suplemenGKI.com

Rabu, 4 Februari 2015

Mazmur 147: 1-5

Pengantar

Apakah  Anda suka memuji TUHAN? Kapan sajakah Anda memuji TUHAN: kala hati senang ataukah juga kala hati merana dalam duka nestapa? Kala hidup lancar ataukah juga kala hidup penuh dengan rintangan dan beban? Marilah kita merenungkannnya!

Pemahaman

  • Ayat 1     : Mengapa mazmur ini dibuka dengan kata “Haleluya!” ? Apakah maknanya?
  • Ayat 2     : Bagaimanakah konteks yang melatarbelakangi ekspresi pujian dalam Mazmur 147 ini?
  • Ayat 3-5 : Apakah yang hendak dikatakan Pemazmur tentang ALLAH  dalam ayat-ayat ini?

Mazmur 147: 1-11 adalah mazmur puji-pujian. Mazmur ini dimulai dan diakhiri dengan pujian kepada TUHAN, ‘Haleluya’. Ungkapan ini ingin mengatakan bahwa hidup umat percaya hendaknya berisikan pujian kepada TUHAN, terlepas dari apapun yang dihadapi dan dialami umat percaya. Curahan ekspresi syukur seperti dalam mazmur ini selalu menjadi bagian amat penting dari ibadah Israel. Ini benar-benar sebuah nyanyian pujian dari awal sampai akhir, tanpa ada kata keluhan atau permohonan.

Isi pujian Mazmur ini  menunjuk pada masa di mana umat Israel masih tercerai-berai, belum kembali ke tanah Palestina. Pada masa itu, umat Israel adalah umat yang patah hati dan terluka, karena mereka sedang menjalani masa pembuangan. Iman Pemazmur membawa umat untuk memahami bahwa mereka memiliki TUHAN yang kuasa-Nya “tidak terhingga”. TUHAN sanggup mengumpulkan kembali umat Israel yang tercerai berai di seluruh penjuru dunia. Itu bukan hal sulit bagi-Nya (ayat 2). Dia sanggup memulihkan orang yang sudah tidak punya harapan hidup. Itu adalah keahlian-Nya (ayat 3). Ia pun dengan mudah menghitung bintang di galaksi terjauh sekali pun (ayat 4).

Oleh karena itu umat  dipanggil untuk memuji TUHAN, terlepas dari situasi dan kondisi mereka yang mengenaskan. Pujian itu didasarkan bukan pada keadaan yang sedang mereka alami, melainkan didasarkan pada keyakinan akan kebaikan dan pemeliharaan ALLAH atas kehidupan mereka, sekalipun dalam keadaan yang tidak menyenangkan.  Demikian pula seharusnya yang terjadi dalam diri orang-orang yang beribadah kepada TUHAN.

Refleksi

Dalam keheningan, tengoklah kehidupan yang telah Anda lalui: Apakah Anda memiliki kesediaan untuk mewujudkan kehidupan yang senantiasa mencerminkan pujian terhadap kebesaran dan kuasa TUHAN? Apakah puji-pujian yang Anda nyanyikan sekedar bentuk pujian yang diungkapkan di mulut saja, ataukah  sebuah pujian yang benar-benar keluar dari hati yang dipenuhi keyakinan atas kebaikan dan pemeliharaan ALLAH?

Tekadku

Ya TUHAN, mampukanlah aku mempersembahkan  puji-pujian yang memuliakan nama-Mu, kapan pun dan di mana pun serta dalam kondisi bagaimana pun.

Tindakanku

Aku akan selalu memuji TUHAN di tengah kepenatan hidup, kepadatan pekerjaan dan ruwetnya persoalan hidupku. Setiap hari aku akan bernyanyi: “ Maka jiwaku pun memujiMu, sungguh besar Kau ALAH-ku. Maka jiwaku pun memujiMu, sungguh besar Kau ALLAH-ku.”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*