suplemenGKI.com

Sumber : Ambil & Bacalah edisi ke-10, Januari 2008
Departemen Pengajaran, GKI Residen Sudirman – Surabaya

Beberapa anggota jemaat merasa tidak sejahtera beribadah di GKI karena dalam ibadah di GKI disebut nama Allah. Mereka adalah pengikut kelompok kekristenan yang mengharamkan nama Allah bagi umat Kristen.
Benarkah orang Kristen tidak boleh menyebut nama “Allah”? Artikel berikut ini menjelaskannya. Ambil dan Bacalah!

Mengapa ada kontroversi penggunaan nama Allah ?
Sekitar tahun 1999, kelompok Iman Taqwa kepada Shiraathal Mustaqiim yang kemudian berganti nama menjadi Bet Yesua Hamasiah – dipelopori oleh Eliezer ben Abraham (atau dokter Suradi) – menerbitkan seri traktat dengan judul “Siapakah yang Bernama Allah itu?” Traktat-traktat itu menimbulkan masalah dan kebingungan di kalangan umat Kristen karena di dalamnya disebutkan bahwa nama “Allah” yang digunakan di dalam Alkitab terjemahan bahasa Indonesia Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dianggap sebagai nama dewa bangsa Arab yang tidak patut dipakai oleh umat Kristen, dan karena itu harus diganti dengan Elohim atau Yahweh. Mereka juga mengklaim bahwa nama “Allah” adalah sembahan orang Muslim dan tidak sepantasnya nama “Allah” ini dipakai untuk menyebut Tuhannya umat Kristiani. Kelompok Bet Yesua Hamasiah menyerukan agar umat Kristen menghentikan hujatan kepada Yahweh dengan tidak menyebut nama Allah.

Jika kelompok Bet Yesua Hamasiah tidak setuju dengan Alkitab terjemahan LAI, apakah mereka menerbitkan Alkitab sendiri?
Ya, kelompok Bet Yesua Hamasiah dan Pemuja Nama Yahweh masing-masing menerbitkan Alkitab lengkap dalam bahasa Indonesia yang disebar secara cuma-cuma, yaitu:
• KITAB SUCI TORAT DAN INJIL, atau KITAB SUCI 2000, dikeluarkan oleh Bet Yesua Hamasiah, P.O. Box 6189 JKPMT 10310.
• KITAB SUCI UMAT PERJANJIAN TUHAN, dikeluarkan oleh Jaringan Gereja-gereja Pengagung Nama YAHWEH, Jakarta 2002 (tanpa alamat).

Bagaimanakah menjelaskan penerjemahan YHWH dan pemakaian kata ALLAH?

1. Penerjemahan YHWH
Apa yang kita sebut sebagai YAHWEH, dalam Alkitab Ibrani tertulis YHWH. Atau dikenal juga sebagai tetragram. Tetragram tidak pernah diucapkan, karena itu sampai hari ini tidak ada yang tahu bagaimana kata itu dibunyikan dan apa huruf hidupnya. Orang Yahudi tidak menyebut nama ini karena hormat (Bandingkan titah ketiga: ”Jangan menyebut nama TUHAN dengan sembarangan”). Jadi, mengucapkan/membunyikan YHWH dianggap tanda ketidakhormatan pada Yang Ilahi, tanda tidak adanya “takut akan TUHAN”.
Alkitab Ibrani sendiri mula-mula terdiri atas huruf-huruf konsonan saja. Ketika kemudian para masoret menambahkan huruf vokal, mereka menempatkan vokal yang terdapat dalam kata adonai (artinya Tuhanku) pada kata YHWH. Untuk mengingatkan, setiap kali menemukan kata “YHWH”, mereka harus menyebutnya dengan ‘adonay (= “Tuhan-ku”). Jadi, “YHWH” TIDAK PERNAH DIUCAPKAN ATAU DIBACA. Ketika berdoa pun mereka tidak menyebut Yahweh atau YHWH, tetapi Adonai.
Dalam penerjemaham Alkitab, LAI hampir selalu menerjemahkan “YHWH” dengan “TUHAN”. Kecuali, dalam beberapa kasus dimana kata Ibrani mengkombinasikan “adonai” dengan “YHWH”. Dalam kasus-kasus tersebut, LAI menerjemahkannya sebagai “Tuhan ALLAH (2Sam. 7:19 dan Yes 5:3), sebab konsep “Tuhan” sudah dikandung dalam kata “Adonai”.
Kebijakan penerjemahan seperti ini mengikuti terjemahan Septuaginta (terjemahan Yunani atas Alkitab Ibrani bagi umat Yahudi di diaspora) yang menerjemahkan YHWH dengan ‘Kyrios’ yang berarti: TUHAN, baik dalam tulisan maupun dalam pengucapan. Para penulis kitab-kitab Perjanjian Baru selalu mengikuti LXX (Septuaginta) dan menerjemahkan “YHWH” dengan ‘Kyrios’ (TUHAN) kalau mengutip PL. Di beberapa tempat, kadang di PB juga ada kata ‘Theos’. Sejarah kekristenan mencatat, kebijakan ala Septuaginta ini diteruskan sampai saat ini.
Jadi, dengan kebijakan penerjemahan seperti ini LAI sebenarnya telah memperlihatkan penghargaan terhadap tradisi umat Yahudi mengenai nama Ilahi sekaligus telah setia meneruskan tradisi Kekristenan awal.

