suplemenGKI.com

Lukas 16:19-31

Berita tentang wafatnya Bai Fang Li pada usia 93 tahun disambut dengan isak tangis ribuan siswa dan guru di kota Tianjin, Cina utara. Siapakah kakek Bai sebenarnya? Apakah ia seorang mantan pejabat? Seorang mantan kepala sekolah? Ternyata bukan, ia hanyalah seorang mantan tukang becak. Lalu apa istimewanya sehingga begitu banyak anak-anak dan guru di kota itu menangisi kepergiannya dan sangat menghormatinya?

Selama 20 tahun terakhir masa hidupnya, kakek Bai berhasil mengumpulkan dana senilai lebih dari Rp. 450.000.000 (empat ratus lima puluh juta rupiah) dari hasil mengayuh becak. Dana tersebut telah diserahkannya secara bertahap untuk memberi beasiswa kepada anak-anak miskin dari jenjang sekolah dasar hingga universitas. Untuk itu kakek Bai tidak hanya harus bekerja keras menggenjot becak dari pagi hingga malam, tetapi ia juga harus hidup dengan sangat sederhana. “Tidak apa-apa saya menderita, asal anak-anak yang miskin itu dapat bersekolah”.  Itulah kata-kata yang acapkali diucapkannya. Bai Fang Li kini memang telah tiada, namun karya kasihnya bagi masyarakat akan terus dikenang, sebagaimana orang menyimpan fotonya yang berhiaskan huruf-huruf Tionghoa yang artinya “Sebuah Cinta yang Istimewa Buat Orang Yang Luar Biasa”. Hidupnya bukan hanya berkat tetapi juga telah menginspirasi banyak orang lain.

Dalam menjalani kehidupan, manusia dihadapkan pada dua pilihan. Apakah ia akan menjadi sekedar “pengumpul” berkat atau justru menjadi “penyalur” berkat? Seorang pengumpul berkat cenderung melihat segala sesuatu dari sudut keuntungan dirinya, Ia tak peduli pada orang-orang lain di sekitarnya, seperti dalam kisah orang kaya yang diceriterakan oleh Tuhan Yesus dalam Injil Lukas 16:19-31. Seorang pengumpul berkat biasanya sulit untuk sungguh-sungguh mensyukuri semua berkat yang diterimanya dari Tuhan. Ia cenderung tak pernah puas dengan apa yang telah dimilikinya. Sebaliknya seorang penyalur berkat adalah orang yang hidup dengan hati yang penuh dengan rasa syukur dan  berkecukupan, mampu memikirkan serta memberi orang lain sesuai kebutuhannya.

Marilah di bulan keluarga ini kita bersama-sama belajar untuk sungguh-sungguh berkomitmen dalam membangun rumah tangga kita masing-masing sebagai saluran berkat bagi banyak orang di sekitar kita, sehingga kasih Yesus bisa semakin dirasakan dan namaNya semakin dimuliakan. Sekalipun anak-anak atau cucu-cucu kita masih sangat belia, mereka perlu dilatih agar menjadi penyalur berkat dan bukan sekedar pengumpul berkat. Bahkan sampai lanjut usia kita, tak ada alasan bagi kita untuk berhenti menjadi penyalur berkat Tuhan.
-  AT –

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«