(Ibrani 12:18-29)

Perikop Ibrani 12:18-29 ini bertujuan mendorong pembaca agar memiliki keteguhan, kemantapan dan keberanian sehingga tidak tergoyahkan serta senantiasa melabuhkan keyakinan iman dan pengharapannya kepada Tuhan Yesus, yang adalah: Tuhan, pencipta, penyelamat, pemelihara dan pembelanya dalam setiap persoalan hidup. Penulis Ibrani dengan bahasa puitis namun jelas ingin mengarahkan umat agar orientasi pengandalannya, keberpihakannya dan fokus seluruh keyakinan dan pengharapan hidupnya hanya kepada Tuhan Yesus saja, dan bukan kepada yang lain-lain atau Yesus plus.
Semua kata-kata puitis, mulai ayat 18-21 (gunung, api, kekelaman, kegelapan, angin badai, bunyi-bunyian maupun binatang) hendak menggambarkan seolah-olah bisa menjadi sandaran sehingga manusia tergoda untuk berpihak kepadanya. Tetapi penting kita pahami bahwa semuanya itu bersifat fana, sementara dan dapat goncang. Yang dikehendaki oleh Tuhan bagi setiap orang yang mengaku, menerima dan menjadikan Tuhan Yesus Kristus sebagai sumber keselamatan, kekuatan, pengharapan dan pertolongan kita.
Penulis kemudian menunjukkan kontras terhadap gambaran di atas tadi (18-21) dengan apa yang seharusnya menjadi objek keberpihakan manusia, sebagaimana diungkapkan mulai ay. 22-25. Tujuannya untuk mendorong pembaca agar baik hidup spiritual maupun jasmaninya harus diarahkan kepada Tuhan Yesus saja.
Sudah bukan rahasia lagi, bahwa setiap manusia selalu lebih tertarik dan tergiur pada hal-hal yang bersifat nyata atau kelihatan. Ketika sudah tergiur dan terpesona maka langkah berikutnya mengagumkan kemudian lalu
men” tuan “kannya (entah apa saja: mungkin posisinya, uangnya, barang-barang miliknya atau orang/pribadi tertentu yang difavoritkannya, dll) . “Hati-hati” dalam situasi demikian, karena cepat atau lambat itu akan menggeser sedikit- demi sedikit fokus keberpihakan kita (yang tadinya fokus kepada Tuhan Yesus Kristus, tetapi karena ketergiuran kita maka mulai bergeser pada hal-hal yang bisa tergoncangkan itu)
Nasihat penulis agar keberpihakan kepada Tuhan Yesus tidak tergoyahkan, di ayat 25-28 ada dua hal, pertama: Jangan menolak Dia. Berbicara tentang menolak Yesus, pasti kita semua tidak berani melakukannya, kita semua hormat, melayani, beribadah dan menyembah Dia. Itu benar, tetapi ketika kita tidak bisa mengsinkronkannya dengan kehidupan keseharian kita maka secara tidak langsung kita menolak Dia. Kedua: Belajar mengucap syukur dan beribadah dengan cara yang berkenan kepada Tuhan. Sederhana saja, ketika kita bisa menerima apapun keadaan kita, apapun keadaan orang lain di sekitar kita dan berusaha untuk memberikan nilai diri yang baik bagi lingkungan kita bukankah itu sudah mengucap syukur dan beribadah! Ketika kita tidak mengabaikan panggilan kita untuk beribadah, melayani, mengasihi sesama dan menunjukan kesaksian hidup yang mencerminkan Kristus dalam hidup kita bukankah itu adalah Ibadah yang memperkenankan Tuhan! Jadi memihak kepada yang tidak dapat digoncangkan adalah seantero hidup kita mengandalkan Tuhan, semangat kita menyaksikan Tuhan dan karya kita memperkenankan Tuhan. Amin.             — ANDA—

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*