suplemenGKI.com

Dalam edisi yang lalu kita telah mengenal  3 rumusan pengakuan iman yang diakui GKI yaitu Pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel dan Pengakuan Iman Athanasius. Inti ketiga rumusan tersebut adalah ajaran tentang Allah Tritunggal (Trinitas).  Lahirnya rumusan pengakuan iman tersebut sebenarnya merupakan tanggapan gereja atas  kontroversi ajaran Trinitas. Di jaman ini  masih adakah kontroversi ajaran Trinitas?  Anda tertarik untuk memahaminya? Ambil dan Bacalah!

Pada suatu senja, terlihat seorang pemuda sedang duduk santai  dan berbincang-bincang bersama pendetanya di beranda pastori.  Apa yang mereka perbincangkan?

Pemuda:          Pak Pendeta, selama ini kita memahami bahwa ALLAH yang kita imani adalah Allah Tritunggal. Sepengetahuan saya, ajaran tentang Allah Tritunggal (Trinitas) merupakan tanggapan terhadap ajaran yang sedang berkembang pada jamannya.

Pendeta: Ya benar, pengakuan iman tentang Allah Tritunggal (Trinitas) lahir dalam konteks perdebatan untuk menanggapi  ajaran  Arius, seorang pemimpin gereja dari  Alexandria. Arius  mengajarkan bahwa Yesus hanyalah mirip atau menyerupai Allah, namun bukan Allah. Arius memakai sebuah istilah teologis yang menjelaskan ajarannya yaitu “homoios” yang artinya: esensi ilahi yang mirip atau serupa.  Homoios menyatakan bahwa Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus tidaklah setara dan sama. Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memiliki wujud dan kedudukan yang tidak serupa.  Ajaran dari Arius pada prinsipnya mempersoalkan keilahian Yesus dengan relasiNya dengan Allah.  Konsili di Nicea tahun 325 dan 381, serta  pengakuan iman Athanasius sekitar tahun 500 menanggapi ajaran Arius dengan merumuskan ajaran Trinitas. Istilah yang dipakai adalah “homoousios” dari bahasa Yunani yang berarti Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memiliki esensi ilahi yang sama.

Pemuda: Jika demikian, benarkah klaim kaum unitarian (Anti  Trinitas) bahwa istilah Allah Tritunggal (Trinitas) tidak Alkitabiah? Lalu apa yang mendasari ajaran Trinitas?

Pendeta:          Istilah “Trinitas” sesungguhnya mulai diterapkan dalam ajaran gereja sebagai suatu refleksi ajaran gereja. Untuk lebih jelasnya mari kita memperhatikan benang merah sejarah pembentukan  doktrin Trinitas: (disarikan dari tulisan Pdt Hendri M Sendjaja )

1. Dimulai dari Paham Allah Israel

Orang Israel di jaman PL memahami dan menghayati Allah sebagai “Yang Transenden dan Imanen”. ALLAH yang transenden adalah ALLAH Maha Tinggi yang kehadiran-Nya tidak dapat tertampung apa pun di jagat raya ini,  juga tidak dapat dikurung oleh waktu. DIA tak terbatas. Kategori utama dalam PL yang menyatakan transendensi Allah adalah kesadaran akan kekudusan. Kekudusan adalah kekhasan hakikat Allah yang membedakan Dia dari segala sesuatu yang ada di dunia. Sedangkan Allah Yang Imanen adalah gambaran Allah yang hadir di dalam kehidupan manusia ini. Allah Yang Imanen adalah Allah yang terlibat di dalam sejarah kehidupan ciptaan-Nya. Kategori utama dalam PL yang menyatakan imanensi Allah adalah kesadaran akan kedekatan. Kedekatan ini dirasakan orang Israel melalui sejarah kehidupan mereka.

