suplemenGKI.com

Minggu, 25 April 2010; Yohanes 10:31-39

Injil Yohanes pasal 10 merupakan akhir dari bagian pertama dari susunan Injil ini, di mana pengajaran Tuhan Yesus ditujukan kepada orang banyak. Setelah ini, Tuhan Yesus tidak lagi memberikan pengajaran di depan pemimpin-pemimpin agama, melainkan lebih pribadi. Pada bagian akhir dari pasal 10 ini kita akan merenungkan bagaimana reaksi para pemimpin Yahudi itu.

-         Mengapa orang-orang Yahudi itu hendak melempari Yesus dengan batu? Apakah untuk menunjukkan betapa amarah mereka telah memuncak sedemikian rupa, ataukah ada dosa tertentu yang “dilihat” orang-orang Yahudi dalam diri Yesus?

-         Bagaimanakah Saudara memahami Mazmur 82:6 dalam rangka pembelaan diri Tuhan Yesus?

-         Apakah arti “… percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu…” (ay. 38)?

-         Adakah konsep Allah yang sulit untuk kita terima atau pahami? Lalu, bagaimana kita menyikapi hal tersebut?

Renungan:

Apa yang kita baca dan renungkan hari ini cukup menjadi ironi. Di akhir masa pelayanan-Nya secara publik, di mana Dia melakukan berbagai macam mujizat yang membuat orang berdecak kagum, demikian pula halnya dengan pengajaran-Nya yang powerful, respon yang diterima Tuhan Yesus malah penolakan yang luar biasa. Para pemimpin agama Yahudi itu tidak bisa menerima pernyataan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Pengertiannya di sini bukanlah Allah menikah lalu memiliki anak, melainkan menyatakan persamaan esensi antara dirinya dengan Allah. Sama seperti anak monyet adalah monyet, bukan angsa. Menyatakan diri sebagai Anak Allah berarti menyamakan diri dengan Allah. Bagi mereka, pernyataan ini merupakan pelecehan terhadap Allah. Ini adalah dosa besar, yang hukumannya adalah dirajam batu. Itu sebabnya mereka mengambil batu untuk merajam Yesus.

Namun argumentasi Yesus tidak terbantahkan. Dalam Mazmur 82:6 disebutkan ”kamu adalah allah”. Pernyataan ini ditujukan kepada para hakim yang menjadi wakil Allah di dalam mewujudkan keadilan Allah di dunia. Merujuk pada ayat tersebut, seakan Yesus mengatakan bahwa bagaimana mungkin diri-Nya yang mengerjakan pekerjaan Allah tidak boleh disebut sebagai anak Allah?

Betapa sulit untuk percaya. Perlu kelembutan hati dan sikap merendahkan diri. Bukankah sulit bagi kita untuk percaya kepada Allah, ketika Dia berfirman atau berkarya dengan cara yang berbeda dengan pola pikir kita? Dengan berbagai macam bentuk kita melakukan penolakan. Namun semakin kita menolak, sesungguhnya kita semakin tersesat. Oleh sebab itu, marilah kita belajar merendahkan diri di hadapan-Nya, agar dapat terus hidup dalam ketaatan, meski kadang kita tidak mengerti.

”Seorang dengan hati yang taat, akan tetap bisa mempercayai ALLAH dengan luarbiasa, walau pergumulan yang ditanggungnya mungkin adalah pergumulan yang tak biasa”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*