suplemenGKI.com

Kejadian 22:1-14

Si Manis, seekor kucing peliharaan di sebuah keluarga, beranak.  Jumlah anaknya tidak kepalang tanggung, lima ekor.  Esther, gadis kecil sang pemilik kucing itu, tentu saja sangat gembira.  Namun, tidak demikian dengan sang mama.”Anak kucing itu terlalu banyak,” kata mama Esther.

”Kamu pelihara seekor saja,” lanjutnya.  ”Lalu, sisanya diapakan, Ma?” tanya Esther.  ”Gampang.  Berikan saja kepada teman-temanmu,” jawab sang Mama. Selama beberapa hari berikutnya Esther pun sibuk dengan sebuah kegiatan baru, yaitu menawarkan anak-anak kucing itu kepada teman-temannya. ”Mau anak kucing, nggak?  Bagus-bagus! Gratis!” kata Esther bersemangat. Dalam waktu kurang dari seminggu, anak-anak kucing itu pun berpindah tangan.  Seperti pesan mamanya, Esther hanya menyisakan seekor untuk dirinya sendiri.  Tentu saja, yang paling bagus menurut penilaiannya. Dalam situasi seperti Esther, memberi tidaklah terlalu sulit.  Anak-anak kucing itu memang terlalu banyak baginya.  Memberi sesuatu yang merupakan kelebihan dan tidak terlalu berguna bagi kita memang bukan sesuatu yang sukar.  Lagipula, Esther masih boleh menyisakan satu yang terbaik untuk dirinya sendiri. Tidak demikian bagi Abraham.  Abraham diminta untuk mempersembahkan Ishak, satu-satunya anak yang dimilikinya.  Padahal, seperti kita tahu, Abraham mendapatkan Ishak melalui sebuah penantian dan pergumulan yang sangat panjang.  Sungguh tidak mudah merelakan sesuatu yang penting di dalam hidup kita, yang sangat kita kasihi, dan yang kita peroleh dengan susah payah.  Bagi Abraham, Ishak memenuhi ketiga kriteria tersebut. Tentu saja Abraham bergumul dengan hebat.  Kebungkaman Abraham mungkin dapat mewakili campur-aduk perasaannya.  Bingung dan sedih. Mungkin Abraham juga bertanya di dalam pikirannya, ”Mengapa harus Ishak, ya Tuhan?”  Namun, bagaimanapun perasaan di dalam hatinya dan apapun pertanyaan yang berkecamuk di dalam pikirannya, Abraham mengambil keputusan untuk melaksanakan perintah Tuhan.  Hal yang sama mungkin juga terjadi dalam hidup Anda.  Firman Tuhan harus dilakukan dengan dengan perasaan yang bercampur-aduk. Ketaatan adalah sebuah keputusan, sekaligus perjuangan melawan berbagai macam perasaan dan pemikiran.  Dan Abraham pun keluar sebagai pemenang. Pengalaman Abraham tentu saja sangat unik.  Hanya sedikit saja orang-orang beriman yang menghadapi situasi semacam itu. Bahkan mungkin tak seorang pun di antara kita yang pernah diminta memberikan persembahan semacam itu.  Apa yang harus kita persembahkan masih termasuk hal yang wajar-wajar saja: waktu, tenaga, uang, ketrampilan, dan sebagainya.  Itu pun hanya sebagian kecil saja dari anugerah Tuhan yang melimpah ruah bagi kita.  Namun, berapa banyak di antara kita yang masih enggan memberikannya kepada Tuhan.  Padahal, jika minta kepada Tuhan, kita selalu minta yang paling baik dan yang paling kita sukai.  Betapa curangnya kita! (TW)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*