2. Dipertajam oleh Kesaksian Hidup dan Karya Yesus

Sejarah bangsa Israel dalam Kitab Suci penuh dengan tragedi dan penderitaan. Dalam masa tragis dan sengsara tersebut, di Israel berkembang apa yang dinamakan tradisi apokaliptik. Secara sederhana, tradisi ini menggambarkan pertentangan antara kekuatan yang jahat dan yang baik, antara gelap dan terang. Penggambaran realitas yang cenderung dualisme ini mengisyaratkan suatu jeritan pengharapan umat akan Allah Yang Transenden dan Imanen. Umat berharap, Allah Yang Transenden dan Imanen itu mau membebaskan mereka dari tragedi dan penderitaan. Pengharapan umat secara konkret adalah berupa “kedatangan seorang Raja Damai.” Raja ini diharapkan mampu membebaskan umat dan membawa umat ke dalam keselamatan atau shalom. Ia disebut sebagai antara lain: Mesias, Anak Manusia, Anak Daud, Anak Allah.

Pengharapan akan Mesias terus berlangsung sampai pada zaman Yesus. Ini bisa dipahami lantaran pada masa Yesus, Israel tetap di bawah penaklukan dan penjajahan Romawi. Tampaknya pengharapan akan Mesias berkembang ke arah hal-hal politis (yang bersifat partikular), yakni pengharapan akan kehadiran “tokoh” yang mampu memulihkan Israel. Yesus adalah salah seorang yang pada gilirannya dianggap sebagai Mesias, paling tidak oleh para murid-Nya. Awalnya Yesus dianggap sebagai Mesias dalam pengertian partikular untuk bangsa Israel (lihat: Mat 20:2-28//Mrk 10:35-45; Kis 1:6). Hal ini bisa dipahami karena Yesus memang berjuang untuk kedamaian bangsanya melalui khotbah-khotbah, perbuatan-perbuatan ajaib (mujizat), dan juga proklamasi penentangan apapun bentuk penindasan yang melahirkan penderitaan, baik yang dilakukan oleh pelaku dan institusi pemerintah maupun pelaku dan institusi keagamaan. Tidak jarang Yesus pun menyatakan diri-Nya sebagai pemenuhan kabar baik Kerajaan Allah (bdk. Luk 4:18-21; Mat 11:2-6//Luk 7:18-23). Pada perkembangan kemudian Yesus pun dianggap sebagai Mesias dalam pengertian universal untuk dunia (Yoh 3:16). Pergeseran anggapan ini merupakan hasil dari perenungan (refleksi) para murid atas hidup dan karya Yesus. Dalam hal ini, Yesus menjadi Kristus (Khristos, bhs. Yunani: ‘Yang Diurapi’). “Pemberita Injil Kerajaan Allah” itu telah menjadi “Yang Diberitakan”. Di dalam Yesus Kristus, Allah telah menyatakan diri-Nya, telah melawat umat-Nya (Luk 7:16; 19:44). Sejak pergeseran anggapan tentang Yesus tersebut, orang-orang yang disebut Khristianoi atau Kristen (Kristiani) merumuskan pengakuan imannya: “Yesus Kristus adalah Tuhan.” (Flp 2:11; 1Kor 12:3) Inilah pengakuan iman Kristiani yang mula-mula. Bagi Paulus, pengakuan iman ini dimungkinkan karena pekerjaan Roh Allah saja (1Kor 12:3). Dari sini kita melihat bagaimana refleksi umat Kristiani sampai kepada pengakuan akan ke-Tuhanan Yesus Kristus dan pengakuan akan pekerjaan Roh Allah atau Roh Kudus. Lebih lanjut Paulus menyatakan imannya demikian: “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan.” (Kol 2:9) Maka berkembanglah Kristologi pemahaman ke-Allahan di dalam diri Yesus Kristus. Penulis Injil Yohanes kemudian mengungkapkan “Kristologi dari atas”, yang mana Yesus Kristus dipahami sebagai Firman Allah yang telah menjadi manusia, sebagai penyataan Allah di dunia (Yoh 1:1, 14, 18). Bagi Penulis Yohanes, hubungan antara Yesus Kristus dan Allah itu satu: “Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku; dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku.” (Yoh 12:44-45) “Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu.” (Yoh 17:22). Perihal keterkaitan dengan Roh Kudus, bagi Penulis Yohanes, Roh Kudus itu adalah Penolong lain, Penghibur (Yunani: Parakletos) yang dijanjikan Yesus Kristus. Roh Kudus dinyatakan sebagai Roh Kebenaran yang akan menyertai dan tinggal di dalam para pengikut Kristus. (Yoh 14:15-26)