2. Pemakaian kata ALLAH dan ELOHIM
Kata “Allah” dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab seperti halnya kata Arab lainnya yang masih tetap digunakan oleh umat Kristen seperti “syukur”, “rasul”, “injil”, “ajaib”, “umat”, “berkat”, dll. Bahasa Arab, Ibrani, dan Aram berasal dari satu rumpun bahasa Semitik
LAI memakai kata “Allah” untuk menerjemahkan kata Ibrani ‘elohîm’. Kata Ibrani elohîm berasal dari akar kata El (Yang Ilahi) yang lebih dominan dalam teks-teks PL yang lebih ‘kuno’. Nama Tuhan ‘El’ (Il) sudah lama dikenal di Mesopotamia, dan dalam dialek Aram nama itu disebut ‘Elah/Elaha (atau Alah/Alaha),’ di Israel disebut ‘El/Elohim/Eloah,’ dan dalam bahasa Arab disebut ‘Ilah/Allah.’ Kata sandang difinitif dalam bahasa Aram adalah ‘Ha’ yang diletakkan di belakang kata, dalam bahasa Ibrani diletakkan di depan (Ha Elohim), sedangkan dalam bahasa Arab kata sandang ditulis ‘Al’ diletakkan di depan (Al-Ilah). Jadi baik El/Elohim/Eloah, Elah/Elaha, dan Ilah/Allah menunjuk kepada Tuhan Monotheisme Abraham yang sama, baik sebagai nama pribadi maupun sebutan untuk ketuhanan.
Di Israel, nama ‘El/Elohim’ adalah nama Tuhan sebelum nama ‘Yahweh’ diperkenalkan kepada Musa (Keluaran 6:1-2) dan sekalipun nama Yahweh sudah diperkenalkan, nama El tetap digunakan sebagai nama diri Tuhan. Dalam Perjanjian Lama, nama Elah/Elaha sudah ada dan ditulis pada abad-VI sM dalam kitab Esra yang ditulis dalam bahasa Aram dengan aksara Ibrani ‘Elah Yisrael’ (Allah Israel, 5:1; 6:14). Dalam Alkitab Aram Siria (Peshita) digunakan nama Elah/Elaha juga. Setelah berkembangnya bahasa Arab, nama itu menjadi Ilah/Allah, dan orang-orang Yahudi yang berbahasa Arab dan orang Arab yang mengikuti kepercayaan Yahudi juga menggunakan nama Allah itu.
Pada masa jahiliah pra-Islam, sebutan ‘Allah’ pernah merosot dan juga ditujukan kepada Dewa Bulan/Air (di kalangan Ibrani, nama ‘Yahweh’ dan ‘Elohim’ juga pernah merosot digunakan untuk menyebut berhala Anak Lembu Emas; Keluaran 32:1-5;1Raja 12:28). Jikalau kata “Allah” mengalami kemerosotan/ digunakan untuk menyebut nama berhala, bukanlah Allah itu yang menjadi dewa, melainkan ulah orang-orang tertentu yang menghubungkan kata “Allah” dengan dewa. Sebelum kata “Allah” digunakan sebagai dewa bulan, kata itu sudah digunakan untuk merujuk Sang Khalik yang benar.
Jadi kata “Allah” bukanlah istilah milik agama Islam saja. Orang-orang Kristen Arab sebelum adanya agama Islam sudah memakai kata “Allah” ini dalam doa-doa mereka, juga teolog-teolog Kristen-Arab sudah memakai kata “Allah” dalam tulisan-tulisan mereka. Jadi, penggunaan kata “Allah” oleh orang Kristen di Arab lebih tua dari pemakaiannya dalam agama Islam. “Allah” dipakai dalam semua versi Kitab Suci bahasa Arab dari zaman kuno sampai sekarang ini. Orang-Orang Kristen di Aljasair, Mesir, Irak, Yordania, Libanon, Malaysia, Brunai,dll, dimana bahasanya mempunyai kontak dgn bahasa Arab, semuanya memakai kata “Allah”.

Bagaimanakah sikap kita terhadap kontroversi penggunaan nama Allah?
Untuk menjawab persoalan ini kita perlu memahami secara khusus makna nama diri dari Yesus. Nama Yesus berasal dari kata “Yosua” atau “Yehosua” yang berasal dari bahasa Ibrani, yang artinya: “Allah itu keselamatan”. Jadi dalam nama Yesus telah terkandung makna nama dan hakikat diri YHWH yang menyelamatkan umatNya. Sangat jelas dalam iman Kristen, dalam nama Yesus Kristus, Allah telah menyatakan diriNya secara unik, khusus dan menyeluruh; sehingga melalui nama Yesus Kristus, Allah menganugerahkan keselamatan bagi seluruh umat manusia. Jaminan keselamatan tidak ditempatkan oleh Allah dalam berbagai “nama”, tetapi secara unik jaminan keselamatan tersebut diakomodir hanya di dalam nama Yesus Kristus. Dengan demikian, penyebutan nama Allah tidak perlu diganti dengan nama Yahweh. Sebab seluruh rahasia kebenaran dan kepenuhan hakikat Allah telah dinyatakan secara menyeluruh dalam diri Tuhan Yesus. Kristus adalah penyata diri Yahweh, maka umat Kristen tidak pernah menolak nama dan diri Yahweh. Justru melalui kehidupan dan pengorbanan Kristus, kita diperkenankan untuk mengenal rahasia kasih, kebenaran, dan keadilan dari Yahweh.
Demikian pula kita juga tidak perlu menolak nama “Allah”. Sebab nama diri/hakikat Allah adalah YHWH. Kita menyembah Allah yang bernama YHWH, bukan menyembah yang lain. Terjemahan Alkitab oleh LAI dapat dipertanggungjawabkan secara teologis. Umat Kristen tetap sah secara teologis dan historis menggunakan nama “Allah”. Sebab nama “Allah” yang dimaksudkan pada hakikatnya sebagai nama diri dari Yahweh; dan pada saat yang sama diri Yesus Kristus menunjuk Firman dari Yahweh yang bekerja di dalam sejarah. Sehingga antara diri Yesus Kristus dengan Yahweh pada hakikatnya satu kesatuan ilahi atau kesatuan hakikat Allah dengan Sang Firman yang berkarya menyelamatkan umatNya.
Hal lain yang perlu pula kita sadari adalah bahwa dalam kesamaan nama ‘Allah’ yang disembah ketiga agama Semitik (Yahudi, Kristen, Islam) bisa menjadi perekat bahwa ketiganya sebenarnya bersaudara. Hal ini menjadi pintu yang membuka komunikasi dalam dialog antar agama dan dengan demikian kita bisa hidup bersama dalam damai dan toleransi tanpa kehilangan kekhasan iman sesuai ajaran kitab suci masing-masing.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

