suplemenGKI.com

Matius 16 : 21-28

Sebuah sebutan atau gelar akan bermakna hanya apabila pemiliknya bersikap, bertindak dan berkarya sesuai dengan gelar atau sebutan tersebut. Karena itu, seorang petani dengan tekun bercocok-tanam dari musim ke musim. Demikian juga, seorang guru akan mencurahkan waktu dan tenaganya untuk mengajar dan berbagi ilmu kepada murid-muridnya. Begitu pula,seorang dokter akan berusaha dengan sungguh-sungguh mengobati dan menyembuhkan pasien-pasiennya. Nah, bagaimana dengan kita yang menyebut diri sebagai murid-murid Kristus? Bagaimana seharusnya kita memberi makna kepada sebutan yang mulia itu?
Ketika memanggil Petrus menjadi murid-Nya, Yesus berkata: “Mari, ikutlah Aku, … “ (Mat. 4:18-19). Ajakan semacam ini juga berlaku bagi murid-murid yang lain, termasuk kita (Mat. 8:22; 9:9). Menjadi murid Kristus berarti mengikut Dia dan berjalan di jalan yang ditempuh-Nya.Jalan seperti apakah yang ditempuh Yesus? Kepada para murid-Nya, Yesus berterus terang bahwa jalan yang akan ditempuh-Nya adalah jalan yang penuh dengan penderitaan (Mat. 16:21). Bagi Petrus, ini adalah sebuah kabar buruk. Jika Yesus menempuh jalan penderitaan, bukankah jalan yang sama juga harus ditempuh oleh para murid-Nya? Karena itu, Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” (Mat.16:22). Jika hal yang buruk itu tidak menimpa Yesus, murid-murid-Nya pun tidak perlu menanggungnya, bukan? Tetapi dengan tegas Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Mat. 16:24).
Kalimat Yesus di atas bukanlah kalimat yang enak bagi telinga para murid-Nya, termasuk para murid-Nya di masa kini. Seperti halnya Petrus, orang-orang Kristen masa kini pun berharap bahwa perjalanan mengikut Yesus akan selalu menyenangkan.Penyangkalan diri (yaitu, mengesampingkan kebutuhan dan keinginan diri sendiri) tentu bukan pengajaran yang menarik bagi orang-orang seperti ini.Pada kenyataannya, banyak orang mencari Yesus justru karena ingin memperoleh apa yang dibutuhkannya atau memuaskan keinginannya sendiri.
Mungkin kita bukanlah orang-orang yang terlalu egois seperti itu. Mungkin Anda akan berkata, “Bukankah kita sudah terlibat di dalam pelayanan? Atau, paling sedikit, ikut mendukung pelayanan?” Memang, benar. Kita memberitakan Injil, melakukan pelayanan sosial kepada masyarakat sekitar, menyalurkan dana bagi mereka yang membutuhkan uang sekolah atau pengobatan, dan sebagainya. Tentu saja, bagi kebanyakan orang Kristen semua aktivitas pelayanan itu sangat menyenangkan dan bahkan dapat memberikan sensasi kepuasan bagi batin kita. Karenanya, banyak orang Kristen yang bersedia melakukan semua itu, asalkan semuanya tetap berjalan baik, menyenangkan, dan memberikan kepuasan. Namun,bagaimana jika yang diperoleh adalah hal yang sebaliknya? Bagaimana bila semua pelayanan itu harus ditempuh melalui penderitaan dan menuntut pengorbanan? Bagaimana bila imbalannya bukanlah penghargaan yang memuaskan, melainkan justru tanggapan yang mengecewakan atau bahkan menyakitkan? Masih siapkah Anda berkata: “Aku murid Kristus. Aku akan tetap setia berjalan di jalan yang ditempuh-Nya, dan berkarya bag kemuliaan-Nya”? (TW)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*