suplemenGKI.com

Seorang olahragawan berkata mantap bahwa dia pasti akan memenangkan pertandingan.
Juga seorang yang sedang sakit, optimis beberapa hari lagi diizinkan pulang dari rumah sakit, karena dia mentaati petunjuk dokter. Dunia sekuler bicara tentang optimisme. Dunia rohani bicara tentang iman. Apa korelasinya? Dalam optimisme tidak terkandung nilai iman. Optimisme yang berbunga-bunga kadang tidak menjadi kenyataan. Bahkan yang terjadi adalah kegagalan. Kecanggihan teknologi dipelbagai bidang, mendorong orang mengandalkannya. Bahkan tidak jarang, teknologi komunikasi menjadi berhala dalam kehidupan insan Kristiani.
Karena pelbagai pengalaman, seorang menjadikan optimisme menjadi pesimisme. Ini karena trauma pengalaman optimisme masa lampaunya yang tidak sukses. Optimisme adalah paham atau keyakinan atas segala sesuatu dari segi yang baik dan menyenangkan. Sikap selalu mempunyai harapan baik dari segala hal. Tapi ini bisa semu kalau tidak dibangun atas dasar iman. Di dalam iman, pasti ada pengharapan (baca: optimisme).
Ada ilustrasi pada dua orang Kristen yang sama membangun rumah di pantai. Yang satu memilih tanah (pasir) di pantai itu karena bisa luas dan nyaman. Yang satu membangun di atas batu, tetapi terbatas luasnya. Dua-duanya punya rumah. Yang membangun di area pasir memang bisa mendirikan rumah yang megah karena teknologi canggih. Tapi ketika badai besar menerpa, akhirnya rubuhlah bangunan megah dan besar itu. Ia membangun dengan optimisme karena teknologi menunjang. Yang membangun di atas batu juga punya optimisme, tapi ia lebih beriman karena bersandar pada kehendak dan rencana Tuhan. Di situ letak perbedaan optimisme masa depan secara benar.
Pengambilan keputusan etis selalu berdimensi apakah itu: “benar-baik-tepat”. Karena itu optimisme bukan suatu ukuran keberhasilan, kalau bukan dalam area rencana Tuhan.
Dalam Yeremia 29:11 tertulis: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa pada-Ku mengenai kamu, demikianlah Firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”. Karena itu marilah kita kembali kepada dasar utama yaitu Firman Kebenaran.
Leksionari kita minggu ini, baik Amos, Paulus dengan suratnya kepada jemaat di Efesus. Juga iman murid-murid Yohanes seperti ditulis oleh Markus semua mengacu pada dasar yang kokoh. Mereka tahu benar iman kepada Yesus Kristus yang telah menyelamatkan setiap orang percaya. Walau mereka menyaksikan dipenggalnya kepala Yohanes pembaptis. Hambatan, penderitaan tidak menyurutkan iman mereka untuk tetap setia kepada Tuhan. Pemulihan akan terjadi bila jemaat mempraktikkan kasih, kesetiaan, keadilan dan damai sejahtera, seperti yang dikehendaki Tuhan. Selamat hari Minggu, Tuhan memberkati. Amin.
( WP )

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«