan alat pertaniannya dan disembelihnya lembunya. Ia tinggalkan mata pencahariannya. Hal ini menyatakan tekad Elisa untuk menempuh jalan hidup yang baru sama sekali.

Keputusan Elisa meninggalkan orang tua dan pekerjaannya tentu bukan hal yang mudah. Sebagai seorang muda yang dipersiapkan menjadi nabi, ia harus memulai langkah baru menjadi pelayan Elia dan mengikuti Elia kemana pun pergi. Keberanian Elisa mengambil keputusan menerima panggilan menjadi nabi membutuhkan komitmen untuk memulai jalan hidup baru yang sangat berbeda dengan kehidupan lamanya. Elisa berani meninggalkan kenyamanan dan ketenangan hidupnya sebagai petani dan menjalani hidup dalam perjalanan yang belum tentu nyaman. Ia tahu ada kuasa TUHAN yang menaunginya. Di jaman ini, masih adakah orang yang berani mengambil keputusan seperti Elisa?

Refleksi
Dalam keheningan rasakanlah kehadiran TUHAN. Pikirkanlah apakah panggilan pelayanan yang TUHAN nyatakan pada Saudara? Beranikah Saudara menjawab panggilan pelayanan yang TUHAN nyatakan? Beranikah Saudara kehilangan kesenangan dan kenyamanan demi melayani TUHAN?

Tekadku
TUHAN, mampukanlah aku untuk berani menjawab panggilan pelayanan yang Engkau nyatakan dengan penuh semangat walaupun akan menghadapi berbagai ketidaknyamanan dan kesulitan.

Tindakanku
Hari ini aku akan mengambil keputusan berani menempuh jalan hidup yang baru:
a. Melayani TUHAN di bidang……..
b. Bukan mengejar kesenangan dan kenyamanan diri dalam pelayanan tapi berani kehilangan kenyamanan demi pelayanan bagi TUHAN.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*