suplemenGKI.com

MATIUS 13: 1-9, 18-23
Perumpamaan Tuhan Yesus tersebut berbicara tentang kualitas hati manusia saat memperoleh benih Kerajaan Allah dalam kehidupannya. Bagaimana jenis tanah atau hati yang kita miliki?
Di antara umat manusia, ada orang yang memiliki hati seperti tanah di pinggir jalan, yaitu orang-orang yang memiliki karakter gemar mengabaikan dan memandang remeh firman kebenaran, sehingga dia membiarkan begitu saja firman kebenaran diambil oleh kuasa dunia ini. Jangan salah, karakter semacam ini justru cukup banyak tumbuh di kalangan orang-orang yang justru lahir dan dibesarkan di dalam keluarga Kristen. Mereka merasa kekristenan yang mereka miliki sudah dari sananya berada di dalam diri mereka. Singkatnya kekristenan bagi mereka sudah bersifat genetik atau keturunan, jadi tidak perlu firman Tuhan lagi bagi hidup mereka. Firman Tuhan seperti masuk telinga kiri dan terus tembus telinga kanan, tanpa sempat mengendap di hati.
Ada pula orang yang memiliki karakter seperti uap minuman soda, begitu tutup botol dibuka segera gasnya membuat minuman berbuih. Benih firman kebenaran tersebut hanya dapat tumbuh sebentar, ada semacam kegembiraan & semangat yang meledak ketika firman diberitakan—mungkin karena hamba Tuhan yang menyampaikan begitu “menyala-nyala” saat di mimbar Kebaktian Kebangunan Rohani. Sayangnya kegembiraan itu langsung “pupus” pada waktu orang tersebut harus membayar harga. Penindasan dan penganiayaan (baca: penderitaan) seringkali menjadi alat yang sangat efektif menguji iman seseorang. Hati orang tersebut masih penuh bebatuan keraguan serta ketakutan.
Ada pula orang yang mempunyai karakter yang dipenuhi berbagai macam “duri.” Kekuatiran, tipu daya kekayaan, bahkan hati yang pernah mengalami pekatnya kepahitan hidup merupakan “duri-duri,” yang menghimpit serta sekaligus menghambat pertumbuhan firman tersebut sehingga tidak berbuah. Kekristenan bagi mereka hanya sekedar identitas, dari pada dianggap atheis alias tidak beragama. Cukup tragis menjadi Kristen tanpa mengalami manfaat atau mencicipi kehidupan kekristenan yang benar bersama Kristus.
Untunglah ada sejenis tanah yang subur. Orang itu mendengar dan mengerti, dan karena itu ia berbuah. Betapa banyaknya orang yang gemar mendengar firman Tuhan, tetapi tidak cukup banyak yang mencoba mengerti firman-Nya. Untuk mengerti dibutuhkan tidak hanya upaya belajar memahami apa yang dikatakan-Nya, tetapi juga mencoba melakukan apa yang kita sudah mengerti dari firman-Nya. Buku 4 B maupun buku renungan lainnya, sudah sangat mempermudah kita untuk sampai tahap pengertian firman Tuhan. Dan banyak yang sudah puas sampai tahap ini—yaitu tahap pemahaman, dan belum lagi melangkah ke tahap berikutnya, yakni tahap penerapan. Penerapan firman Tuhan mengubah seseorang dan membuatnya senantiasa berbuah bagi yang bermanfaat bagi sesama.
Benih yang sama kualitasnya—kualitas Prima dengan merk “Surgawi,” tetapi mengapa punya dampak yang beda? Di dalam Efesus 6: 17, dikatakan,”…..terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah.” Ketika seseorang menerima keselamatan, maka Roh Kudus akan senantiasa hadir dalam kehidupannya. Sejak saat itu maka Roh Kudus tidak pernah berhenti berkarya: mengingatkan—menguatkan—menegur—menghibur—menopang—dan masih banyak lagi. Roh Kudus “menggunakan” firman Tuhan untuk melakukan fungsi-fungsi tersebut. Sebagaian orang menyambut kehadiran dan karya Roh Kudus dengan sikap pertobatan dan pembaharuan hidup menurut Roh. Namun sebagian lagi menyambut kehadiran dan karya Roh Kudus dengan sikap pembenaran diri, cara pandang penuh kebencian dan kepahitan, serta tidak jarang pada akhirnya menjadi penolakan. Transformasi (baca: perubahan) hidup adalah suatu pilihan. Jangan terus membuat pilihan yang salah!
PETA

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*