suplemenGKI.com

Sabtu, 12 Februari 2011
Matius 5 : 27-32

Masa kini, perceraian bukan merupakan hal yang langka. Banyak keluarga yang bercerai karena faktor KDRT, perzinahan, ekonomi, dsb. Mengapa suatu pernikahan tidak dapat langgeng? dan mengapa perceraian harus terjadi ?

Ayat 27 : Apa bunyi hukum ke-7 dari 10 hukum Tuhan ?
Ayat 32 : Alasan apa yang dapat digunakan oleh seorang suami untuk
menceraikan istrinya?
Ayat 28 : kapan seseorang disebut berzinah?
Ayat 29-30 : Apa yang harus diperbuat seseorang untuk menghindari dosa
karena zinah?
Ayat 31 : Apa kewajiban seorang suami yang menceraikan istrinya ?
Renungan :
Pada pembahasan kali ini, Tuhan Yesus mengangkat tema tentang hukum ke-7 dari 10 hukum Taurat yang berbunyi : “Jangan berzinah”. Menurut Tuhan Yesus, hanya perzinahan yang dapat dipakai sebagai alasan bagi seorang laki-laki untuk menceraikan istrinya (ay. 32).
Di dalam penjelasan-Nya, Tuhan Yesus mengatakan bahwa Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, dia sudah berzinah. Tuhan Yesus juga mengatakan: “ jika matamu yang kanan menyesatkan engkau – cungkillah, jika tanganmu menyesatkan engkau – penggallah.” Melalui perkataan tersebut, Tuhan Yesus tidak sungguh-sungguh memerintahkan untuk mencukil mata dan memenggal tangan secara fisik, tetapi lebih menekankan untuk membuang bagian dari diri kita yang buruk, dosa kita, keinginan jahat, nafsu kita. Cara inilah yang dapat dipakai untuk menghindari terjadinya dosa.
Ayat 31, menuliskan bahwa siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya. Surat cerai tidak dapat diberikan begitu saja hanya berdasarkan emosi sesaat. Surat cerai ini diberikan dalam jangka waktu yang tidak singkat, sebab sebelum seorang suami menceraikan istrinya, ia harus memiliki alasan yang tepat dan kuat, yaitu jika ia melihat istrinya berbuat tidak senonoh atau berzinah.

Dalam banyak kasus, suami atau istri yang menceraikan pasangannya adalah mereka yang tidak dapat mengendalikan dirinya, entah itu berkaitan dengan nafsunya, kesabaran, pengampunan, pengertian, kesetiaan dan rasa takut kepada Tuhan. Mereka tidak setia dengan komitmennya dalam membangun keluarga bersama pasangannya. Ketidaksetiaan inilah yang kemudian memicu terjadinya perzinahan.

Dalam membangun sebuah keluarga yang langgeng, sudah seharusnya kita melibatkan Tuhan di dalamnya. Jika keluarga itu dibangun di dalam Tuhan maka setiap anggotanya, suami/istri akan memiliki rasa kasih kepada pasangannya. Dan orang yang memiliki kasih, ia akan setia, mau mengampuni jika terjadi kesalahan, mau menerima dengan segala kekurangan yang ada, dan mau mengerti. Ini yang seharusnya dimiliki oleh setiap pasangan, sehingga tidak akan terjadi perzinahan apalagi perceraian. Bangunlah keluargamu bersama dengan Tuhan, maka perzinahan, bahkan perceraian akan jauh dari rumahmu.

Orang yang serong hatinya adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi orang yang tak bercela, jalannya dikenan-Nya. Amsal 11:20

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*