13 Comments for this entry

  • karel says:

    gua sering nonton acara natal Vatikan lewat TV dan ternyata………..Paus gak pernah menyebut nama “Allah”. Biasanya Paus menyebut Deo, Dieu (bahasa perancis:Tuhan), God(Bahasa Ingris:Tuhan). Umat sini aja yang belom ngerti hi hi hi…

    coba liat Oxford Learner’s Pocket Dictionary, Third Edition 2003
    Allah : name of God among muslims.
    God : the maker and ruler of the universe, being is believed to have power over nature or to present a particular quality, person or thing that is greatly admired or loved.

  • Benny Gunawan says:

    Saya rasa apa yang dijelaskan oleh penulis naskah Kontroversi Penggunaan Nama Allah adalah sudah benar, sedangkan apa yang dilakukan oleh Dr. Suradi dan kelompok pengagung nama YHWH menurut saya adalah sah-sah saja demikian pula ketika kelompok mereka menerbitkan Alkitab sendiri, itu adalah hak mereka.
    Tetapi ketika mereka menerbitkan Alkitab sendiri dan meng copy paste isi Alkitab terbitan LAI dan hanya mengganti text Allah dengan YHWH itu namanya PEMBAJAKAN, karena isi dari Alkitab terbitan LAI adalah hasil pergumulan dan hasil kerja keras para teolog untuk menterjemahkan dari text asli dalam bahasa Yunani, Ibrani dan Aramaik.
    Ke Kristenan saat ini sangat western sehingga ketika kita menemukan sesuatu yang berbahasa Arab konotasinya selalu Muslim. Perlu saya ingatkan bahwa Agama terbesar di dunia sejak jaman Abraham sehingga Yesus (maupun Muhammad), para nabi dan Rasul semua itu muncul dari Timur Tengah dan TIDAK ada yang muncul dari Eropa maupun Amerika (kecuali mormon, saksi yehuwa yang pengajarannya memang sasat).
    Jadi sebaiknya sdr. Karel dan Johnny belajar dari sumber yang priemer jangan cari sumber sekunder dan kalau anda berdua kesulitan mencari dan belajar text aslinya, silahkan anda membaca dan belajar kepada teolog-teolong seperti Bambang Noorsena, Herlianto atau kalau perlu ke DR. Olaf Schuman. Ketiga orang ini yang saya tahu concern dengan text asli bahasa semitik.
    Comment saya bukan untuk berpolemik tentang sekedar nama, tetapi marilah kita bersama-sama belajar untuk lebih cerdas dalam pelayanan. Bagaimana kita dapat menyebarkan ajaran Yesus kalau kita hanya punya modal pas-pas an dan bagaimana kita (tidak perlu bicara memenangkan jiwa dahulu)menghadapi gerakan anti Kristus yang suka perang ayat-ayat Alkitab? apalagi kalau kita sudah berhadapan dengan kaum polemikus dari islam. Mampukah kita menjelaskan iman kita dengan benar kalau kita hanya berpolemik di intern kita tentang nama, dokmah,cara baptisan dan tembok2 penyekat.
    Buat penulis kiranya karya anda mampu mencerdaskan orang yang merindukan pengetahuan tentang ke Kristenan sebagaimana 3 tokoh yang saya sebut diatas.
    Shalama Aleikhom

  • Bpk Pendeta GKI yth, saya baru mulai ikut Yesus, saya gak pernah baca kalau nama Yang Maha Tinggi/Bapa Sorgawi YHWH, yang ada adalah nama Bapa Sorgawi itu YESUS ( contoh: Yoh 17:6,11,12,).Kalau boleh saya minta surat dan ayatnya yang menyatakan nama sesembahan orang kristen/Raja Sorgawi : YHWH,kalau emang YAHWEH nama Bapa Sorgawi, sia2 saja saya berdoa dalam nama Yesus,mengusir setan dlm nama Yesus,kalau menurut Bapak, YAHWEH lebih luhur dari pada Yesus.
    Terima kasih.

  • Budiman Lee says:

    Syalom,
    Mungkin sy agak terlambat memberi komentar utk tulisan ini. Sy sbg pengikut Kristus yg concern akan masalah ini berusaha memandang dr kacamata ke-2 belah pihak.

    Motivasi sy bkn utk tahu mana yg cocok buat sy, tetapi utk mencari tahu manakah sebenarnya yg lebih berkenan di hati Bapa di surga.

    Setelah punya alasan2 yg cukup kuat, barulah sy membuat keputusan. Dan keputusan pribadi sy itu adalah meninggalkan pemakaian kata “Allah.” Anda bisa lihat alasan2 sy itu di http://www.kristenemasmurni.com/?page_id=654

    Tuhan Yesus memberkati.

