suplemenGKI.com

(Amos 5:18-24, Matius 25:1-13)

Indonesia adalah negara religius, beberapa hal menjadi bukti kuat tentang pernyataan tersebut: Pertama, Indonesia mengakui enam agama yang dianut oleh masing-masing pemeluknya, Kedua, Masing-masing penganut setiap agama yang ada di Indonesia sangat khusuk dalam menjalankan kehidupan keagamaannya, Ketiga, Setiap agama sangat mengutamakan membangun sarana komunikasi yang riil dan wajib bagi semua umatnya/pengikutnya, agar dapat dengan nyaman dan baik beribadah kepada Tuhan. Namun apakah itu semua menunjukkan bahwa setiap orang melalui agamanya masing-masing betul telah mempersiapkan hari esok dengan menjadikan hidup hari ini bermakna? Saudara, mempersiapkan hari esok dengan menjadikan hidup hari ini menjadi bermakna bisa diformulasikan dalam sebuah kalimat “Kehidupan religius/keagamaan yang bermakna bukan sekedar menampilkan baiknya, bagusnya dan khusuknya, tetapi kesalehan hidup beragama harus dapat dinikmati, dirasakan dan dibanggakan oleh dunia secara sosial dan komunal, siapapun, di manapun dalam keadaan apapun. Itulah sebenarnya makna mempersiapkan hari esok dengan menjadikan hidup hari ini bermakna.
Namun kenyataannya, baik orang Kristen maupun non Kristen secara kasat mata seolah sangat beribadah, sangat sembahyang, sangat melayani Tuhan. Tetapi kehadiran secara sosial – komunal tidak dapat dirasakan oleh dunia secara nyata, bahkan cenderung merugikan sesama. Saudara dapat menyaksikan dengan jelas: Mereka yang korupsi, mereka yang menista hukum, mereka yang membabat hutan , semua beragama, semua sembahyang dan semua melayani. Tetapi itu hanya pemanis penampilan saja. Hal itu pula yang terjadi pada jaman Amos. Umat Israel hidup secara sosial – komunal sangat mencela Tuhan. Amos 2:6-16, menunjukkan betapa buruknya kelakuan mereka, disimpulkan dengan istilah “Karena tiga perbuatan jahat, bahkan empat…” Salah satu yang ditegaskan dalam Amos 2:7 mereka tidak berlaku adil terhadap orang lemah. Bagi orang yang merasa hidup beragama tetapi mengabaikan kehidupan sosial – komunal, dikatakan akan mengalami kegelapan pada hari Tuhan artinya hari Tuhan adalah hukuman bagi mereka.
Dalam Matius 25:1-13, Yesus mengajarkan melalui perumpamaanNya bagaimana mempersiapkan hari esok dengan menjadikan hidup hari ini bermakna. Fokus utamanya memang terlebih dahulu pada pribadi kita masing-masing. Kerana relasi dengan Tuhan adalah bersifat personal. Bagaimana kita harus mempersiapkan diri dalam hidup keagamaan yang benar. Digambarkan seperti lima gadis bijaksana, mempersiapkan diri dengan benar, khusuk, sesuai hukum/aturan yang benar dan kontinuitas/senantiasa berjaga-jaga artinya tidak lalai. Melalui hidup keagamaan yang baik dan benar itu maka pasti dengan sendirinya akan terpantul atau berdampak pada segi kehidupan sosial – komunal. Orang lain yang melihat, merasakan dan menikmatinya mengalami Kristus melalui kehidupan yang nilai keagamaannya benar. Bukan malah membuat orang lain takut, marah dan benci pada kita, pada agama kita dan bahkan pada Tuhan kita ikut dibenci. Mari saudara kita mempersiapkan hari esok dengan menjadikan hidup hari ini bermakna bagi hubungan sosial dengan orang lain dan kebersamaan kita dalam keluarga, bergereja dan bermasyarakat.
Tuhan memberkati                                                                                                          (aNdA)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*