suplemenGKI.com

Senin, 27 Juni 2011

Zakaria 9:9-10

Pernahkah Saudara mendengar kisah pertarungan angin ribut dan angin lembut? Si angin ribut merasa memiliki kekuatan besar yang mampu mematahkan kekuatan manusia. Dia membanggakan diri dan berkata kepada si angin lembut:” Lihatlah betapa hebatnya aku; kekuatanku amat besar, manusia pun berhasil kutumbangkan”. Mendengar hal itu, si angin lembut berkata:” Benarkah? Mari kita buktikan, siapakah yang paling kuat: aku atau kamu?” Mereka pun bertarung. Si angin ribut memulai unjuk kekuatan. Bertiuplah angin yang sangat kencang. Angin ini memporakporandakan segala harta benda namun manusia masih tegak berdiri. Kini giliran angin lembut. Mulailah bertiup angin sepoi-sepoi, hembusannya sangat lembut sehingga membuat banyak manusia mengantuk. Bahkan mereka yang sedang bekerja pun tidak dapat menahan kantuk. Mereka menghentikan segala pekerjaannya dan memilih tidur. Mereka “ditumbangkan” oleh si angin lembut.
Tahukah Saudara bahwa kelembutan seringkali menjadi pemenang dalam hidup ini? Berita inilah yang akan kita renungkan melalui bacaan hari ini.

Pendalaman teks Alkitab

1. Ayat 9 : Mengapa puteri Sion atau puteri Yerusalem diajak untuk       bersorak-sorai?
2. Ayat 10 : Bagaimanakah kekuatan Sang Raja baru yang sedang datang?

Renungan

Dalam kehidupan sehari-hari kita melihat banyak orang memakai kekuasaan dan kekerasan untuk mengatasi masalah. Kita melihat para pemimpin memakai kekuasaannya dengan bertindak otoriter sehingga menghasilkan sikap semena-mena. Tak jarang para pemimpin keluarga juga memakai kekuasaan dan kekerasan yang menindas dan menekan anggota keluarga. Akibatnya terjadilah ketidakdamaian. Demi kekuasaan, orang tak segan memakai jalan kekerasan untuk menghancurkan kehidupan orang lain. Orang mengatasi masalah dengan mengandalkan kekuasaan dan kekuatan fisik sehingga menciptakan masalah baru yang lebih menyengsarakan. Hal ini melahirkan situasi hidup sehari-hari yang rawan konflik.

Sesungguhnya masyarakat Yahudi dalam bacaan hari ini sedang mengalami situasi serupa. Mereka lelah di tengah kekerasan demi kekerasan akibat konflik berkepanjangan antara Yahudi dan Samaria. Mereka berharap datangnya sang raja adil yang membawa damai. Di tengah pengharapan itulah nabi Zakaria memberitakan rekonsiliasi, perdamaian dan pengharapan yang membangkitkan semangat hidup yang patah. Zakaria mengajak umat bersemangat dan bersukacita bahkan bersorak-sorak menyambut datangnya raja baru yang dihadirkan ALLAH di tengah-tengah Yerusalem ( Israel). Sang Raja baru ini bukanlah sosok pahlawan perang yang seram, yang memakai kekuatan dan senjata perang untuk menghancurkan musuh. TUHAN menghadirkan sosok raja yang lemah lembut, rendah hati dan membawa damai. Ia tidak diiringi pasukan tentara yang membuat banyak orang takut melihatnya. Raja baru yang datang adalah sosok Ratu Adil yang lembut, bersahaja dan rendah hati. Kehadirannya jauh dari simbol-simbol kekuasaan yang menindas. Kendaraannya adalah seekor keledai beban yang muda. Ia tidak mengendarai kuda perang yang kuat dan perkasa tapi seekor keledai beban muda. Ia adalah pemimpin yang mengakhiri perseturuan dengan jalan kerendahan hati, kelemahlembutan dan pengampunan.

Justru dalam kelemahlembutan dan kerendahan hati, sang Raja memimpin bangsanya keluar dari masalah sehingga konflik dan peperangan berubah menjadi perdamaian (syalom). Bahkan hal ini juga berdampak dengan semakin melebarnya wilayah kekuasaannya ke segala bangsa dan sampai ke ujung bumi.

Berita ini menyejukkan hati kita semua. Manakala banyak orang berpandangan bahwa kemenangan selalu menjadi milik sang pemegang senjata, Firman TUHAN memberitakan bahwa kemenangan sejati justru dimiliki oleh orang-orang yang mengedepankan kelemahlembutan dan kerendahan hati. Kelemahlembutan dan kerendahan hati tak bisa dipisahkan. Orang yang rendah hati akan selalu berekspresi dalam kelemahlembutan. Sebaliknya arogansi, kebanggaan dan kesombongan diri akan muncul dalam sikap kekerasan.

Manakah yang lebih mengarahkan langkah hidup Saudara? Kesombongan ataukah kerendahan hati? Kekerasan ataukah kelemahlembutan? Mari membawa kesejukan dan perdamaian di sekitar kita dengan memimpin orang lain untuk merasakan damai TUHAN. Untuk itu mari belajar bersikap rendah hati dan lemah lembut. Mari atasi segala persoalan dengan kelemahlembutan, maka kita pun menjadi pemenang.

Rendah hati dan lemah lembut

adalah sikap seorang pemenang

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*