  • Busrifin says:

    ???????? ???????

    wah sudah lama yah komennya
    mudah2an saja sudah tidak ada lagi anak2 Tuhan yang bimbang mana nama DIA yang benar,karena emang nama DIA banyak sebutannya.

    yah yang perlu dilakukan adalah melakukan ajaran Tuhan Yesus
    “KASIHILLAH Sesamamu,Seperti kamu Mengasihi Dia”
    jangan cuma berdebat mana nama DIA Yang benar,kalo diri kita diliputi ROH KUDUS,kita tidak perlu berdebat mana yang benar.

    apalagi sampe jotos2an,saling membenci ,jangan ada kepahitan dalam hidup ini
    yang ada cuma menjauhkan KASIH YESUS dalam diri kita masing2

    AMEN… GOD BLESS Indonesia

  • Busrifin says:

    Hiduplah dalam YEsus(DIA dalam diri kita,dalam berbagai aspek hidup kita),jangan hidup untuk Yesus,ato cuma
    untuk menyenangkan Dia

  • Benny Gunawan says:

    @ Budiman, mas memang sekarang ini muacem2 aliran ke kristenan yg berkembang di Indonesia, ada ; Kristen Tauhid, Pengagung nama YAHWE, termasuk group semacam yang anda refrensikan Kristen Emas Murni yang mati2an ngga mau pake nama Allah, saya setuju sama mas Busrifin, ngapain sih kita mempersoalkan nama Allah, mau YAHWE, ELOHIM, bahkan mungkin teman2 di papua menamai dengan Martin Hengga atau yg lain.Bahkan Yesus, Isa Almasih, Kalimatullah dalam kitab berbahasa Yunani tidak pernah menyebut YHWH, karena Yesus adalah orang Ibrani yang pantang dan tidak berani menyebut YHWH dan perlu anda ketahui bahwa bahasa Yesus sehari-hari adalah aramaic. Bahkan ketika Dia meregang nyawa Dia berteriak pada Bapanya dalam bahasa aramaic ” Elohim, Elohim Lama Sabakhtani”

    Tapi, Ok saya hanya ingin mensharekan catatan ini buat anda, sebagai pencerahan, selamat membaca dan berpikir :

    Sejak Kitab Suci Perjanjian Baru ditulis oleh rasul-rasul Kristus, tetagramaton (keempat huruf suci Yhwh, Yahweh) diterjemahkan dalam bahasa Yunani Kyrios (Tuhan). Cara ini mengikuti kebiasaan Yahudi, yang juga diikuti oleh Yesus dan rasul-rasulnya, yang biasanya melafalkan Yahweh dengan Adonay (Tuhan) atau ha Shem (Nama segala nama). United Bible Societies (UBS) dan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) juga mengikuti kebiasaan ini, yang dibenarkan dan diikuti oleh orang Yahudi modern sekarang, untuk mener-jemahkan Yahwe dengan The Lord (dengan huruf besar semua). Yang pertama kali menggugat tradisi penerjemah-kan nama Allah ini adalah kelompok sempalan yang menamakan diri Yehovah’s Witnesses (Saksi-saksi Yehuwa).
    Kelompok ini, dengan bangga telah mengembalikan Yahwe dalam Perjanjian Baru, meskipun teks asli dari rasul-rasul sendiri tidak memper-tahankannya. Timbul pertanyaan: Bolehkah “nama diri” (the proper name) diterjemahkan? Ada “kelompok sempalan” akhir-akhir ini yang berpendapat, menerjemahkan Nama Yhwh dalam bahasa-bahasa lain berarti menghujat Nama-Nya. Tetapi mengapa Yesus dan Rasul-rasul-Nya tidak memperta-hankan Nama tersebut? Semua pertanyaan ini hanya bisa dijawab apabila kita memahami apakah makna “nama” dalam teologi dan kebudayaan Yahudi, yang melatarbelakangi kehidupan Yesus yang “lahir dari seorang perempuan yang takluk kepada hukum Taurat” (Galatia 4:4), dan diikuti oleh murid-murid Yesus serta Gereja-Nya sampai hari ini.
    Nama Yahweh (TUHAN): Asal-usul dan Makna Teologis
    Nama Yahweh untuk pertama kalinya dinyatakan kepada Nabi Musa (Keluaran 6:1). Allah menyatakan diri kepada Nabi Musa dalam nyala api yang keluar dari se-mak duri, dan ketika Allah mengutusnya menghadap kepada Firaun untuk membawa umat Israel keluar dari Mesir, Musa bertanya: “Ba-gaimana tentang Nama-Nya? (Ibrani: Mah symo). Apakah yang harus kujawab kepada mereka?” (Keluaran 3:13).

