suplemenGKI.com

Menabur Iman, Menuai AnugerahNya - GKI Residen Sudirman

Roma 4:1-3

“Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” (Roma 4:3b)

Mungkinkah seseorang beragama tanpa beriman? Seharusnya, tidak. Agama adalah suatu sistem yang mengatur tata keimanan dan peribadatan kepada Tuhan. Tradisi dan ritual suatu agama disusun, dilakukan dan dipelihara untuk membantu pemeluknya agar dapat menghayati dan mengekspresikan imannya dengan baik.

Namun demikian, seiring dengan perjalanan waktu, hubungan antara agama dan iman ternyata tidak selalu terjalin erat. Ketika tradisi dan ritual itu dilakukan dari waktu ke waktu, atau bahkan dari generasi ke generasi, faktor iman itu perlahan-lahan tersingkir. Biasanya tanpa disadari. Tradisi dan ritual tetap dilakukan, namun tidak lagi didasari oleh iman. Orang-orang tetap mengerjakan apa yang sudah menjadi kebiasaan, tanpa merasa perlu bertanya apa maknanya. Jadi, mungkinkah seseorang beragama tanpa beriman? Pada kenyataannya, ya.Karena itulah Paulus dengan mengajak orang-orang Kristen di Roma – khususnya mereka yang berlatar belakang Yahudi – untuk mendiskusikan hal ini dengan serius . Rupanya selama ini mereka masih beranggapan bahwa keselamatan bisa diperoleh dengan mengerjakan tradisi dan ritual keagamaan. Mengoreksi kesalahan mereka, Paulus menegaskan pentingnya faktor iman untuk mecapai standar kebenaran yang ditetapkan Allah. Argumentasi Paulus mengenai hal ini dipaparkan di ayat-ayat sebelumnya (3:21-31).Dalam bacaan kita hari ini, Roma 4:1-3, Paulus mengajukan Abraham sebagai bukti dari argumentasinya. Abraham adalah leluhur yang sangat dihormati oleh orang-orang Yahudi. Dalam Perjanjian Lama Abraham disebut sebagai sahabat Allah, dan orang-orang Yahudi sangat bangga disebut sebagai keturunan Abraham (2 Taw 20:7; Yesaya 41:8). Sangatlah penting bagi mereka untuk melihat dan mengerti bahwa Abraham juga dibenarkan karena iman, bukan karena perbuatannya. Iman Abraham itulah yang melandasi perbuatannya, bukan sebaliknya. Merujuk kepada kehidupan Abraham, Paulus menegaskan dua hal penting. Pertama, perbuatan Abaraham tidak dapat digunakan sebagai dasar yang cukup untuk berdiri dengan layak di hadapan Tuhan. Perbuatan Abraham mungkin bisa dibanggakan di depan manusia, namun tidak di hadapan Tuhan. Prinsip yang sama tentu berlaku untuk kita. Kita mungkin mendapat pujian dari orang lain atas apa yang kita lakukan: prestasi kita, pertolongan yang kita berikan, pelayanan yang kita kerjakan, kemurahan hati yang kita tunjukkan, atau bahkan ibadah yang rutin kita laksanakan. Namun, jangan hendaknya kita berpikir bahwa itu semua dapat kita gunakan untuk membanggakan diri di hadapan-Nya.Kedua, iman Abraham kepada Tuhan itulah yang menjadi faktor penting hingga Abraham dibenarkan di hadapan Tuhan. Prinsip yang sama tentu berlaku untuk kita. Kita harus waspada terhadap kecenderungan kita memelihara tradisi dan ritual keagamaan, namun lupa memelihara iman kita. Tanpa iman, tradisi dan ritual keagamaan tidak akan membawa kita kepada kebenaran. (TW)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«