Pada perkembangan selanjutnya, Gereja mula-mula mulai memasukkan rumusan liturgis yang menyatakan pengakuan iman akan Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus (2Kor 13:13; Mat 28:19). Kemudian Penulis 1Yohanes (5:7) menegaskan sebagai berikut: “Sebab ada tiga yang memberi kesaksian [di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus dan ketiganya adalah satu...]”

3. Diperdebatkan oleh Orang Yahudi

Sekitar pertengahan abad kedua, Justinus, menulis buku yang mengungkapkan keberatan  orang Yahudi terhadap iman Kristen. Orang-orang Kristiani dipandang mengkhianati iman para nabi akan Allah Yang Esa; dicap sebagai pengkhianat monoteis Israel.

4. Dirumuskan oleh Bapa-Bapa Gereja

Berbagai upaya dilakukan oleh Bapa-Bapa Gereja menghadapi keberatan-keberatan yang diajukan oleh kalangan Yahudi. Akibatnya, argumen-argumen tentang Allah Tritunggal beragam dan mengundang perdebatan-perdebatan yang lain. Sebagai contoh: Justinus memahami Allah Tritunggal secara subordinasianis: Anak dan Roh bergantung dari Bapa; Anak melaksanakan tugas perutusan yang diberikan oleh Bapa; Roh menyelesaikan tugas Anak. Selain Justinus, Origenes dan Arius dapat digolongkan sebagai penganut subordinasianisme.

Ada suatu kelompok Kristiani mula-mula yang sangat prihatin akan keesaan Allah. Mereka berharap keesaan Allah tidak dikhianati oleh pengakuan iman Kristiani. Oleh karena itu mereka berusaha mencari jalan, bagaimana hubungan khusus Yesus dengan Allah bisa dipikirkan tanpa membahayakan keesaan absolut Allah. Dua macam jawaban yang mereka ajukan – itulah sebabnya kemudian mereka dibagi atas dua golongan.

Golongan pertama adalah monarkianisme dinamis. Golongan ini berpendapat bahwa Yesus merupakan manusia biasa, tetapi Allah melengkapi-Nya dengan suatu kekuatan (dunamis) istimewa. Pelengkapan itu terjadi pada peristiwa pembaptisan Yesus di Sungai Yordan, atau ketika Yesus ditinggikan Allah dalam peristiwa kebangkitan. Jadi, Yesus hanya diangkat sebagai Anak Allah, tanpa sungguh sebagai Allah. Karena ada proses pengangkatan (adopsi), maka golongan ini pun dikenal dengan sebutan adopsianisme. Pada tahun 269, paham seperti ini ditolak oleh sebuah sinode di Antiokhia.

Golongan kedua adalah monarkianisme modalis (kata Latin modus berarti ‘cara’). Menurut golongan ini, Yesus adalah suatu cara Allah menyatakan diri. Sambil mau mempertahankan keesaan absolut Allah, golongan ini meyakini bahwa Yesus sungguh-sungguh Allah, karena hanya sebagai Allah, Ia bisa menyelamatkan dunia. Golongan ini mengajarkan bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus hanya merupakan nama atau cara penampakan yang berbeda dari Allah yang sama.