    Patut dicatat pula, cara biasa untuk menanyakan nama seseorang dalam bahasa Ibrani memakai kata ganti Mi, “Siapakah” (bandingkan dengan kata Arab, Man). Tetapi di sini dalam ayat ini dipakai “Bagaimana (mah) tentang Nama-Nya?”. Mah symo, sejajar dengan bahasa Arab: Ma smuhu, menuntut suatu jawaban yang lebih jauh, yaitu memberikan arti (“apa dan bagaimana”) atau hakikat dari nama itu. Bukan sekedar menunjukkan nama, melainkan lebih dari itu makna yang menunjuk kepada “Kuasa di balik Dia yang di-Nama-kan”.
    Jadi, kita tidak bisa memahaminya seperti nama-nama makhluk pada umumnya: Suradi, Yakub, Hendarto, dan lain-lain. Pertanyaan Nabi Musa ini lalu dijawab Allah dalam bahasa Ibrani: Ehyeh asyer ehyeh, — Aku adalah Aku (Keluaran 3:14). Dengan firman itu Allah menyatakan siapakah Diri-Nya. Secara gramatikal, apabila Allah sendiri yang mengucapkan Nama-Nya, maka kita menjumpai bentuk ehyeh (Aku Ada), sedangkan apabila umat Allah yang mengucapkan tentu saja memakai kata ganti orang ketiga Yahweh (Dia Ada).
    Bagaimana pula secara gramatikal akhirnya kita menemukan bentuk Yahweh? Menurut sebuah tafsir dalam bahasa Ibrani yang cukup representatif (karena berasal dari kalangan rabbi-rabbi Yahudi sendiri), memang bentuk yahweh tersebut berkaitan erat dengan ke-”Maha hadir”-an Ilahi, baik dahulu, kini dan yang akan datang. Keber-Ada-an Allah apabila dikaitkan dengan ketiga aspek waktu tersebut, dalam bahasa Ibrani adalah: hayah, “Ia telah Ada” (He was), howeh, “Ia Ada” (He is), dan yihyeh, “Ia akan Ada” (He will be). Maksudnya di sini, Allah itu Mahakekal, tidak terikat oleh aspek waktu, dan hal itu dibuktikan dengan kekuasaan-Nya yang selalu dinamis.
    Dari deksripsi di atas, jelas bahwa Perjanjian Baru lebih mengacu kepada makna teologis di balik Nama itu, yaitu kuasa-Nya yang hidup dan bukan mempertahankan secara harfiah huruf-huruf mati tersebut. Terjemahan Nama Yahweh ini, antara lain dapat kita baca dalam Wahyu Yohanes:
    “Aku adalah Alfa dan Omega, yang ada yang yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa” (Wahyu 1:8).
    Perhatikanlah, ungkapan yang dicetak miring (kursif). Dalam bahasa Yunani: ho on kai ho en kai ho erksomenos, ho Pantakrator. Frase ini merupakan terjemahan dari sebuah doa (Siddur) Yahudi dari zaman pra-Kristen hingga sekarang, yaitu doa Adon ’olam yang sangat terkenal, yang memuat keterangan dari Nama Yahweh yang pantang diucapkan itu: We hu hayah we hu howeh we hu yihyeh le tif’arah (Ia yang sudah ada, yang ada, dan yang akan ada, kekuasaan-Nya kekal sampai selama-lamanya).
    “Nama” dan “Pribadi” dalam Alkitab
    Dalam kebudayaan Yahudi yang melatarbelakangi Alkitab, “nama” selalu terkait erat dengan “pribadi”. Dalam Kitab Suci, “nama” dapat diru-muskan dalam 3 dalil:
    1. Nama adalah pribadi itu sendiri;
    2. Nama adalah pribadi yang diungkapkan; dan
    3. Nama adalah pribadi yang hadir secara aktif.
    Apabila ketiga pengertian ini diterapkan untuk Allah, maka penjelasan sekaligus dalil-dalilnya sebagai berikut:
    1. Nama menunjuk kepada Pribadi itu sendiri
    Dalam Alkitab nama seseorang selalu diidentikkan dengan pribadi seseorang. Lenyapnya seseorang sering disebut “namanya hilang”. Misalnya, doa Israel ketika mereka dikalahkan dalam sebuah peperangan:
    “…mereka akan melenyapkan nama kami dari bumi ini, dan apakah yang Kau lakukan untuk memulihkan Nama-Mu yang besar itu?” (Yosua 7:9).
    Dalam hal Allah digambarkan lebih dramatis lagi, sebab TUHAN iden-tik dengan “Sang Nama”. Imamat 24:11 dalam teks bahasa asli:
    Wayyiqov ben ha isyah ha yisrael et ha Syem…
    (Anak perempuan Israel itu menghujat Sang Nama dengan mengutuk…)
    Karena itu, Terjemahan Baru/TB (1974) LAI menerjemahkan: “Anak perempuan Israel itu menghujat Nama TUHAN dengan mengutuk…) Dari contoh ayat di atas, jelaslah bahwa Nama menunjuk kepada Pribadi yang di-”Nama”-kan. Karena itu, yang dipentingkan bukan penyebutan Nama Ilahi Yahwe dalam bahasa asli Ibrani, melainkan lebih menunjuk kepada Pribadi Allah itu sendiri. Allah yang Mahakekal, Mahaesa, Mahahidup dan menyata-kan Diri-Nya kepada manusia.
