suplemenGKI.com

Kesembuhan Naaman, sang tentara Aram , dari penyakit kustanya, merupakan hasil nyata dari kesediaan si hamba perempuan untuk menyampaikan kabar mengenai kebesaran dan kebaikan Tuhan. Karena perkataan si hamba perempuan maka Naaman, yang mungkin sudah menempuh segala macam cara untuk mengobati penyakitnya itu, akhirnya mau menuruti si hamba tersebut. Naaman pergi ke Israel, melakukan apa yang diperintahkan nabi Elisa dan akhirnya memperoleh kesembuhan.
Kita sebagai umat Tuhan pastilah sudah merasakan dan mengalami kebaikan Tuhan serta mengenal siapa Tuhan kita itu, baik melalui pengalaman pribadi maupun melalui pendengaran akan firman Tuhan. Sama seperti si hamba tadi, yang sudah mendengar akan kuasa Tuhan melalui nabi Elisa baik melalui cerita ataupun mungkin pula pernah menyaksikannya sendiri dulu ketika ia masih tinggal di Israel. Namun yang membuat perbedaan adalah si hamba ini bersedia menceritakan mengenai Tuhannya sedangkan kita acapkali menahan diri, merasa sungkan bahkan malu untuk menceritakan kebaikan Tuhan kepada orang lain.
Ada banyak orang seperti Naaman, yang sudah mencari, mencoba dan menempuh berbagai macam cara untuk mendapat kesembuhan, kedamaian, kebahagiaan dan ketenangan, namun mereka gagal. Apabila kita mau dan bersedia menceritakan kepada mereka mengenai siapa Tuhan itu, mengenai kasihNya dan kebaikanNya, pastilah akan ada banyak orang yang mendapatkan jawaban akan persoalannya. Melalui cerita si hamba, bukan saja kesembuhan yang didapat oleh Naaman, tetapi dia bisa menyadari dan mengakui seperti tertulis dalam 2 Raja-Raja 5:15b “Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel”. Dan akhirnya dia berketetapan hati untuk “tidak lagi akan mempersembahkan korban kepada allah lain kecuali kepada Tuhan” (2 Raja-raja 5:17b).
Memberitakan perkataan kebenaran tentang kebaikan Tuhan bukanlah tanpa resiko. Si hamba mungkin akan diacuhkan, mungkin akan kena marah mungkin pula dimasukkan ke penjara karena ceritanya itu. Hal yang sama mungkin akan kita alami. Paulus pun karena pemberitaan Injil menderita dibelenggu seperti penjahat (2 Tim 2:9). Namun yang seharusnya kita teladani adalah sikap Paulus. Paulus mau sabar menanggung semuanya itu, supaya mereka mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal (2 Tim 2: 10). Paulus pun mengingatkan kita supaya kita berusaha layak di hadapan Allah sebagai pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu (2 Tim 2 : 15).
Semoga melalui renungan ini kita makin menyadari bahwa sudah selayaknya kita menceritakan kebaikan Tuhan di mana saja, kapan saja dan kepada siapa saja. Amin. (p/bs)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*