Di atas dikatakan, Arius termasuk penganut subordinasianisme.  Arius menyangkali keilahian Yesus Kristus. Pertentangan hebat pun timbul di dalam Gereja gara-gara paham Arianisme ini.  Oleh karena itu pada tahun 325 diadakan Konsili Nicea memutuskan batas-batas paham Allah Tritunggal. Melawan segala godaan triteisme, Konsili menegaskan keesaan absolut Allah. Terhadap subordinasianisme, Konsili menegaskan keilahian yang benar dari Anak (Yesus Kristus).

Pemuda: Apakah di masa kini masih ada kelompok Kekristenan yang menolak ajaran Trinitas?

Pendeta :         Pandangan Arius di Indonesia tampak mewarnai ajaran dari Saksi Yehova yang menyatakan bahwa Allah Bapa dan Putera Allah adalah dua pribadi dan Roh yang secara hakiki berbeda dan terpisah satu sama lain. Allah Bapa, Jehova, sang Pencipta lebih tinggi dari sang Putera. Dalam hal ini Yesus Kristus adalah hanyalah saksi dan pelayan utama dari Jehova. Selain saksi Yehova,  masih ada pula kelompok penganut pandangan unitarianisme yang menyebut diri di Indonesia sebagai Kristen Tauhid.

Pemuda: Jika kontroversi masih terus terjadi, lalu bagaimana menjelaskan secara sederhana tentang hubungan Bapa, Anak dan Roh Kudus  dalam  keesaan ALLAH Tritunggal?

Pendeta: Bapa, Anak  (Yesus Kristus ) dan Roh Kudus adalah sebutan bukan dalam hubungan dengan Allah sendiri namun dalam hubungan dengan manusia. Dalam hubungannya dengan manusia, Allah disebut Bapa karena Ia-lah yang mengasihi, memelihara dan melindungi umat-Nya. Dalam hubungannya dengan manusia Alalh disebut sebagai Yesus Kristus karena Ia-lah  yang menyelamatkan umat manusia melalui status dan karya-Nya sebagai Mesias  yang menyerahkan diri-Nya dalam penderitaan dan kematian-Nya. Dalam hubungan-Nya dengan manusia, Allah disebut Roh Kudus, karena Ia-lah yang hadir dalam  hidup umat dan gereja-Nya, untuk menguduskannya sehingga keselamatan itu menjadi bagian dari hidup umat-Nya. Jadi Bapa,  Yesus Kristus dan Roh Kudus adalah realitas yang sama.  Dengan demikian Allah kita adalah Allah yang esa.

Pemuda: Jadi apa kesimpulan yang perlu ditegaskan dari kontroversi ajaran Trinitas?

Pendeta: Inilah seharusnya yang menjadi kesadaran kita bahwa “yang terbatas tidak mampu menampung Yang Tak Terbatas”. Allah senantiasa lebih besar daripada setiap konsep dan gambaran yang dapat dibuat oleh manusia. Akal manusia tidak dapat menjangkau realitas Allah secara sempurna dan tuntas. Bahasa manusia pun terbatas untuk mengungkapkan Dia, tidak dapat menampung realitas-Nya.

——————————————–

Sumber:

1.       www.yohanesbm.com, Pengantar Ajaran  tentang Trinitas.

2.       Budyanto, Mempertimbangkan Ulang Ajaran tentang Trinitas, Yogyakarta, TPK, 2001

3.       http://teologikristiani.blogspot.com/2008/07/doktrin-trinitas-suatu-pemahaman.html

“Ambil dan Bacalah” Edisi ke-40  Juli  Tahun 2010
G K I  R e s i d e n  S u d i r m a n  S u r a b a y a

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

1 Comment for this entry

  • Andre says:

    Katanya kita diciptakan segambar dengan Rupa Allah ( kej 1 )
    Kalau Ada gambarnya berarti ada aslinya
    Gambar ngikut aslinya ya?
    Dalam Yesus pasti Ada jawaban

    Trims

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*