suplemenGKI.com

Kamis, 20 Agustus 2015

Efesus 6:10-18a  

Pengantar

Kekuatan di jiwaku ketenangan batinku

Ada dalam hadirat-Mu, ku menyembah-Mu

Tersungkurku di kaki-Mu rasakan hadirat-Mu

Tak kan ku melepaskan-Mu, Kau cahaya bagiku..

Beberapa baris kalimat di atas merupakan penggalan lirik sebuah lagu yang mungkin sudah biasa kita dengarkan atau kita nyanyikan dari “True Worshippers” berjudul ‘Bejana-Mu’. Penggalan lirik itu dibuka dengan pengakuan bahwa kekuatan di dalam jiwanya ketika berada dalam hadirat TUHAN. Manusia hanya bisa kuat ketika dia hidup di dalam TUHAN. Hari ini kita akan merenungkan firman TUHAN yang disaksikan oleh rasul Paulus yang mengingatkan jemaat Efesus untuk kuat di dalam TUHAN, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Bagaimana supaya kita kuat di dalam TUHAN? Mari kita renungkan!

Pemahaman

  • Ayat 10-12    : Mengapa jemaat Efesus harus kuat? Apa maksud ‘harus kuat’ dalam perikop ini?
  • Ayat 13-18a  : Apa saja yang harus dilakukan agar tetap kuat di dalam TUHAN?

Menelaah bacaan ini muncul kesan kuat bahwa Paulus menulis suratnya kepada jemaat di Efesus yang sedang menghadapi ‘musuh-musuh iman’. Ada banyak kelompok yang menentang gereja-gereja di Asia Kecil, yaitu kelompok Gnostik, Libertinian, Yudais, dan lain sebagainya. Namun, Paulus tidak menyebutkan secara jelas kelompok mana yang tengah dihadapi oleh penerima surat ini. Kita hanya membaca bagaimana Paulus mengingatkan jemaat tersebut untuk berani “melawan tipu daya iblis” (ayat 11), “melawan pemerintah-pemerintah … penguasa-penguasa … penghulu-penghulu dunia yang gelap ini … roh-roh jahat di udara” (ayat 12).

Paulus memakai gambaran-gambaran militeristik untuk menyampaikan pesan non-militeristik. Paulus memang menasihati jemaat Efesus untuk “berperang” dengan cara mempergunakan “seluruh perlengkapan senjata Allah” (ayat 13). Namun, yang dimaksudkannya adalah justru kebajikan-kebajikan Kristiani yang berwatak nir-kekerasan (ayat 14-17). Semua ilustrasi itu sesungguhnya ingin menasihatkan agar mereka bergantung sepenuhnya kepada ALLAH. Alat perang militeristik lazimnya membuat pemakai mengandalkan kekuatannya sendiri. Tetapi Paulus justru mendorong umat di Efesus untuk mengandalkan ALLAH. Sikap berserah ini harus muncul dalam praktek berdoa dan berjaga-jaga yang konstan dan tanpa henti (ayat 18).

Refleksi

Masuklah ke dalam ruang tertutup dan pejamkan mata Saudara, cobalah bawa diri Saudara ke dalam sebuah masa ketika beban berat menghimpit dan berbagai godaan datang untuk menjauh dari TUHAN! Ingatlah apa yang Saudara lakukan pada waktu itu? Apakah Saudara cenderung mengandalkan diri sendiri untuk menghadapi beban dan godaan itu atau Saudara datang dan berserah pada TUHAN?

Tekadku

Ya TUHAN, aku ingin selalu berserah pada-Mu untuk setiap hal yang terjadi dalam hidupku, karena Engkaulah pemilik hidupku. Di dalam-Mu aku kuat menjalani setiap langkah hidupku hingga sampai di penghujung peziarahan.

Tindakanku

Hari ini aku akan berserah penuh pada TUHAN untuk setiap kekhawatiran dan persoalan yang kualami karena dengan itulah aku menjadi kuat di dalam TUHAN.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»