suplemenGKI.com

Selasa, 6 Oktober  2015

Ayub 23:13-17

Pengantar

Pernahkah Saudara mengalami kecemasan? Hal apakah yang paling membuat Saudara cemas? Sakit penyakit serta kehilangan harta benda dan keluarga, biasanya membuat orang menderita dan dilanda kecemasan. Tapi yang paling mencemaskan Ayub bukanlah malapetaka gelap yang melandanya namun kondisi yang tidak dapat menghampiri ALLAH.  Mengapa demikian? Marilah kita merenungkannya.

Pemahaman

  • Ayat 13-14 : Bagaimanakah pandangan Ayub tentang ALLAH dan kehendak-Nya?
  • Ayat 15-17 : Apakah yang dirasakan Ayub saat berada di hadapan ALLAH Yang Mahakuasa?

Ayub merasakan gemetar menghadapi ALLAH (ayat 16). Saat itu Ayub sedang mempergumulkan tentang kekuasaan dan kehendak ALLAH dalam hidupnya. “Bila ALLAH memang telah menetapkan Ayub untuk menerima dan mengalami penderitaan itu, apakah mungkin Dia mau berubah pikiran (ayat 13-17)? Mungkinkah ALLAH menjadi pembelaku?” Berbagai pikiran dan harapan itu berkecamuk, menyedot Ayub ke dalam pusaran kecemasan. Bagi Ayub, ALLAH memiliki kekuasaan mutlak atas kehidupan manusia. Tidak ada seorang pun yang dapat menghentikan kehendak dan kekuasaan ALLAH. Maka dalam penderitaannya, Ayub memilih mendekatkan diri kepada ALLAH karena hanya bersama ALLAH-lah, penderitaan itu bisa dijalani. Ayub yakin bahwa ALLAH masih mempedulikan hidupnya. ALLAH tahu bahwa tidak ada kesengsaraan yang dapat membuat Ayub berbalik dari kesetiaan kepada-Nya.

Sesungguhnya dalam menghadapi penderitaan, kita bisa memilih untuk melakukan kedua hal sbb: Pertama, mendekatkan diri kepada Tuhan, atau, kedua, menjauhkan diri dari-Nya. Mendekatkan diri kepada-Nya tidaklah berarti bahwa kita sudah dapat menerima semua penderitaan ini. Mendekatkan diri kepada Tuhan berarti kita membawa semua kepedihan, kebingungan, dan kekecewaan ini kepada-Nya. Dalam ketidakmengertian tentang penderitaan yang dialaminya, Ayub tidak lari dari Tuhan, justru sebaliknya, ia mendekatkan dirinya kepada Tuhan.

Refleksi:

Dalam keheningan, tutuplah mata sejenak dan telusuri memori perjalanan hidup Saudara. Apakah semua peristiwa dan persoalan yang terjadi selalu dapat Saudara pahami? Pernahkah Saudara tidak mampu memahami misteri persoalan yang membuat Saudara menderita? Di tengah ketidakmegertian itu, bagaimanakah reaksi Saudara dalam menghadapi penderitaan? Apakah Saudara lari dari TUHAN ataukah  lari kepada TUHAN? Larilah kepada-Nya karena hanya Dialah yang mengerti keberadaan kita dan yang mempedulikan kita.

Tekadku

Ya TUHAN, tolonglah aku untuk selalu mendekat kepada-Mu sekalipun seringkali aku tidak mengerti maksud dan kehendak-Mu dalam kehidupanku. Jangan biarkan aku lari dari-Mu, namun berikan aku semangat untuk selalu lari kepada-Mu.

Tindakanku.

Bila aku dilanda kecemasan, aku akan berdiam diri sejenak untuk menghadap hadirat TUHAN dalam doa. Aku akan selalu menyanyi:

“ Makin dekat TUHAN, kepada-Mu; walaupun saliblah mengangkatku.

Inilah laguku: Dekat kepada-Mu; makin dekat TUHAN, kepada-Mu. “

( Kidung Jemaat 401 bait 1)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*