suplemenGKI.com

Kamis, 9 September 2010; Mazmur 51:12-21

Kemarin kita telah belajar dari kesungguhan hati raja Daud ketika memohon pengampunan dari Tuhan. Ia benar-benar menunjukkan pertobatannya melalui pengakuan yang tulus. Namun, pertobatan yang sejati tidak berhenti pada pengakuan dan memohon pengampunan yang sungguh-sungguh. Masih ada langkah selanjutnya untuk menyempurnakan pertobatan tersebut.

- Apa yang diminta raja Daud setelah mengaku dosa dan memohon pengampunan?

- Mengapa Daud meminta, ” Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku”? Apa arti permintaan itu?

- Apa yang akan dilakukan Pemazmur bila Tuhan sudah memberikan pengampunan-Nya?

Renungan:

Setelah mengakui segala dosanya dan juga memohon ampun, Daud meminta kepada Tuhan untuk memperbaharui batinnya dengan roh yang teguh. Ketika manusia berbuat dosa, maka hatinya menjadi tercemar, kotor dan najis. Demikian pula dengan raja Daud. Itu sebabnya ia meminta Tuhan untuk memperbaharui batinnya. Pada waktu Tuhan memulihkan Israel, Allah memberikan hati yang baru, sebuah hati yang mengenal Allah (Yer. 24:7), hati yang ditulisi Taurat Tuhan (Yer. 31:33). Dengan hati yang telah diperbaharui ini mereka akan hidup dengan takut akan Tuhan.

Raja Daud bukan hanya meminta Tuhan untuk memperbaharui batinnya, tapi juga mengokohkan dia. Ia menyadari bahwa dirinya menjadi goyah ketika menghadapi godaan. Kegoyahan itu mengakibatkan ia jatuh ke dalam dosa. Kini ia minta agar Allah memperteguhkan dirinya agar tetap setia kepada Allah.

Selain memanjatkan kedua permohonan tersebut, Daud juga meminta agar ia tidak terpisah dari Tuhan. Sebab Tuhanlah sumber kehidupan. Ketika Adam dan Hawa terusir dari hadapan Tuhan, mereka tidak lagi hidup di taman Eden, hidup dalam kesengsaraan. Ketika Kain pergi dari hadapan Tuhan, sesungguhnya ia hidup dalam penghukuman. Hidup terpisah dari Tuhan adalah hidup tanpa kegirangan.

Satu teladan lagi dari raja Daud adalah, setelah ia mendapatkan pengampunan dari Allah, maka ia akan bersorak-sorai memberitakan keadilan Tuhan. Dia meminta pertolongan dan kekuatan dari Tuhan agar dapat membuka mulutnya untuk memberitakan puji-pujian bagi kemuliaan Allah. Seringkali tahap ini tidak nampak dalam kehidupan orang Kristen yang memohon pengampunan dosa.

Bagi kebanyakan orang, proses permohonan ampun itu selesai bersamaan dengan diucapkannya kata ”amin” dalam doa pengakuan dosa tersebut. Tidak ada kerinduan agar hati yang telah ternoda itu diperbaharui Tuhan, seakan pencemaran yang terjadi akibat perbuatan dosa itu bukanlah suatu masalah. Toh kalau tercemar lagi, ya minta ampun lagi. Kalau hal ini yang terjadi, bukankah sebenarnya kita tidak menganggap dosa itu sebagai suatu hal yang serius? Akibatnya doa pengakuan dosa juga tidak dipanjatkan dengan hati yang sungguh-sungguh.

Ketidaksungguhan hati itu juga mengakibatkan sikap tidak terlalu peduli apakah doa pengakuan dosanya diterima Tuhan atau tidak. Pokoknya kalau sudah mengaku dosa ya beres. Hal ini membuat kita tidak dapat menikmati sukacita orang yang mendapatkan pengampunan. Oleh sebab itu tidak ada ucapan syukur dan bersorak untuk memuliakan Tuhan yang sudah memberikan pengampunan itu.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*