    2. Nama adalah Pribadi yang Diungkapkan
    Apabila Amsal 18:10 menyebut bahwa Nama TUHAN (syem Yahwe) adalah menara yang kuat, maksudnya tidak lain adalah Pribadi Allah yang hidup dengan kekuasaan Ilahi-Nya yang menjaga dan melindungi kita umat-Nya. “Nama” di sini menunjuk kepada apa yang diketahui tentang Pribadi-Nya.
    Contoh yang lebih jelas, Yesaya 30:27 dalam bahasa Ibrani: Hinneh, syem Yahwe ba mimerhaq…” Secara harfiah terjemahannya: “Perhatikanlah, Nama TUHAN datang dari tempat-Nya yang jauh…” Mengapa dikatakan “Nama TUHAN datang”, dan tidak cukup dikatakan saja “TUHAN datang”? Jawab-annya, Nama di sini untuk menekankan “pengungkapan Pribadi-Nya”. Tepat sekali, LAI menerjemahkan: “TUHAN datang menyatakan Diri-Nya dari tempat yang jauh…” Di sini, syem (Nama) diterjemahkan “menyatakan Diri-Nya”.
    Jadi, sekali lagi bukan dalam makna mempertahankan secara harfiah penyebutan Ibrani Yahwe, se-bagaimana ditafsirkan Saksi-saksi Yehuwa, dan di-ikuti oleh kelompok “bid’ah baru” Kristen tertentu pada tahun-tahun terakhir ini di Indonesia.
    3. Nama adalah Pribadi yang hadir secara aktif
    Makna ketiga dari Nama adalah kehadiran aktif Pribadi itu dalam ke-penuhan sifat-Nya yang diungkapkan. Mazmur 76:1 menyebutkan: “…Nama-Nya masyhur di Israel”, dibuktikan dengan perbuatan-perbuatan Allah yang dasyat yang dialami oleh umat Israel. Begitu pula, di Gunung Karmel Nabi Elia mengusulkan “peperangan” Nama Tuhan dengan nama ilah-ilah selain-Nya. “Nama” dalam hal ini menunjuk kepada Pribadi yang hadir, yang dibuktikan dengan menjawab doa orang yang menyeru Nama-Nya.
    Kemudian biarlah kamu memanggil nama ilah-mu (be shem elohekhem) dan akupun akan memanggil Nama Tuhan (beshem yahwe), maka ilah yang menjawab dengan api, Dialah Allah” (we hayah ha-elohim asyer yaeneh be esh hu ha-elohim)” (1 Raja-raja 18: 24).
    Demikianlah apabila teks Ibrani di atas secara harfiah diterjemahkan dalam bahasa Arab: “…wa al-ilah alladzi yujiibu binarin faa huwa Allah”. Secara gramatikal, dalam konteks ayat tersebut, Allah adalah “al-Ilah alladzi yujiibu binarin” (Ilah yang menjawab dengan api itu). Maksudnya, Allah adalah Ilah (sembahan) yang Mahakuasa, dan Dia telah membuktikan kekuasaan-Nya sebagai Allah yang Hidup.
    Kutipan ini juga membuktikan bahwa kata Allah memang berasal dari al-Ilah, dan bukan “nama diri” (the proper name). Nama Diri Allah adalah yahweh, seperti disebutkan dibuktikan dengan “peperangan nama” di gunung Karmel di mana Yahwe tampil sebagai pemenang, karena Ia adalah Allah yang men-jawab doa umat-Nya. Ia adalah Pribadi Ilahi yang benar-benar hadir secara aktif:
    Ketika seluruh rakyat melihat kejadian itu, sujudlah mereka serta berkata: Tuhan, Dialah Allah! Tuhan, Dialah Allah (1 Raja-raja 18:39).
    Dalam bahasa aslinya, seruan itu berbunyi: Yahweh, hu ha elohim! Yahweh, hu haelohim. Dalam terjemahan bahasa Arab: Ar Rabb, huwa Allah! Ar Rabb, huwa Allah (Tuhan, Dialah Allah! Tuhan, Dialah Allah).
    Jadi, jelaslah bahwa dalam hal “Nama Diri” Yahweh, semua umat Kristen sepakat. Masalahnya, baik UBS maupun LAI hanya mengikuti tradisi lama yang juga diikuti oleh Yesus, murid-murid-Nya dan Gereja Tuhan sepanjang abad, bahwa sekalipun nama Yahweh tetap dipertahankan dalam teks bahasa asli Kitab Suci (Perjanjian Lama) tetapi tidak membaca nama ilahi itu. Karena itu, kita dapat menerjemahkan nama Yahwe itu dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang dicontohkan oleh para penerjemah Alkitab dalam bahasa Yu-nani (Septuaginta) yang kemudian diikuti oleh rasul-rasul yang menulis Per-janjian Baru.
    Catatan Penutup
    Dari beberapa traktat dan publikasi yang diterbitkan kelompok baru “yang lebih Yahudi ketimbang orang Yahudi” ini, jelas sekali bahwa mereka menafsirkan Kitab Suci sangat harfiah, ayat demi ayat, tanpa melihat konteks dan sejarah teks-teks Alkitab. Kesan lain yang juga saya tangkap, para penganut “madzab baru” ini biasanya sangat fanatik, dan dalam membahas tema ini mereka sudah mempunyai kesimpulan dulu.

