suplemenGKI.com

Senin, 28 Maret 2011

I Samuel 16 : 1 – 13

Ratapan Samuel atas penolakan Saul mengisyaratkan kekecewaan Samuel terhadap Saul sebagai raja. Perhatikanlah I Samuel 15 : 11 “Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku.” Maka sakit hatilah Samuel dan ia berseru-seru kepada TUHAN semalam-malaman.”

Kondisi Samuel yang sedang meratap ditambah pula dengan ketakutan karena terancam dibunuh oleh Saul (ay.2). Syukurlah ada campur tangan TUHAN yang menghentikan ratapan (kesedihan) Samuel. TUHAN bermaksud memilih raja baru. TUHAN memberikan petunjuk kepada Samuel. Kemudian Samuel mengurapi Daud. Inilah tindakan kenabian Samuel yang terakhir sebelum ia meninggal dunia.
1. Bagaimanakah sikap Samuel dalam menanggapi rencana TUHAN yang dinyatakan kepada dirinya?
2. Apakah Samuel menetapkan pilihannya berdasarkan pada pengertiannya sendiri?
3. Apakah perbedaan cara pandang ALLAH yang melihat hati dengan cara pandang manusia yang melihat apa yang tampak di depan mata?
Renungan


Raja Saul yang diurapi oleh Samuel tidak mengindahkan perintah TUHAN. Saul tidak menumpas orang Amalek dan seluruh milik mereka padahal TUHAN memerintahkan penumpasan yang tuntas. Oleh karena itulah TUHAN berupaya menyadarkan Samuel agar tidak meratapi Saul yang telah melanggar ketentuan TUHAN. Samuel tetap dipercaya oleh TUHAN untuk pemilihan (pengurapan) raja Israel yang baru. Samuel tidak larut dalam ratapannya, ia bangkit, dan membuka dirinya untuk dipakai TUHAN.
Samuel sungguh-sungguh mendengarkan segala petunjuk TUHAN dan melaksanakan perintah-Nya. Samuel percaya bahwa apa yang disampaikan TUHAN adalah kebenaran dan sebuah rencana keselamatan besar bagi bangsa Israel. Samuel tidak mendengarkan hati nuraninya sendiri. Ia mengandalkan keyakinannya kepada TUHAN dan menjunjung tinggi suara dari TUHAN.
Kali ini Samuel diajar untuk memilih dengan cara pandang TUHAN, bukan cara pandang manusia. Meskipun ada pilihan calon raja yang perawakannya besar dan parasnya baik, tapi TUHAN tidak memilihnya. TUHAN menuntun Samuel agar tidak hanya terpesona oleh pandangan mata. ALLAH tidak melihat penampilan fisik tapi apa yang ada di dalam hati manusia. ALLAH menghendaki raja yang hatinya takut akan TUHAN.
Bagaimanakah cara Saudara menilai orang? Kita acapkali berbeda dengan TUHAN dalam hal menilai seseorang. Manusia lebih suka menilai orang dari penampilan fisik yang terlihat indah dan paras yang elok daripada mengenali bagaimana hati orang itu. Firman TUHAN mengajarkan kepada kita bahwa jangan menilai seseorang hanya dengan melihat penampilan fisiknya tapi jauh lebih penting isi hatinya. Kondisi baik dari dalam hati akan memancar dalam kebaikan yang mewarnai setiap perbuatan.

“Dari hati yang baik akan muncul perbuatan yang baik.”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*