suplemenGKI.com

Senin, 6 September 2010; Keluaran 32:1-6

Kalau kita memperhatikan kisah perjalanan bangsa Israel yang keluar dari Mesir menuju tanah perjanjian, maka nampaknya mereka sedang berada masa kevakuman. Sejak pasal 11, bangsa Israel praktis menjadi bangsa yang dinamis, sampai pasal 19. Tapi setelah itu, mereka berdiam diri di kaki gunung Sinai tanpa kegiatan sampai pasal 32 ini.

- Pernahkah Saudara berada dalam masa penantian? Bagaimana perasaan bangsa Israel ketika menanti Musa yang tidak kunjung kembali dari gunung?

- Mengapa dalam masa penantian itu bangsa Israel kemudian meminta kepada Harun agar dibuatkan allah?

- Mengapa Harun mengabulkan permintaan bangsa Israel itu? Apakah Harun tidak tahu bahwa permintaan itu merupakan dosa di hadapan Allah?

- Apakah Saudara pernah menantikan pimpinan / pertolongan Tuhan? Apa yang Saudara lakukan dalam masa penantian itu?

Renungan:

Bangsa Israel berada di dalam ketidakpastian. Selama ini mereka telah melewati masa-masa sulit dalam hidup dengan sukses. Mereka berhasil bebas dari perbudakan di Mesir secara gemilang. Kemudian dengan sukses pula menyeberangi laut merah sekaligus menenggelamkan pasukan Mesir. Lalu terlepas dari ancaman kehausan karena Tuhan mengubah air yang pahit menjadi manis. Dilanjutkan dengan pengalaman terhindar dari mengalami kelaparan di padang gurun, karena Tuhan mengirim manna. Pengalaman-pengalaman yang luar biasa itu membuktikan bahwa mereka tidak berjalan sendiri, tetapi ada tangan Ilahi yang menyertai perjalanan mereka melalui Musa. Hal ini pasti membanggakan dan membuat mereka makin percaya diri untuk menatap masa depan. Akan tetapi situasinya sekarang berubah. Sudah berhari-hari, bahkan berminggu-minggu Musa, pemimpin mereka, yang melaluinya pimpinan Ilahi itu menjadi nyata, meninggalkan mereka. Bangsa Israel berada di dalam ketidakpastian. Mereka bimbang, kuatir tentang masa depan mereka. Siapa yang akan memimpin mereka? Perjalanan mereka tidak mengalami kemajuan.

Menghadapi situasi yang tidak menentu ini, bangsa Israel mencari kepastian. Mereka mencari pemimpin baru. Maka mereka menciptakan allah yang akan mereka angkat menjadi pemimpin. Keputusan ini bukanlah suatu hal yang aneh, sebab memang demikianlah model peribadatan pada jaman itu. Semua bangsa menyembah banyak dewa, memiliki banyak allah, termasuk bangsa Mesir. Selama bertahun-tahun mereka melihat bagaimana bangsa Mesir menyembah beberapa allah sekaligus. Bahkan mereka juga terlibat di dalam pembuatan patung allah itu beserta dengan kuil masing-masing allah. Mereka tidak menyadari bahwa paham politeistik tersebut sebenarnya merupakan pemberontakan terhadap kepemimpinan Yahweh yang meminta mereka untuk menjadi bangsa yang monoteistik. Maka mereka datang kepada Harun dan memintanya untuk membuat allah, menggantikan Yahweh yang selama ini telah memimpin mereka dengan luar biasa.

Menghadapi desakan massa tersebut Harun menjadi takut. Ia memutuskan untuk mengabulkan permintaan bangsa yang sedang gelisah dalam ketidakpastian itu. Sebagai kakak, Harun tentu mengharapkan dan meyakini bahwa Musa masih hidup. Dan itu berarti juga meyakini bahwa Yahweh masih memimpin bangsa Israel. Tapi ”demo” bangsa Israel membuat Harun goyah, sehingga iapun mengabaikan keyakinannya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*