    salam dari rekan belajar anda,
    benny gunawan

  • PASARIBU TP says:

    Shalom Pak Benny,
    Saya begitu terinspirasi akan pemaparan Bapak yang begitu padat dan syarat dengan bobot .
    Saya tambahkan sedikit tentang makna yang terkandung dalam sebuah nama / penamaan.
    Ada suatu hal penting yang anda lupakan tentang aspek hukum/kuasa yang terkandung dan melekat dalam suatu nama/penamaan.
    Ketika seseorang ataupun suatu lembaga memberikan kuasa kepada pihak lain (seseorang atau lembaga )maka seluruh keterangan dalam surat kuasa dimaksud ( terutama nama pemberi kuasa ) haruslah ditulis “dikutip” dengan benar , otentik serta dapat dibuktikan kesahihannya secara hukum, sebab jika tidak maka surat / kuasa tersebut tidak mempunyai nilai apa-apa lagi.
    Hal lain yang anda lupakan ( kelihatannya anda sengaja tidak mengutip dengan lengkap)perkataan “TUHAN” kepada Musa ” di dalam Kel.3:15 ,” Itulah namaKu untuk selama-lamanya dan itulah sebutanKu turun temurun .”
    “Yesus” berulangkali mengatakan tentang kuasa dan otoritas yang ada didalam namaNya.
    Saya orang Batak dan bahasa yang saya pergunakan sehari-hari untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia tetapi saya tidak pernah memanggil bapa dan ibu saya dengan panggilan dalam bahasa indonesia (bapa/ayah,ibu/bunda)saya memanggil mereka dengan sebutan Among/Inong (panggilan dalam bahasa Batak).Maka ketika dijaman “Yesus” orang-orang Jahudi berkomunikasi dengan bahasa Aram tidak berarti secara otomatis Yesus memanggil YHWH ( BapaNya dan Bapa kita )dengan panggilan dalam bahasa Aram.
    Maka pada pemahaman saya ketika “YHWH” memberitahukan namaNya kepada Musa ( nama yang sebelumnya belum pernah disampaikan kepada Abraham, Ishak dan Yakub),dan juga ketika “Yesus” berulang kali menyampaikan tentang kuasa/otoritas yang ada didalam namaNya ,berarti Nama itu (Bapa dan AnakNya )haruslah ditulis serta disebut dengan otentik supaya sah secara hukum/firman ( bukankah segala FirmanNya adalah merupakan Hukum dan Ketetapan yang kekal ?? )maka siapapun yang mengubah itu (apalagi dengan sengaja padahal sudah mengetahui namaNya sebagai mana yang difirmankanNya )bagi saya itu = …..,
    Satu pertanyaan saya terakhir yang tidak perlu dijawab cukup direnungkan bersama, ” Jika memang Allah adalah nama Bapa yang dipanggil oleh Yesus (seorang Bapa yang karena kasihNya rela mengorbankan AnakNya untuk keselamatan manusia ), bagaimana mungkin ada kelompok orang sambil menghunus pedang/golok/serta meledakkan bom serta berteriak “Allah Maha Besar….,,Allahuakbar…,”membakari tempat-tempat ibadah serta menganiaya bahkan memb…orang-orang pengikut AnakNYa itu ????
    Saudaraku yang terkasih dalam Yesus Kristus, marilah kita dengan segala kerendahan hati serta mengosongkan diri kita untuk dipimpin oleh Roh Kudus,sebab hanya dengan tuntunan dan bimbinganNyalah kita dapat sampai kedalam segala kebenaran.
    Amen, Yeshua Hamasiah Bless Us , all.

  • Benny Gunawan says:

    Yang terkasih Bp. PASARIBU TP.

    Shalom Leka saudaraku.
    Terima kasih Pak Pasaribu, atas perkenan Bapak menanggapi notes saya diatas dan mohon maaf dengan segala kerendahan hati saya ketika notes tersebut mencerminkan suatu aroganisme yang menyudutkan sekte2 tertentu.
    Saya menyadari dan juga saya gumulkan ketika saya akan menulis notes tersebut, karena akan menjadi kontroversi tersendiri, tetapi apa yang saya tulis tidak ada maksud untuk membenarkan diri saya apalagi untuk bermegah, saya ingin mengajak kita semua untuk berpikir (toh kita juga diberi hikmat oleh Allah), mendalami, memahami dan belajar secara benar tentang ke kristenan. Karena saya melihat begitu banyak orang beriman ketika berhadapan dengan agama lain (terutama sepupu kita)hanya bisa menjawab seperti apa yang diterima/dipelajari dalam ketekisasi maupun bible2 studi, saya ingin mengajak kita semua untuk belajar secara kontekstual sejarah, karena saya menganggap konteks sejarah tidak dapat dilepaskan dari apologetika umat kristen.

    Dalam notes bapak disinggung tentang Keluaran 3:15……sebenarnya sudah saya jelaskan diatas bahwasannya Yesus sebagaimana bangsa yahudi yang lain sangat sangat menghormati YHWH sehingga Yesus pun tidak berani menyebut YHWH (Yahwe) secara terang2an.
    Saya ambil contoh dalam doa yahudi “Adon ha’olam”…..We hu hayah, we hu howeh, we hu yihyeh, le tif’arah…
    artinya….Dia yang sudah ada, yang ada, dan sang akan ada, yang kekuasaan-Nya kekal selamanya. Dalam penulisan kaligrafinya, tetagramaton (YHWH) memang ada, dan dalam naskah ibrani manapun termasuk kitab Perjanjian baru dalam bahasa ibrani modern selalu ada tetragramaton (YHWH) dan orang yahudi membacanya dengan “Sang Nama” (HaShem) atau “Tuhan” (Adonay)(1). Apabila dalam teks2 bahasa lain “nama ilahi” dalam bahasa ibrani itu dipertahankan maka sebagaimana notes bapak “aspek hukum/kuasa yang terkandung dan melekat dalam suatu nama/penamaan” bisa menjadi bukti dan bisa diterima….
    bahkan berbagai terjemahan kuno alkitab yang berasal dari masa pasca rasuli pun tidak terdapat penyebutan secara vocal YHWH (Yahwe).

    Ke kristenan itu memiliki 5000 manuskrip asli Perjanjian baru dan “nama ilahi” dalam bahasa ibrani itu diterjemahkan dengan Kyrios (Tuhan). Salah satu fragmen papyrus injil yohanes yang berasal dari tahun 120 M, yaitu P52 (John Rylands), P46 (190 M) yang memuat surat ibrani dan surat2 paulus sampai 1 Tesalonika, P66 (200 M) yang berisi injil yohanes, demikian juga “Kanon Muratori” (175 M) yang menerjemahkan kutipan Perjanjian Lama yang memuat “nama yehuwa” menjadi Kyros.(2)

    Apakah para rasul-rasul Yesus dan bapa2 suci gereja lupa memuat nama “Yehuwa”?, apakah para rasul-rasul Yesus dan bapa2 suci gereja dengan sengaja menghapus/menghilangkan nama “Yehuwa”?, Apakah gereja2 masakini/modern menyembah Allah yang salah?

