suplemenGKI.com

Minggu, 14 Maret 2010; Lukas 15:11-32

 Pada dasarnya ketiga perumpamaan “Yang hilang” ini adalah sama, yaitu untuk menunjukkan betapa senangnya Allah terhadap pertobatan orang-orang berdosa. Namun demikian dinamikanya sangat berbeda. Mari kita perhatikan bersama.

  • Hal apa yang mendorong si Bungsu untuk meminta bagian harta milik yang akan menjadi warisannya serta kemudian merantau serta memboroskan seluruh harta miliknya tersebut (ay. 11-15)
  • Mengapa si Sulung menjadi marah sedemikian rupa tatkala melihat kepulangan adiknya serta penyambutan ayahnya itu?
  • Apa yang diajarkan perumpamaan ini tentang dosa, pertobatan dan kasih Allah?

 

Renungan:

Rangkaian perumpamaan “Yang hilang” kian menuju klimaks, termasuk dosa yang terjadi. Domba itu tersesat, koin dirham itu terselip, tapi si bungsu ini menjadi anak yang murtad. Betapa tidak, ia meminta warisan selagi ayahnya masih hidup. Hal ini sama dengan ia berkata, “Ayah, aku berharap engkau sudah mati”. Sebab warisan hanya diberikan ketika seseorang sudah meninggal dunia. Hati ayah itu pasti terluka karena perbuatan anaknya itu. Mungkinkah si bungsu itu tidak menyadari konsekwensi dari permintaanya? Ia mendoakan ayahnya meninggal. Ini adalah pemberontakan terselubung. Dan ketika ia pergi meninggalkan rumahnya, sebenarnya ia ingin terlepas dari kontrol keluarganya.

Kadang kita juga tidak menyadari bahwa kita sedang memberontak. Yang kita pikirkan hanyalah keuntungan diri sendiri. Kita tidak puas dengan tinggal di rumah Tuhan, berada dalam pemeliharaan Allah. Akibatnya? Kita kemudian memberontak, meninggalkan rumah Tuhan, tidak lagi datang ke persekutuan atau kebaktian yang ada. Kita merasa bisa mencukupi kebutuhan sendiri, seakan kita tidak lagi membutuhkan pemeliharaan Allah.

Seperti halnya si bungsu yang kemudian pergi jauh serta hidup dalam foya-foya kemewahan. Demikian pula halnya dengan kita yang pergi jauh, menjauhkan diri dari kontrol orangtua, agar dapat lebih leluasa, bahkan sekiranya mungkin, memuaskan seluruh hawa nafsu kita. Tanpa menyadari bahwa bencana akan tiba sewaktu-waktu. Bencana kelaparan tiba, kita mencoba bertahan dan bertahan. Namun kekuatan kita ternyata terbatas dan tidak mampu mengatasinya. Dalam keadaan demikian, barulah kita mengingat pemeliharaan Allah, dan kita membutuhkannya.

Adakah kita menyadari, bahwa Bapa yang telah dilukai, bahkan telah dilecehkan dengan diharapkan kematiannya itu ternyata sedang menunggu. Kasihnya itu membuat dia menanti. Seakan tahu bahwa akhir dari petualangan anaknya adalah tragedi, Bapa itu menanti kepulangan anaknya. Itulah sebabnya ketika si Bungsu ini benar-benar kembali, meski masih jauh, Bapa itu sudah melihatnya. Demikian pula dengan kita. Adakah kita menyadari bahwa Allah, yang hati-Nya sudah sedemikian sering kita lukai, tengah menanti kita untuk kembali kepada-Nya? Amin.

 Kesabaran kasih itu sepanjang sebuah penantian

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*