suplemenGKI.com

Hidup ini adalah dinamis, bukan statis. Dalam dinamika hidup selalu ada yang dinamakan perubahan. Sesuatu yang tak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri. Mulai dari lahir, menjadi balita, remaja, dewasa sampai lansia. Selalu ada saja perubahan secara alami. Perubahan itu diharapkan akan membuahkan sesuatu yang lebih baik dari yang sebelumnya.

Ada pelbagai aspek yang mempengaruhi perubahan itu. Dari yang menyenangkan tapi juga yang tidak menyenangkan. Yang berkenan maupun yang tidak berkenan. Salah satunya yang disebut KRISIS. Krisis adalah suatu keadaan yang berbahaya, genting, suram. Bisa mengenai fisik tapi juga psikis. Bisa menyangkut ranah ekonomi tapi juga ranah moral. Ada krisis ekonomi, sosial, tapi yang lebih gawat adalah krisis iman.

Lelaki yang satu ini punya status sosial yang mapan. Dalam dirinya segala sesuatu bisa diatur melalui apa yang dimilikinya. Sayang profesinya mempunyai citra yang kurang baik. Karena ia punya otoritas melakukan pemerasan kepada masyarakat. Zakheus dalam perikop Lukas 19:1-10 adalah kepala pemungut cukai. Tidak sedikit orang yang mencibir profesinya. Perikop Lukas 18:13 mengindikasikan bahwa diri seorang pemungut dosa adalah sarat dengan dosa, memperkaya diri dan memiskinkan orang.

Tidak heran krisis iman yang dihadapi Zakheus menjadi beban psikis dalam dirinya. Tapi ada suatu yang positif manakala ia mau melihat dan mendengar apa yang dikatakan orang banyak tentang “keselamatan” yang identik dengan pribadi Yesus. Zakheus punya modal utama yaitu “tekad” menemui sang Juru Selamat walau dengan susah payah.

Kemauan kuat itulah yang akhirnya ia disapa oleh Yesus: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini aku harus menumpang di rumahmu “ (ay. 5b). Sesuatu perubahan nyata terjadi dalam dirinya ketika ia jumpa muka dengan Yesus. Ia menerima Yesus dengan sukacita. (ay. 6). Bukan berhenti dengan sukacitanya, ia berubah menjadi orang yang punya nurani untuk orang lain. Luar biasa perubahan yang terjadi dalam dirinya. Katanya:  “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat

Kalau kita sedang dilanda krisis apapun, ada satu solusi yang cepat dan tepat. Carilah dan temuilah Yesus. Seberapa besar krisis yang kita alami,  pasti ada damai sejahtera dalam diri kita jumpa dengan Yesus. Damai sejahtera inilah yang membuat paradigma kita berubah. Dari ego centris menjadi memperhatikan orang lain.

Karena itu jadikan krisis sebagai pembelajaran untuk hidup sesuai rencana Tuhan.

Yesus menginginkan kita menjadi serupa dengan Dia. Pola pikir, perilaku, kebiasaan dari yang negatif menjadi positif. Dari sikap ingin selalu dilayani menjadi ingin melayani, dikasihi menjadi mau mengasihi. Karena Yesus telah menjadi teladan kita, “Sebab Anak manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (ay. 10).

Itulah mandat yang Yesus berikan kepada kita untuk memberitakan kabar baik. Di saat masyarakat sedang mengalami pelbagai krisis, biarlah kita dipakai sebagai alat di dalam rancangan damai sejahtera-Nya. Hari ini tepat tgl. 31 Oktober, kita memperingati Hari Reformasi. Motto Martin Luther bapak Reformator adalah: Ecclesia reformata sed semper reformanda. Gereja yang sudah dibaharui harus terus menerus dibaharui. Dan itu berlaku mulai dari setiap kita yang disebut warga gereja.  Amin.   (W.P)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*