    Kesimpulannya…..mari kita renungkan secara pribadi dalam bimbingan Roh Kudus.

    Al-Majdu lil Abi wa al-Ibni wa ar-Ruh al-Quddusi, Al-Ana wa kullu Awanin wa ila dahdri ad-duhur, Amin. (3)
    Segala kemuliaan bagi Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, sekarang dan selalu, serta sepanjang segala masa, Amin

    Salam dari rekan belajar anda
    Benny gunawan

    Sumber :
    1.Rabbi Nossom Scherman – Rabbi Meir Zlotowits (ed.),Loc. Cit. Lih: Rabbi Avi Gold (ed.), The Complete Mahazar Pesah (Brooklin, NY: The Mesorah Publication, Ltd., 1996) hal. 61-62
    2.Akses Google “John Raylands
    3.Baba Shenouda III (ed.), Al-Quddasat al-Qibthiyyat – Al-Khulagi Al-Muqaddas (Cairo: Maktabah al-mahabbah, 2004), hal. 95-96
    4.Bambang Noorsena: Pengajian Injil, Beith Ha Midrash – Malang

  • Y'Shua follower says:

    Shalom alekhem,
    Yang paling aman dan pantas pakailah kata Tuhan,Elohim dan Y’shua ( Yeshua)…..jadi tidak ada yang keberatan.
    Alasan saya :
    -Tuhan bersifat umum karena bisa dipakai oleh semua golongan manusia di Indonesia bukan hanya golongan tertentu.
    Sila ke satu : Ketuhanan yang Maha Esa , bukan ?
    Memakai nama YHWH bisa membuat marah orang Yahudi juga !
    Kalau kita panggil nama YHWH dengan tidak kudus/benar,malah bisa-bisa kita kena hukuman Tuhan.
    -Elohim memang kata aslinya(kata yang seharusnya ) sebelum diterjemahkan jadi Allah. Daripada memakai Allah yang sekarang sudah jadi “trademark”nya orang Islam yang bisa jadi sumber keributan seperti yang terjadi di Malaysia
    -Yeshua (Yahushua)adalah nama Ibrani (nama asli) dari Sang Mesias karena Dia lahir sebagai orang Yahudi. Dalam nama Yeshua (Y’shua) ada keselamatan ,memang itulah arti dari kata “yeshua”. Memakai Yesus boleh-boleh saja, tapi tidak seakurat/sebaik Yeshua ( Yahushua )
    Demikian saran saya secara singkat
    Yeshua bless us !

  • Y'Shua follower says:

    Sedikit tambahan ,
    Sebelum kata “Allah” jadi “trademark/milik” kaum Muslim, kata tersebut bersifat “netral”, namun sekarang tidak netral lagi.Demikian juga dengan “Baal”, yg artinya “tuan”, suami bisa disebut “baal”, tetapi setelah kita tahu bahwa “Baal” sudah menjadi “trademark” nama berhala, maka kita jadi anti terhadap “baal”.
    Jadi kita harus melihat situasi dan kondisi (SIKON) !
    Semua yang “berbau” berhala/paganisme memang harus dijauhi !

    Salah satu kebaikan Nama BAPA tidak jelas bagi umat manusia dan tidak ada kepastian utk disebut, adalah supaya kita terus bertanya kepada DIA dan tetap berhubungan (punya relationship) yang
    semakin lama semakin intim……sampai DIA membukakan semua “RAHASIA” Nya kepada orang yang dekat dan mengasihi DIA.
    Baca : Yohanes 14:21; 17:6; Wahyu 3:12, 14:1 ,1 Kor 13:12
    Keputusan-keputusan yang kita ambil sekarang menjadi tanda/ciri siapa atau bagaimana kita kelak ….. Banyak tawaran tersedia untuk menjadi pilihan , semakin kita mengasihi kemurnian, kebenaran dan kekudusan…. (memiliki karakter Tuhan), semakin dewasa dan sempurnalah kita…..semakin baiklah pilihan kita di “mata” TUHAN!
    Amin.

  • Anton Liem says:

    O.K. saya sudah dengar semua, satu dengan yang lain saling menyalahkan. Kalau anda-anda semua yang tidak mau menyebut Nama Bapa yang benar yaitu Yahweh, dari pada salah alamat dalam Doa kita, katakan saja Bapa kami didalam Sorga . . beres kan. Sudah pasti doa anda tidak akan salah alamat, karena Bapa kita adanya disana. Adakah tuhan yang lain yang berkata dialah yang bersemayam diSorga ?Hanya Bapa Yahweh sajalah yang bersemayam didalan Sorga itu.
    Untuk nama Yahweh, anda juga bisam melihat di Alkitab LAI, dikamus Alkitab, tepatnya cari kata TUHAN. Siapa Dia itu ? Yahweh.
    Tuhan Yesus memberkati anda-anda semua.

  • Raja Sumurung says:

    Aku sih sederhana aja, Agama Kristen kan Agama yang monoteistik atawa menyembah satu Tuhan….Jadi Nama sembahannyapun juga satu dong bro. Aku hanya menyembah Tuhan Yesus Kristus, nama yang ajaib, nama diatas segala nama…dan pada akhirnya semua lidah akan mengaku Yesus Tuhan (Filipi 2:9) Demikian bro…Shalom

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*